Adzan maghrib sudah terdengar dikumandangkan oleh muadzin masjid. Masjid desa ini jaraknya 700 meter dari kediaman Almarhum pak Bagus dan Dillah. Setelah Lala dan Eci solat di rumah Dillah, mereka memasuki dapur untuk mencari mamanya Dillah.
Disamping rumah Dillah, ada pohon jambu biji yang rimbun. Dibawah pohon jambu tersebut disediakan kursi panjang untuk bersantai, maupun Dillah biasa ngobrol dan belajar bersama temannya.
Ya memang disamping rumah Dillah adalah taman rumah yang tidak terlalu luas, namun sangat sejuk.
Jika malam hari, ada lampu remang-remang di tiap sudut taman. Karena semua makanan sudah pesan catering, maka Lala dan Eci meminta ijin mamanya Dillah untuk menunggu tahlil di taman saja, karena sudah banyak saudara dan tetangga yang ada di dapur. Sebagian teman Dillah memilih duduk di samping rumah, tempat yang diduduki Lala saat dia didatangi jin qorin tadi sore.
"Ci, duduk sini..! sambil nungguin acara selesai..", ajak Lala pada Eci untuk duduk dikursi taman.
Mereka berdua duduk. Kelihatannya Eci masih murung, dilihat dari dia yang lebih sering menunduk dan jarang tersenyum jika tak ada yang lucu.
Lala menebar pandangan ke segala arah di taman itu. Berharap tidak ada yang mengagetkannya di tempat yang kurang cahaya ini.
Lala merasa lega, sepertinya aman.
Lala pun membuka handphonenya. Dibukanya game dinner dash. Eci pun sedang membuka facebook. Gadis imut itu memang suka sekali membuka sosmed dimanapun dan kapanpun. Entah apa yang dia lihat, yang pasti jarinya terus saja scroll layar handphone.
"Ci, aku main game nih. Kamu nih fb an terus.. lihat apa an sih di fb ?" tanya Lala kepo.
"Lihat video kisah orang cina yang menginspirasi nih, mau liat gak ?" tawar Eci pada Lala.
"Ga deh, terlanjur buka game. Hehehehe", jawab Lala terkekeh.
Saat Lala bermain game, dia merasa seakan ada yang meniup tengkuknya. Bulu kuduknya mulai meremang.
"Ci, apa sih niup-niup?" tanya Lala sambil terus bermain game.
"Angin kali, ngapain juga niup kamu?" jawab Eci dengan wajah datar.
Lala semakin gelisah, mana mungkin angin tapi dirinya tak merasa kedinginan. Karena Lala tak tahan cuaca dingin. Ditepiskannya fikiran negatif itu dan melanjutkan game nya.
Kembali kejadian aneh terulang. Kali ini, ada yang menepuk pundaknya. Lala mengabaikannya, mungkin memang si Eci sengaja mengerjainya.
Setelah tak ada respon dari Lala, kembali ada yang menggelitik pinggang Lala. Lala sontak bertanya kepada Eci dengan sedikit menaikkan nada bicaranya.
"Ci... pliss deh, ga lucu tau, ngapain juga gelitikin aku. hah??",
"Woeee... kurang kerjaan aja, setan kali!", kata Eci ketus. Seakan tak sadar apa yang dikatakan barusan membuat Lala semakin gelisah ketakutan.
Sampai Lala harus mengakhiri game nya. Dia memilih memandangi sekitarnya. Lala tak melihat ada orang atau, makhluk halus yang menampakkan diri.
Saat Lala menengok ke samping, dia sangat terkejut dengan apa yang dia lihat, dia pun berteriak,
"Aaaaaaa ......"
Kenapa harus huruf A ? ya karena teriak dengan huruf A lebih keras karena mulut akan menganga lebar dari pada teriak huruf I,U,E,atau O.
Lalu apa yang Lala lihat saat dia terkejut sampai berteriak ?
"Rama !" ucap Lala kaget.
Beberapa teman Dillah yang berada disamping rumah memandangi Lala dengan aneh, ada yang tertawa lirih. Sedangkan Eci terbelalak dan mengelus dadanya.
"Takut ya ada setan ?", tanya Rama mengejek.
"Nggak, gak usah ganggu. Pergi sana !!!", Lala kesal ternyata Rama yang mengerjainya.
"Tenang... tenang... ini rumah temenku, ngapain juga kamu ngusir aku?", Rama tersenyum senyum.
"Pokoknya pergi!" Lala mengusir Rama menjauhi dirinya.
Rama malah duduk disamping Lala dan memegang kedua tangannya dengan paksa. Lala yang memberontak pun dihiraukannya, dengan kuat Rama menggenggam tangan Lala.
