Keesokan harinya saat jam istirahat, Ryujin duduk sendirian di bangku taman. Kini tinggal menghitung hari ia bersekolah di Ethereal High School. Ia memang tidak dikeluarkan dari sekolah tetapi ia ingin keluar atas keinginannya sendiri.
Ryujin duduk bergeming dengan tatapan kosong. Kedua lututnya lecet dan belum sempat diobati akibat diselandungi oleh salah seorang siswi beberapa saat lalu. Perlahan matanya berkaca-kaca hingga tetesan air mengalir dari kedua sudut matanya. Ia bukan menangis karena rasa perih di lututnya tetapi karena rasa perih di hatinya.
"Jadi begini yang lo rasain selama ini, Li? Setelah diperlakukan kayak gini gimana caranya lo bisa keliatan baik-baik aja?" lirih Ryujin bermonolog seraya menahan isak tangis.
Ryujin menggigit bibir bawahnya. Andai saja waktu bisa diputar kembali. Sekarang ia sungguh menyesali segala perbuatannya dulu.
"Ryujin bodoh," desis Ryujin pada dirinya sendiri. Sial, ia tidak bisa lagi menahan tangisnya. Ia pun segera menunduk untuk menyembunyikan wajahnya.
Tak lama setelah itu ada tangan seseorang yang mengulurkan sebuah sapu tangan kepada Ryujin. "Jangan nangis, walaupun lo emang tetep cantik kalau nangis."
Dia lagi. Suara seseorang yang sangat Ryujin kenali.
Setelah sapu tangannya diambil oleh Ryujin, Beomgyu duduk di samping cewek itu. "Ngapain nangis sendirian disini? Lo keliatan menyedihkan banget tau nggak?" tanyanya sedikit kesal.
"Gue emang menyedihkan," jawab Ryujin sambil mengelap bekas air mata dengan sapu tangan yang diberikan Beomgyu.
"Sekarang gue ngerti apa maksud pertanyaan lo waktu di bus."
"Pertanyaan yang mana?" sahut Ryujin sambil mengingat-ingat.
"Apa mungkin lo masih suka sama gue kalau misalnya lo tau gue udah ngelakuin sesuatu yang buruk?" kata Beomgyu yang meniru persis pertanyaan Ryujin saat itu. "Sekarang gue ngerti apa 'sesuatu yang buruk' yang lo maksud waktu itu."
Ryujin menoleh ke Beomgyu. "Dan setelah lo tau itu, lo udah nggak suka sama gue kan? Lo cuma kasihan sama gue kan?"
Beomgyu mengulas senyum yang sulit diartikan. "Enggak, gue cuma kecewa sama lo."
Ryujin terhenyak mendengar jawaban Beomgyu. Sebenarnya hati lo itu terbuat dari apa sih, Beomgyu?
"Ngebuat contekkan di botol minum kemasan?" Beomgyu terkekeh. "Cara lo boleh juga, anti-mainstream."
"Bukan gue yang ngejebak Lia pakai itu."
Beomgyu menatap Ryujin bingung. "Bukan lo?"
Ryujin hanya mengangguk pelan.
"Kalau bukan lo terus siapa?"
"Gue juga nggak tau."
"Lo gak bohong kan?"
"Ngapain gue bohong, Gyu? Gue udah cerita semuanya ke Madam Lily dan Lia waktu itu. Kalau pun gue bohong juga udah gak ada gunanya lagi," jelas Ryujin. "Gue juga bilang kalau yang ngejebak Lia pakai botol itu bukan gue tapi gak ada yang percaya."
Beomgyu menatap lekat iris mata Ryujin. "Lo bilang itu bukan ulah lo kan? Sekarang gimana rasanya dirundung, dihina, dicaci maki karena ketahuan ngelakuin perbuatan buruk yang sebenarnya bukan perbuatan lo sendiri?" tanya Beomgyu. "Kira-kira begitu yang Lia rasain waktu lo ngejebak dia, Ryujin."
Ryujin bungkam. Pertanyaan Beomgyu tadi terdengar sangat retoris di telinganya.
"Apa yang lo alami sekarang itu karma," tandas Beomgyu memperjelas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hidden Truth [√]
FanfictionTentang pertemuan dua orang yang sama-sama rapuh, sama-sama menyembunyikan kepedihannya dengan caranya masing-masing. Hingga akhirnya saling melengkapi dan menguatkan satu sama lain. Juga tentang suka duka kisah cinta dan persahabatan sepuluh remaja...
![Hidden Truth [√]](https://img.wattpad.com/cover/218496266-64-k405113.jpg)