Enam Belas

5 3 0
                                        


"Tanganku mungkin tak sampai menjangkau hatimu, tapi kupastikan untuk mampu menggapai tanganmu"

~Anonim

***

Di sisi lain..

Lana masuk sekolah lewat pintu belakang, beruntung tidak ada guru ataupun petugas OSIS yang keliling hingga dia berinisiatif berkelok ke toilet yang tak jauh dari taman belakang. Dan membasuh wajahnya beserta rambutnya.Usai itu dia berjalan santai menuju kelasnya yang ada dilantai dua. Dewi fortuna kembali memihak padanya disaat di kelasnya masih belum ada gurunya.

"Pak Ket dari mana aja lo?" Selidik seseorang yang duduk dibangku paling depan.

"Dari jalan-jalan! ke toilet." Alibi Lana dengan nyengir kuda.

"Ke toilet aja, lamanya kayak abis ke kos-an."

"Murus gue" Alasan Lana asal-asalan. dengan berjalan santai, dan duduk ditempatnya dengan santai pula.

"Gimana murusnya Pak Ket? Udah kelar?" Sindir Ferdi.

"Udah dong!" Sahut Lana mantap.

"Eh Fer? lo inget cewek tadi nggak?" Bisik Lana kemudian dengan wajah serius.

"Yang lo serempet dulu 'kan?" Tebak Ferdi, Lana mengangguk pelan.

"Iya, tapi anehnya dia nggak inget sama gue. Apa jangan-jangan dia abis kepentok bantal ya? sampe' amnesia gitu!" Pekik Lana panik.

Ferdi langsung menonyor kepala Lana, yang difikirnya, bicaranya sudah mulai ngelantur.

"Geblek lo! Mana ada orang kepentok bantal amnesia LANA!" Pekik Ferdi jengkel.

"Anjir! bisa lepas nih kepala lo tonyorin melulu!" Protes Lana dengan mengelus-elus kepalanya.

"Abis lo kalo ngomong ambyar amet! nggak ada saringannya!"

"Lo kata mulut gue apaan! harus pake' saringan segala!" Timpal Lana jutek.

Ferdi cuma bisa menghela nafas, heran kenapa dia bisa punya teman seajaib Lana.

***

Keesokan harinya..

Lana kembali berulah di stan milik Lina..

"Mbak" Panggil Lana pada Selly yang kini berjalan menuju ke mejanya.

"Iya, mau pesen apa ya?"

"mm.. pesen apa ya..?" Lana nampak sibuk memperhatikan menu yang ada dihadapannya.

Beberapa detik kemudian..

"Jadi pesen nggak nih?" Tanya Selly dengan tetap mencoba sabar.

"Mbak yang kemarin mana?"

"Lina maksud lo?"

"Yup!"

"Noh lagi nganterin pesanan." Tunjuk Selly pada Lina yang mengantarkan senampan minuman ke sebuah meja.

"Nama mbak siapa?"

"Selly. Lo jadi pesen apaan?" Kesabaran Selly mulai hampir habis.

"Ini ajalah mbak, sama coklat panas. susah nyebutinnya." Tunjuk Lana pada tulisan 'Coffe Cake'. 'yaelah gitu doang nggak bisa baca' batin Selly dengan geleng-geleng kepala.

Setelah menulis pesanan Lana, dia hendak beranjak. Tapi Ucapan Lana menghentikan langkahnya.

"Entar yang nganterin Mbak Lina aja ya mbak?"

"Iya.." Sahut Selly dengan menahan jengkel.

Lana dapat melihat Selly yang menghampiri Lina yang hendak mengantar pesanan. Saat bola mata mereka saling bertemu, Lana langsung menyunggingkan senyum lebarnya. 

Lina langsung membuang muka dari Lana dan menyerahkan senampan makanan ditangannya ke pada Selly.

selang beberapa detik, Lina telah mengantarkan pesanan Lana, dan menaruhnya diatas meja Lana.

