Tiga Puluh

12 3 0
                                        

"Cinta itu buta, karena kita terkadang hanya melihat kebaikan, tanpa menyadari keburukannya yang suatu waktu akan menghancurkan segalanya"

~Anonim

***

Keesokan harinya...

Lana berangkat sekolah dengan wajah murung, dia teringat akan kejadian semalam saat dia menemukan Shella yang menangis sesenggukan di dalam sebuah club malam. Shella menangis terus dan menyatakan menyesal atas perbuatannya yang kelepasan mencium Lana, dan setelah itu dia menemani Shella minum orange juice disana.

Lana merasa menyesal karena telah membuat Shella menangis. Dia berniat meminta maaf pada Shella, namun ditengah perjalanannya menuju kelas Shella, Lana merasa penasaran akan orang yang berkerubung di depan mading. Dia menerobos memasuki kerumunan orang tersebut, tak memperdulikan tatapan aneh orang-orang yang ada disekitarnya.

Bagai tersambar petir di pagi buta, Lana benar-benar shock melihat apa yang terpampang di mading sekolah tersebut. Nampak banyak fotonya saat Lana dalam keadaan bertelanjang dada tidur di ranjang bersama Shella. Hal yang membuatnya makin shock saat ada foto dia memeluk Shella sangat posesif sampai ekspresi Shella terlihat takut dan berkaca-kaca. Ada pula fotonya yang tengah dicium Shella ditaman kota kemarin lusa. Namun difoto itu lebih terlihat seakan Lana yang mencium Shella disaat Lana mencoba melepas ciuman Shella.

"Heh, Lan? Gimana rasanya abis ML? Enak nggak?" Seru seorang cowok berambut jabrik dengan terkekeh sinis.

Lana masih terdiam dengan tatapan kosong pada foto-foto tersebut dan tangan terkepal.

"Wuiihh! Gini ya kerjaannya Wakatos kalo malem? Good! good! Eh tapi, tuh si Shella kayaknya nggak nyaman amet ya? ato..jangan-jangan---" Ocehan cowok bertubuh gemuk itu terhenti saat dengan kerasnya Lana menonjok kaca penutup mading itu hingga serpihan kaca mading itu berhamburan ke lantai dan beberapa tetes darah menitik dari punggung tangan Lana yang gemetar dan terkepal makin erat menahan emosi.

"Pergi lo semua dari sini!" Usir Lana dengan suara bergetar. Namun anak-anak itu masih tetap berdiri. tak bergeming. Lana memejamkan matanya rapat-rapat. Kemudian membukanya kembali dengan tatapan yang bisa membuat siapapun yang melihatnya ngeri.

"GUE BILANG PERGI YA PERGI! LO SEMUA BUDEG HAH?!" Teriakan Lana tersebut akhirnya membubarkan orang yang mengerumuni mading. Lana menghembuskan nafasnya kasar.

Dia mencoba mengingat-ingat apa yang tadi malam telah terjadi, namun yang diingat hanyalah saat dia selesai minum orange juice yang dipesannya, dia merasakan kepalanya pusing dan tak ingat apa-apa, dan anehnya saat membuka mata dia dalam keadaan shirtless dan berada di sebuah kamar di rumah kosong.

'Apa ada orang yang sengaja njebak gue? Tapi siapa? Shella nggak mungkin ngelakuin itu! Pasti ada orang lain yang ngejebak gue!' Batin Lana frustasi.

Tak lama ada panggilan dari pengeras yang menyuruh Lana ke ruang Kepala Sekolah.

Dengan langkah berat, Lana berjalan menuju Ruang KepSek.

Sesampainya disana, sudah ada Shella yang nampak menangis dengan terus menundukkan kepalanya, dia duduk tepat dihadapan KepSek.

"Lana! Ibu benar-benar tidak habis fikir, kamu bisa melakukan hal sekeji itu pada Shella!" Bentak Ibu Lastri, Kepala Sekolah di situ.

"Pe..perbuatan apa Bu?" Tanya Lana tak mengerti.

"Setelah apa yang kamu lakukan, kamu masih bertanya APA?!" Bentak Bu Lastri lagi, yang membuat Lana menoleh kearah Shella yang tertunduk dengan meremas-remas ujung seragamnya.

TRUST (Between Us) [Complete]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang