Dua Puluh Empat

6 3 0
                                        

"Berusaha melupakannya adalah bukti, kalau dia benar-benar sangat  penting dalam hidupmu. Karena, Tak butuh usaha untuk melupakan seseorang yang tak penting."

~Anonim

 ***

Selang beberapa menit, Rama, Ferdi, dan Raga telah sampai di rumah sakit Harapan. Dan langsung berlarian menuju ke ruang UGD.

Di sana, mereka melihat seorang pria paruh baya yang nampak duduk dengan kedua tangannya ditautkan.

"Permisi pak, apakah anda yang sudah menemukan teman saya?" Tanya Rama yang masih penasaran akan kejadian yang menimpa Lana.

"Iya nak, saya sedang mengecek kebun saya, lalu saya melihat seperti ada sebuah ponsel tergeletak, fikiran saya mulai tak enak, jadi saya mencoba mengecek ke sekeliling kebun saya, hingga saya menemukan teman anda, yang tertutup semak. keadaannya sangat mengenaskan, kalau menurut saya dia korban pengeroyokan. kepalanya terus mengeluarkan darah. saya sampai kelabakan sendiri bawa dia kesini, nak! Untung saya bawa mobil pick-up"

"Pe..pengeroyokan?" Tanya Raga tak percaya.

"Iya Nak, soalnya banyak luka memar-memarnya."

Rama, Ferdi dan Raga sama-sama mengusap wajahnya kasar. 'Siapa yang berani mengeroyok Lana sampai dia sekarat seperti ini? Bukankah harusnya Lana tak memiliki masalah dengan siapa-siapa?'

Selang beberapa jam, seorang dokter baru keluar dari UGD dengan wajah yang nampak tak baik-baik saja.

"Bagaimana keadaan teman saya dok?"

"Saya perlu bicara dengan walinya, karena ada hal penting yang harus saya sampaikan" Ujar Dokter itu serius.

"Saya walinya dok, saya yang dipasrahkan orang tuanya untuk menjaganya" Ujar Ferdi serius.

"Kalau begitu, mari ikut saya sebentar"

Diruangan dokter tersebut, Pak Dokter tersebut menjelaskan pada Ferdi, bahwa luka yang dimiliki Lana sangat parah, terutama dikepalanya karena sempat membentur sesuatu yang keras sampe tempurung kepalanga retak, ditambah lagi, dengan beberapa tulangnya yang retak, tulang kakinya juga ada yang patah. Kemungkinan Lana untuk sadar sangat minim, karena dia saat dibawa ke rumah sakit keadaannya sudah hampir tak tertolong dan sudah kehabisan banyak darah. Ferdi benar-benar shock mendengarkan penjelasan dokter tersebut.

"Apa dia benar-benar tak memiliki kesempatan untuk sembuh dok?"

"Kami akan berusaha semaksimal mungkin. sekarang keadaannya masih kritis. Kemungkinan besar dia bisa saja terkena gegar otak berat,  Atau lebih parah dari itu. anda hanya perlu berdo'a, karena semua keputusan ada ditangan Yang Maha Kuasa."

"Baik Pak, terima kasih"

Ferdi keluar ruang dokter dengan wajah kusut, Rama dan Raga yang menunggunya diluar ruangan itu dapat membaca lewat ekspresi Ferdi, kalau Lana tidak baik-baik saja.

"Kita hanya perlu berdo'a untuk kesembuhannya, gue yakin Lana orang yang kuat" Hibur Raga, setelah Ferdi menjelaskan apa yang dijelaskan Dokter padanya.

"Tapi, Bang! apa salah dia Bang sampai dikeroyok kayak gitu? setau gue dia bukan tipe orang yang nyari gara-gara, kalo nggak ada yang ngawalin duluan!" Jelas Ferdi dengan emosi.

"Mungkin itu ulah preman, cobalah buat posthink Fer!" Hibur Rama dengan menepuk pundak Ferdi.

Kemudian mereka mencoba, melihat Lana yang kini berada diruang ICU, ada banyak alat penyambung hidup yang mengelilinginya. Mereka melihatnya dengan wajah sendu.

TRUST (Between Us) [Complete]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang