Annyeong aku kambek kyk kambeknya bias. Tapi boong
Dahlah gak mau banyak ngebacot, mending kalian aja yang banyak bacot, aku suka
Aku gak akn capek buat ngingetin kalian buat vote atau coment
Karena dengan votment kalian, semoga cerita aku bisa lebih baik
Karena setiap orang yang sedang berusaha atau sedang mencoba itu butuh dukungan.
Tuh kan:')
Curhat jadinya!
.
.
.
.
.
.
.
" Aku suka bodi goyang aa jeno~ aa jeno, no, no ,no, nong~" sedari tadi Haechan terus beryanyi tak jelas sambil memukul-mukul meja kantin.
Jeno, Haechan, Jaemin dan renjun memang sedang menunggu pesanan mereka di kantin.
" Lu ada masalah idup ape sih chan?" Pasalnya Jeno kesal dari tadi namanya menjadi tumbal dari lagu yang dinyanyikan Haechan.
" Banyak, emangnya lo...idup gitu doang abis itu mati." Balas Haechan savage.
" Mulut lo ga pernah di sekolahin ya chan?" Jeno sedang siap-siap melayangkan botol kecap ditangannya kek wajah Haechan.
" Kok lu tau sih! Mulut gue tk aja ga lulus." Balas Haechan antusias.
" Dah ah, ngomong sama orang yang otaknya separoh itu cuman bikin pusing."
" Jangankan separoh, secuil aja gue udah Alhamdulillah. Apa lagi separoh, party-party gue."
" Eh btw, napa ni bocah dua kek mayat hidup. Diem aja dari tadi?" Tanya Jeno mengalihkan pembicaraan, ia tak ingin ikut bego jika obrolan yang tadi diperpanjang.
" Kalo si ronjon kan emang rada bisu dari lahir-," Ucap haechan yang mendapat tatapan maut dari renjun. Yang ditatap hanya menunjukkan cengiran watados," -ini nih si Jaemin, kerasukan setan kantin kali." Yang disindir hanya diam tak bergeming.
" Min! Lu Napa dah? Udah abis pasokan bacotan lo? Sini minta gue, punya gue berlimpah!" Haechan membuka tangannya mengisyaratkan bahwa pasokan bacotanya memang berlimpah. Iya percaya gue
" Gapapa" jawab Jaemin dingin. Fix ini bukan Jaemin, bener kata echan. Kerasukan kali
Jaemin sedang memikirkan Jisung yang kemarin pulang dengan wajah babak belur, dan ia sama sekali tak mengucapkan sepatah katapun. Biasanya Jisung cerewet dirumah. Namun kemarin ia sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya bahkan sepatah katapun.
Sepulang sekolah Jisung langsung masuk ke kamarnya dan tidak keluar hingga pagi ini. Saat Jaemin ingin masuk ke kamarnya Jisung juga mengunci pintu yang biasanya di biarkan terbuka. Saat Jaemin memanggil namanya pun tak ada jawaban dari sang pemilik kamar.
Sungguh aneh, ini bukan Jisung yang biasanya. Jaemin khawatir, tapi mengingat Jisung yang tempramental. Sepertinya Jisung membutuhkan waktu untuk sendiri.
" HEH! Malah ngalamun kesambet beneran lo!" Jeno yang gemas karena sedari Jaemin hanya diam saja.
" Min, lo kenapa?" Renjun akhirnya membuka suara.
" Bisa ngomong juga lo?" Celetuk Haechan di saat yang tidak tepat. Renjun yang sudah biasa menghadapi candaan Haechan yang kelewatan hanya bisa menghela nafas pasrah.
" Jisung"
" Kenapa jisung?! Lu ngomong satu kata-satu kata, gimana kita mau ngerti coba?" Haechan gemas sendiri dengan sikap Jaemin yang membuatnya penasaran.
" Kita? Tidak ada kita diantara lo dan gue." Jeno melayangkan tatapan jijik kepada Haechan.
" Iya serah lo, gue pake kata kita buat gue sama Somi aja."
" Kemarin Syera, sekarang Somi. Selera lo tinggi banget sih chan? Inget muka keruh lo tuh cuman di anggep kesed ama mereka!"
" Haha Anjir!" Kalian percaya gak? Seorang renjun tertawa, gue sih percaya.
" Tak apa aku TERNISTAKAN! Asalkan kau bisa tertawa karenanya." Ucap Haechan mendramatisir.
" Jadi Jisung kenapa?" Renjun beralih menatap Jaemin yang masih berkutat dengan pikirannya sendiri.
" Ha?"
" Malah ha he ho! Adek loooo! Si Jisung Kenapa, malikk?!"
" Kemarin pas pulang dia babak belur," Ucap Jaemin disusul dengan satu helaan nafas.
" Sapa pelakunya?! Sini gue masukin kek tanah lagi!" Haechan menepuk-nepuk dadanya sendiri seolah sedang membanggakan diri.
" Lo pikir dia tumbuhan apa?! Segala dimasukin ke tanah." Menoyor kepala Haechan agar isi didalamnya itu sedikit berguna.
" Ini nih! Orang gak pernah ngikut pelajaran Agama, kaga tau kalo manusia itu terbuat dari tanah."
" Pembahasan kalian itu ga penting!" Peringat renjun.
" Gue mau dengerin Jaemin jelasin, bukan bacotan kalian." Lanjutnya.
" Ampun boskyu/ sory sory."
" Jadi?"
" Tapi plis tolong Lo pada jangan motong dulu ucapan gue, dengerin ampe abis oke?" Ucap Jaemin yang dibalas anggukan antusias dari Haechan.
Jaemin lalu menceritakan seluruh kejadian tentang Jisung kemarin. Yang lain hanya menyimak dan sesekali mengangguk menyetujui perkataan Jaemin. Juga memakan makanan yang telah mereka pesan.
"-Dan tadi pagi pas gue nengok ke kamarnya dia gak ngejawab. Pintunya juga dikunci, padahal biasanya ga pernah dia ngunci pintu kamar, tapi tergantung juga sih."
" Sekarang Jisung dimana?" Pertanyaan itu berasal dari Jeno.
" Keknya dirumah sih, orang gue cek motor ama sepatunya masih dirumah." Jelas Jaemin sambil meneguk es tehnya yang telah datang.
" Lo yakin?"
" Tapi feeling gue gak enak sih."
" Ah gimana sih lu!" Haechan mendorong bahu Jaemin," santuy dong, najis ntar bahu gue lo sentuh-sentuh."
" Hylyh, udah gak kesambet lo?!"
Semua memandang Haechan dengan tatapan aneh.
" Ape sih? Liatnya gitu amat, gue ganteng kan? Kan? Kan?" Ucap Haechan sambil menopang dagunya dengan kedua tangan.
" Butek gitu kek sumur sekolahan." Cibir Jeno.
" Heh! Butek- butek gini gue mandinya pake sumur SM entertainment tau gak?! Emangnya lo, masuk sana aja dikira OB."
" Kalo gue OB lo apa? Pengemis?"
" Dah ah, ribut mulu! Gue butuh saran nih!" Pinta Jaemin.
" Gue sih gak ada hehe, otak gue dah full memo." Siapa lagi jika bukan Haechan.
" Kita beliin permen aja, Siapa tau dia seneng."
" Lo pikir adek gue anak TK apa?! Njun cuman lo yang waras nih!" Jaemin mengguncang-guncang bahu renjun.
" Gak, gue gak da ide."
" Ah lo pada gak guna banget sih, besok gue mau beli temen baru aja lah."
" Hey! Kok pada kusut gitu mukanya." Itu Mark, ia baru saja menyelesaikan tugas ketua osis nya.
" Lo juga! Gak guna!" Ucap Jaemin lalu beranjak.
" Kenapa si jemin? Dah kek cabe cabean aja marah-marah." Tanya Mark kepada yang lain.
" Tuh!" Mereka saling menunjuk.
" Au ah pusing gue, bay!"
Satu persatu dari mereka meninggalkan meja menyisakan Mark yang bingung sendiri.
" Mending gue ngapel Mbak pacar aja tadi."
Vote coment nya ya!
Makasih
KAMU SEDANG MEMBACA
Can I Love You?
Fanfiction- Kim Syera, gadis yang bermimpi bahagia, disaat takdir tak mengijinkannya. Apakah ia berhak bahagia? Dicintai semua orang dengan tulus seperti yang dia inginkan? Atau hanya dapat mencintai, tanpa adanya rasa dicintai? Mengisahkan harapan seorang ga...