"La, jangan gitu dong.. Kenapa sih kamu benci banget sama aku ?" tanya Rama heran.
"Masih nanya? pikir sendiri!", jawab Lala sambil mencoba melepas tangannya, namun genggaman Rama kuat sekali.
"Maaf ya La, aku gak ada maksud buruk sama kamu. Ini semua gak sengaja karena kamu bisa lihat mereka yang akupun gak bisa lihat. Pamanku marah sama aku dan ngancam aku. Makanya aku nurut aja. Maaf ya La.. kamu mau maafin aku kan ?", Rama memohon.
"Kamu nggak berusaha melindungi, malah jadi pengecut! asal kamu tau, ada banyak orang yang menanggungnya", bentak Lala
"Maaf La, sekarang kamu mau kan kita damai ?", mohon Rama lagi.
"Aku maafin kamu, tapi tolong jauhi aku dan semua temenku", kata Lala tegas.
"Jangan gitu dong, tapi..."
"Kamu mau dimaafin nggak?" Lala memotong pembicaraan Rama.
"Ada hal lain yang kamu nggak tau, La ", jawab Rama menunduk lesu
"Apa?"
"Pamanku.... sebenernya diaa... yang.... " kata Rama terputus putus
Tiba-tiba paman Alim mendatangi mereka di taman.
"Loh kalian disini, tahlilah udah mau selesai itu lo.. Rama bantu bagikan nasi kotaknya gih ! Mbak Lala sama mbak Eci bisa ambil nasi kotak di dapur ya, kalian makan sama-sama disana, ayo !" kata paman Alim.
Orang ini sepertinya tau gelagat Rama. Jika saja paman Alim tidak datang, Rama pasti sudah mengatakan semua yang ingin dia katakan.
Disisi lain, paman Alim menyunggingkan bibirnya.
==========
Setelah acara selesai, Rama menghampiri pamannya yang sedang berbincang dengan paman Alim di teras rumah. Sedangkan saudara bu Indah perempuan yang ada disana, mereka di dalam rumah membereskan camilan dan juga minuman.
Rama mendengar sesuatu yang mereka bicarakan. Sengaja Rama memasang heandset namun dia tak memutar lagu. Dia hanya pura-pura mendengarkan musik supaya pamannya tak tau jika dia menguping.
"Semua sudah beres bukan ?" tanya paman Alim yang memelankan suaranya. Namun Rama mendengarnya.
"Tak tunggu tanggal seng apik, tak lamare adikmu seng ayu kuwi, hahahahahah.." kata pamannya Rama, atau paman Hari dengan lirih.
( Tunggu tanggal baik, akan ku lamar adikmu yang cantik itu )
Mereka saling mengangguk dan tertawa, kemudian menyalakan rokok dan menyesapnya.
Lalu paman Hari mengajak Rama pulang," Ayo le, wes bengi. Kono salim pak de Alim disek!"
( Ayo nak, sudah malam. Sana salam sama paman Alim dulu )
Rama pura-pura kaget. Dia pun menyalami paman Alim. Sebenarnya Rama sangat penurut kepada pamannya.
Dia sempat ikut mencelakai Lala dan semua temannya karena dia sendiri takut jika makhluk peliharaan pamannya justru mencelakainya jika tak membantu pamannya.
Kali ini, Rama berpihak pada Lala karena Rama sudah kehilangan Dillah karena siasat buruk pamannya yang salah sasaran.
Seandainya tidak menggunakan media, Rama tak akan kehilangan Dillah. Teman baiknya itu lebih dari segalanya daripada saat dia kehilangan Lala. Bukan karena tidak menyayangi Lala, tapi Rama tau dari pamannya jika Lala ada yang melindungi. Maka Lala bisa selamat. Jadi dia pun tenang harus putus, asal Lala tetap hidup.
Rama berniat ingin membantu Lala mengungkap kebenaran agar ibunya Dillah tidak menikahi pamannya. Ibunya Dillah tentu tidak tau jika paman Hari adalah seorang berilmu hitam.
Apakah Lala akan percaya jika Rama akan membantunya ?
Atau bahkan Lala berfikir Rama mencoba menjadi udang dibalik batu dengan menyamar menjadi bunglon terlebih dahulu ?
Next... 😁
KAMU SEDANG MEMBACA
KIRIMAN ( TAMAT )
TerrorCerita ini ditulis berdasarkan kisah nyata yang dikembangkan. Ada beberapa part yang bukan merupakan kisah nyata, hanya pendukung saja supaya alurnya lebih panjang. Kisah ini perpaduan antara persahabatan, cinta, dan makhluk ghaib. Latar cerita ini...
