Kreekkkk....
Tak sengaja Andi menginjak sesuatu.
Mereka semua berhenti dan mengisyaratkan diam dengan jari telunjuk masing-masing.
"Apa an sih?" Tanya Andi meminta yang lain melihat apa yang dia injak.
"T-tengkorak mas.. " kata Ayu sambil melihat mas Ju, Ayu ketakutan. Bibirnya gemetar.
"Jangan panik ya, kan cuma tengkorak, bukan mayat. Kita jalan lagi aja. Udah gak apa-apa, Yu..!" kata mas Ju menenangkan Ayu. Yang lain pun mengangguk.
Sementara Andi perlahan mengangkat kakinya menjauhi tengkorak itu. Entah siapa yang mati di tengah kebun seperti ini.
"Mas, kita harus cepet keluar dari kebun ini. Tadi aja ada tengkorak gitu. Pasti di kebun juga bahaya dong!" Kata Lala sambil celingukan melihat kanan dan kiri.
Tak ada yang menjawab. Mereka paham, dan berjalan semakin cepat. Andi menyorot senternya agak jauh, dia samar-samar melihat wanita berbaju putih tersenyum memyeringai. Karena dia takut bicara, dia diam saja. Berharap jika sudah sampai sana, mereka tak melihat sosok itu lagi.
Andi masih membayangkan sosok itu. Meskipun hanya sebelah mukanya yang hancur dan matanya berdarah, tapi lebih mengerikan bertemu pocong. Lalu Andi bergidik ngeri sendiri.
"Kenapa si Andi ?" Tanya Ana.
"Nggak mbak.. jalan aja lah" jawab Andi yang mendengar Ana berbicara meski lirih.
500meter jarak yang sudah dia tempuh dari penemuan tengkorak tadi. Mereka melihat cahaya matahari yang hendak terbit. Tandanya mereka sekarang kesiangan untuk solat subuh, sedangkan mereka saja masih terjebak di kebun singkong yang luas. Entah berapa hektar.
"Jam berapa, An?" tanya mas Ju.
"Jam 5.15 mas, kita mulai dapet bantuan pencahayaan dari Allah. Kalau udah bener-bener terang, lari aja lah mas biar cepet sampe!" kata Ana
"Jangan, An. Lari ditengah kebun begini yang ada kita gak bisa berfikir jernih mau nentuin tujuan, lagian kita juga masih cari-cari jalan kan?" Timpal Lala.
"Udah jalan aja, yang penting cepet jalannya!" Timpal Ayu dengan kesal.
15 menit kemudian. Mereka sudah menemukan ujung kebun singkong ini. Ternyata sekitar 1km lagi, mereka menjumpai jalan utama, yaitu jalan aspal. Yang entah menuju rumah yang mereka titipi mobil, atau jauh darisana. Yang penting selamat dulu sudah bagus.
"Tuh mas keliatan aspalnya, udah deket nih. Tapi di depan kan semak-semak gitu, yakin mau tetep lurus?" tanya Andi pada mas Ju.
"Bismillah aja, daripada kita belok lagi belum tentu ke aspalnya semakin deket. Ini jalan gunung, pasti belok-belok, ya kalau kita mujur dapet jalan pintas, kalau nemu jurang atau sungai, wah... gak nyampe-nyampe,Ndi!" kata mas Ju.
Andi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lalu mereka semua bismillah saja, membawa pisau masing-masing menebas semak-semak untuk mencari jalan. Sedangkan Andi paling belakang untuk melihat keadaan yang mungkin saja ada Rama lewat melihat mereka.
Ditengah semak-semak, Ayu terjatuh karena kakinya tersandung batu. Dia jatuh sampai tangannya terkena duri. Pasti perih rasanya dengan beberapa duri menancap di lengan kirinya. Untung saja dia pakai jaket, jadi tidak begitu buruk.
Akhirnya mereka sampai di jalan utama.
"Istirahat dimana mas ? Udah jam setengah tujuh nih... Huhhh... Huhh...." kata Ana sambil ngos-ngosan.
"Kita makan sisa roti disini aja dulu, gak usah buru-buru. Kita kan udah selamat!" kata Lala sambil duduk di pinggiran aspal jalan.
Saat mereka tengah asyik makan. Ada seorang anak lewat dengan bapaknya. Anak itu takut melihat Lala.
KAMU SEDANG MEMBACA
KIRIMAN ( TAMAT )
HorrorCerita ini ditulis berdasarkan kisah nyata yang dikembangkan. Ada beberapa part yang bukan merupakan kisah nyata, hanya pendukung saja supaya alurnya lebih panjang. Kisah ini perpaduan antara persahabatan, cinta, dan makhluk ghaib. Latar cerita ini...