"Thanks mbak"

"Ya" Sahut Lina malas, dengan hendak beranjak dari samping meja lana.

"mau kemana mbak?" cegah Lana.

"Ya ngelayanin pembeli lah! Lo pikir gue mau kosidahan disini!" Timpal Lina jutek.

"Ya kali aja 'kan? Sini deh mbak, gue mau cerita sama mbak!" Pinta Lana.

"Nggak!" Tolak Lina mentah-mentah.

"Gue bantuin jualan gimana?" Tawar Lana kemudian.

"Ogah!" Tolak Lina lagi dengan beranjak dari tempat berdirinya.

"Beneran nggak mau dibantuin?!" Teriak Lana saat Lina sudah ada di dapur stannya.

"OGAH!"

Lana nampak terkekeh geli dengan menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu menikmati Coffe cakenya dengan sesekali memperhatikan Lina yang mondar-mandir dengan nampan ditangannya. Sengaja atau tidak, Lana menarik lebar kedua sudut bibirnya.

Bahkan saat cake dan minumannya habis, Lana masih setia memandangi Lina dengan menopang dagu.

"Cantik juga! Sayang udah punya cowok! Kalo nggak, udah gue gebet kali tuh orang! Bodo ametlah! pokoknya gue harus deketin dia!" batin Lana dengan tiada hentinya mengikuti pergerakan Lina.

Hingga getaran di ponselnya, memaksanya untuk menghempaskan lamunan liarnya tersebut. Ternyata Ferdi yang menelpon.

"Ada apa Fer?" Tanya Lana to the point

"Sama Pak hardi, lo disuruh ambil buku LKS matematika di perpus."

"Oh, Ok!" Sahut Lana sebelum langsung memutus obrolan lebih dulu.

Usai membayar di kasir Lana langsung berjalan cepat menembus kerumunan orang di Bazaar tersebut.

Sesampainya di Perpustakaan, Lana mengambil buku LKS yang sudah disediakan Perpustakaan tersebut. dia membawa 30 buah LKS tersebut dengan kedua tangannya. beruntung LKS-nya tidak terlalu tebal.

Saat hendak naik lewat tangga, menuju lantai 2, ada yang menabraknya hingga buku itu berjatuhan ke lantai. Lana mengumpat dalam batinnya berkali-kali. Usai berdecak kesal, dia memunguti buku-buku itu dan menumpuknya kembali. Apesnya lagi, orang yang menabraknya cuma berdiri saja sambil menyedekapkan tangannya.

Lana kembali berdiri dan menatap tajam kearah pria tak bertanggung jawab tersebut.

"Ck! mana TJ lo abis nabrak orang? Hah?" Pekik Lana jengkel.

"Salah lo sendiri, kalo jalan nggak liat-liat!" Timpal pria itu enteng.

"Nggak liat PALA LO!" Bentak Lana yang emosinya mulai tersulut.

"Santai..Santai..Bro! Kenalin dulu, gue Alex, abangnya Shella." Kenal Alex dengan mengulurkan tangannya.

"Lana" Sahut Lana malas, dengan menyalami tangan Alex meskipun dengan setengah hati, kemudian dia mengangkat tumpukan buku itu kembali. Dan membopongnya.

"Gue nggak suka lo deket-deket sama Shella. Awas aja kalo sampe lo nyakitin dia. Gue nggak segan-segan bakalan ngabisin lo" Bisik Alex, tepat ditelinga Lana yang melewatinya.

Tak ada ekspresi takut dalam raut wajah Lana, dia cuma menghela nafas. 

"Percuma ngurusin orang macem dia" Gumam batin Lana dengan berjalan santai menuju ke lantai 2.

"GUE NGGAK PERNAH MAIN-MAIN SAMA OMONGAN GUE!" Pekik Alex yang mampu terdengar diindera pendengaran Lana, namun Lana memilih mengabaikannya.

'Dasar Psikopat!' Dumel batin Lana kesal.


______________________

See you next time !!

TRUST (Between Us) [Complete]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang