Sebuah petunjuk

1.9K 197 1
                                        

Ngeeenggg....

Mereka sudah melajukan motornya menuju ke desa Gambang. Lala yang berfikir ini masih pagi, kemudian bertanya pada Andi yang sedari tadi hanya diam saja.

"Woee.. aku baru inget lo ini masih pagi, kamu kan masih jam pelajaran ? kok mau aja tak ajak ke Gambang ?" tanya Lala sedikit berteriak, karena Andi sedang ngebut.

"Tadi cuma ulangan matematika mbaakk.. trus gurunya rapat semua, jadi pulang cepet" jawab Andi sambil menoleh kesamping supaya Lala mendengarnya.

"Kirain bolos.. hahahhaa" Lala terkekeh.

Setelah lama perjalanan, akhirnya mereka sampai di kediaman pak Agus. Mereka ingin mampir terlebih dahulu.

"Assalamu'alaikum pak.. bu.."

"wa'alaikum salam, loh ini mbak Lala sama mas Andi kesini.. ayo silakan masuk mbak.." jawab pak Agus ramah.

"Terimakasih pak, kita cuma mampir sebentar. Oh ya, ini ada oleh-oleh pak.. mohon diterima ya" Lala memberikan dua kantong kresek besar pada pak Agus.

"Apa to ini ? Jangan repot-repot mbak, main kesini ya main saja ndak usah bawa oleh-oleh segala. Bapak ndak enak ini mau nerima.." ucap pak Agus sambil mengangkat kantong kresek hendak dikembalikan pada Lala.

"Ah bapak ini, ini bukan buat bapak.." Lala terkekeh pelan.

"La buat siapa to mbak, lawong ini mbak ngasihnya ke saya.." pak Agus keheranan. Lala hanya tersenyum sebelum menjawab,

"Ini untuk Tian dan bu Agus pak, diterima saja ya pak.. saya sekaligus minta tolong diantar ke rumah mbah Karim, bapak repot nggak ?" tanya Lala

"Oh ya, terimakasih banyak yo mbak.. nanti saya berikan ibu sama Tian. Saya nggak repot mbak, baru saja selesai dari sawah. Ayok saya antar sekarang!" ajak pak Agus bersemangat tanpa bertanya ada hal apa mereka kembali ke rumah mbah Karim.

=======

Sesampainya di rumah mbah Karim,hal yang sudah tidak tabu adalah sehabis salam pasti pintu akan terbuka sendiri meskipun tidak ada seseorang dibaliknya. Baru kemudian yang punya rumah akan keluar menyambut tamu yang datang.

"Assalamu'alaikum mbah.."

"Monggo.. wa'alaikum salam, ayo duduk saja mbak..mas.. monggo pak Agus" mbah Karim mempersilakan mereka duduk.

Lala dan Andi menyalami mbah Karim. Mereka juga memberikan oleh-oleh untuk mbah Karim yang dibelinya di swalayan. Mbah Karim menerimanya dengan senang hati tanpa bertanya ataupun menolak seperti yang dilakukan pak Agus tadi.

"Alhamdulillah.. mbak Lala sudah terlihat sangat baik, dan mas Andi mungkin sebentar lagi akan terbebas. Sabar saja dulu.." mbah Karim menghela nafasnya.

"Mbak Lala, mau menanyakan tentang temanmu dan keluarganya yang meninggal janggal ya?" mbah Karim sepertinya sudah mengetahui niat Lala kemari. Andi yang diam, kini seperti ingin mengetahui apa yang terjadi. Lala mengangguk mengiyakan pertanyaan mbah Karim.

"Jadi begini mbak, tanpa sengaja temanmu itu menjadi tumbal. Ini semua tanpa disengaja mbak", lanjut mbah Karim. Lala hanya melongo mendengar semua itu, bagaimana mungkin tumbak tapi tak disengaja.

"Semua sudah terjadi mbak. Sebelum temanmu meninggal, dia dirumahnya telah memakan roti yang dihidangkan di meja rumahnya. Kemudian ayahnya juga ikut memakan roti tersebut. Mereka berdua menghabiskannya. Yang sebenarnya roti itu sedang ditunggui jin dari sang pengirim untuk membunuh tumbal melalui media roti itu". Kata mbah Karim menjelaskan

Kemudian Lala langsung bertanya " tidak sengaja memakan roti yang sudah ditunggui jin ? Jadi roti itu siapa yang membawa ke rumah ? dan sebenarnya untuk siapa roti itu ?" tanya Lala yang semakin penasaran.

"Mbak.. ada penyesalan dari seseorang yang telah membawa benda itu ke dalam rumah dan menyebabkan meninggalnya dua orang tersebut. Namun mbah tidak mau mendahuli untuk tau siapa pelakunya", jawab mbah Karim dengan lembut dan berwibawa.

"Lalu bagaimana itu mbah ? kasian keluarga yang masih hidup. Apa tidak ditolong saja ? siapa tau masih ada yang bisa diselamatkan ", ucap pak Agus kemudian diangguki Lala dan Andi.

"Jadi hanya mereka berdua yang menghabiskan roti terkutuk itu, atau ada orang lain mbah ?", tanya Lala.

"Mereka berdua saja mbak, dan temanmu tidak sengaja jadi tumbalnya", jelas mbah Karim kemudian.

"Jadi yang ingin dibunuh sebenarnya adalah..... Ayahnya ?" tanya Lala penuh kebingungan.

Mbah Karim hanya menghela nafasnya saja. Lala tak ingin memberitahu Eci semua ini adalah hal buruk yang tak disengaja. Setidaknya rasa penasaran Lala terobati. Meskipun dia tak tau siapa yang dengan sengaja melakukan hal ini hanya untuk membunuh.

Setelah semua cukup, Lala berpamitan untuk kembali ke kota.
Mbah Karim mempersilakan mereka kembali pulang.

"Mbak, doakan saja temanmu dan Ayahnya bisa tenang di alam mereka. Hanya doa yang mampu membebaskan mereka dari jerat iblis yang saat ini masih membawa qorin mereka berdua. Hati-hati dijalan nggeh.. Dan terimakasih oleh-olehnya ya mbak" Ucap mbah Karim . Lalu mereka semua berpamitan.

"Kami pamit mbah, assalamu'alaikum"

"Nggeh, wa'alaikum salam", jawab mbah Karim mengangguk dan tersenyum.

Setelah mereka mengantar pak Agus pulang, mereka kembali ke kota. Sebenarnya pak agus menawari makan siang, namun mereka menjawab jika sudah makan sebelum berangkat. Dan bekal CFC tadi akan mereka bawa pulang untuk dimakan dirumah masing-masing.

Lala sedikit lega dengan jawaban mbah Karim, membuat rasa penasarannya makin bertambah sajam Siapa kira-kira yang dengan sadar ingin membunuh Ayah Rama dengan roti ? Di dalam rumah ? Apakah orang dalam ? Pasti... ya pasti. Lala akan menemukan jawabannya segera.

********

KIRIMAN ( TAMAT )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang