Dear my lovely readers: terima kasih sudah membaca cerita yang kubuat. Special thanks buat vote yang diberikan. Semoga kalian suka ceritanya, bisa jadi mood booster dan ada hikmah yang bisa diambil dari setiap chapternya..
______________________________________
Mangkok bakso di hadapan kami tinggal kuahnya. Tapi Radit masih menyeruput kuah itu sampai tandas. Tiba-tiba dia menggenggam tanganku. Membuat aliran darahku berhenti. Dia berbicara serius. Sangat serius.
"Ada hal yang mungkin tak kau ketahui tentang aku dan Vano." Pastinya. Aku bahkan tak mengenalmu sebelumnya. Sekeras apapun aku mengingatmu, tetap tak ingat. "Mantan istri Vano adalah Serena... Dan kami dulu sempat berseteru karena seorang wanita."
Hah?????
Serena lagi Serena lagi. Kenapa akhir-akhir ini nama itu menghantui hidupku? Kalau tadi aliran darahku berhenti, kini bergolak. Radit berseteru dengan sahabatnya demi Serena? Jadi itu alasan Radit dan Serena ngobrol akrab sewaktu di reuni. Karena Serena sudah bercerai dengan suaminya. Mereka mengenang masa-masa indah sewaktu SMA. Tapi bukankah Radit pernah cerita kalau dia menyukaiku setahun penuh? Mana yang benar? Mana yang harus kupercaya? Apakah semua ceritanya kemarin hanya fiktif belaka? Setelah membuatku melambung kini dia menjatuhkanku. Atau dia hanya ingin membuatku mencintainya dengan cerita palsu?
Berbagai pikiran aneh merayap di otakku. Menguji kewarasannya. Kutahan benar agar kali ini aku tidak mengeluarkan air mata.
"Sebenarnya apa maumu sih Mas? Kenapa kamu permainkan perasaanku?" Tanyaku setengah terisak padahal sudah kutahan sekuat hati.
"Permainkan bagaimana?" Radit malah balik tanya. Masa sih dia tak sadar. Nyebelin banget. Apa laki-laki selalu begitu?
"Kamu buat hatiku melambung tapi detik berikutnya membuat hatiku hancur." Radit malah mengerjapkan mata berkali-kali.
"Yang bagian mana?" Dia masih tak mengerti juga? Benar-benar laki-laki ini.
"Katanya kamu menyukaiku sejak aku masuk SMA, sekarang kamu cerita kalau kamu rebutan Serena dengan Vano. Mana yang benar?"
"Yang bilang aku sama Vano rebutan Serena itu siapa?"
"Lha itu tadi, katanya kamu berseteru sama Vano soal wanita. Ihhhh...gimana sih?" Aku menghentak-hentakkan kaki saking kesalnya.
"Lho, aku kan bilangnya berseteru sama Vano soal wanita. Bukan soal Serena."
"Trus kenapa kamu bawa-bawa nama Serena?"
"Astaghfirullah, ni bocah pengen kucubit sekalian." Radit menggertakkan gigi seraya memencet hidungku keras hingga memerah.
"Aduuuuhhhh!!!! Apaan sih Mas?!" Seruku sembari mengelus ujung hidungku yang sakit.
"Makanya kalau ada orang ngomong itu dengerin dulu sampai tuntas. Jangan motong melulu. Kebiasaan deh. Kucium baru tahu rasa kamu!" Aku melotot mendengar ucapannya. Momen romantis yang tadi sempat muncul berubah menjadi perang.
"Iya, iya. Aku dengerin. Awas kalau ngga jelas!" Ancamku. Radit mencibir, tampak menahan diri untuk tidak menenggelamkanku ke Samudra Atlantik.
"Aku dan Vano itu berseteru bukan karena Serena, sayang..."
"Tuh, kan. Serena sayang. Pake sayang lagi nyebut Serenanya." Potongku cepat. Radit menarik napas kemudian mengacak-acak kepalaku yang tertutup jilbab.
"Sekali lagi kamu motong ucapanku, kamu ngga bakalan selamat malam ini."
"Mau ngapain?"
"Mau dihukum lah. Bayangkan saja apa yang akan dilakukan suami pada istrinya!"
"Eh, kita punya perjanjian..."
KAMU SEDANG MEMBACA
Mr. Workaholic
RomansaKetika hidupmu terikat oleh ikatan yang tak kamu inginkan. Mengubah benci menjadi cinta, ambisi menjadi pengertian "Buat dia mencintaimu," pesan ayah kepada Raditya, si robot pekerja. Lalu... Lalu silakan dibaca,.😊😊 Alur cerita ringan tanpa drama...
