Anak pungut

163 76 133
                                        

Vote dan coment ya guys!

• • •

" Hargai orang yang berusaha peduli pada mu, walau kau merasa terganggu, tapi ia hanya ingin membantu. Kau tak tahu bagaimana mana rasanya di sia-siakan. Jangan sampai penyesalan datang disaat dia pergi."

" Oh jadi lo anak barunya, cupu. Haha!" Jisung bahkan tak mengenal orang dihadapannya itu.

Beberapa menit yang lalu dua orang dengan paksa menyeret Jisung ke gudang ini. Hanya segelintir orang yang masih ada di sekolah, jadi tidak ada yang bisa menolong Jisung. Tapi Jisung berusaha sabar, ia yakin bahwa orang dihadapannya- ah tidak, orang ber nametag Lee Taeyong ini hanya sedang bermain-main.

" Ngapain lo bawa gue kesini?" Tanya Jisung to the point.

" Gue cuman mau bikin ke-se-pa-ka-tan sama lo, heh!" Senyum miring terpampang jelas di wajah Taeyong.

" Maksud lo?" Jisung benar-benar tidak mengerti maksud dari pernyataan itu. Oh ya Jisung baru saja ingat jika Taeyong adalah -katanya-, bos dari seluruh siswa kelas X. Sebaiknya ia harus berhati-hati.

" Gue mau lo jadu babu gue, kalo lo nolak, hidup lo- ." Ucap Taeyong yang di akhiri bisikan kecil di telinga Jisung.

"-gak bakal tenang."

" Cih! Gue ga bakal takut sama bajingan kaya lo!"

" Serah lo..eh, lo Bukannya adiknya Na Jaemin. Anak kelas XI Ipa C?" Taeyong melirik name tag jisung.

" Kalo iya, juga ga ada hubungannya sama lo." Jawab Jisung dingin.

" Weitss! Sangar bro." Taeyong menepuk pundak Jisung sembari menampilkan senyum miring, membuat Jisung semakin muak. Tangannya terkepal ingin menerjang wajah sombong itu.

" Minggir." Ucap Jisung seraya menyingkirkan tangan Taeyong.

Jisung kembali membalikkan badannya, namun kerah bajunya ditarik kasar oleh Taeyong, lehernya sedikit tercekik.

" Mau lo apasih?!" Teriak Jisung masih mencoba menahan tangan kanannya untuk tidak membogem wajah Taeyong.

" Santuy bro, gue cuman mau meluruskan kebenaran, Hahahaha!" Bagi jisung tawa Taeyong terdengar seperti orang yang sakit jiwa.

" Maksud lo?!"

" Marga lo berdeda sama Jaemin. Jangan-jangan-" Taeyong menggantung kalimatnya.

" Lo anak pungut?" Sambungnya.

" Hahahhahahhaa!"

Mata Jisung melotot, emosinya sudah sampai ubun-ubun, dan-

" Bugg! Bugg!"

" MAU LO APASIH NJING?! HAH!" Teriak Jisung kesetanan di tengah kegiatannya memukuli Taeyong. Teman-teman Taeyong yang tidak terima bossnya di pukuli, menendang tengkuk Jisung yang membuatnya ambruk. Mereka menarik Jisung agar kembali berdiri, lalu mencekal lengan Jisung.

Jisung berusaha mengembalikan kesadarannya, ia dapat merasakan tangannya yang kini dikunci dari belakang. Dan di hadapannya ada Taeyong yang mendecih sembari menyapu darah di ujung bibirnya.

" KENAPA, KENAPA KALO GUE ANAK PUNGUT?! GA ADA HUBUNGANNYA SAMA LO!" Jisung berteriak hingga urat dilehernya keluar. Wajahnya terlihat merah membuatnya terlihat seperti orang yang kesetanan.

" Hah?! Jadi jisung itu anak pungut."

" Gue cuman kasian aja sih sama lo. Dibuang terus di daur ulang, dasar sampah! Bocah kayak lo ga pantes ada di sini. Mending lo mulung, biar di pungut lagi, Hahahhahaha!" Memori disaat Mamah yang meninggalkannya kembali terputar di kepala Jisung.

" HAH! DIEM LO ANJINK!" Jisung meronta-ronta namun tenaganya sekarang sudah benar-benar habis.

" Bug! Bug! Duak!" Taeyong tanpa belas kasihan memukul dagu, pipi dan menendang pelipis Jisung, darah segar mengucur deras dari sana.

Membuat seseorang yang sedari tadi melihat pertengkaran mereka memekik kaget.

" Akh!" Syera menutup mulutnya, mencoba menetralisir rasa takut yang sebenarnya menguasai hatinya.

" Taeyong stop! Gue bakal.. ekm Lapor kepsek sekarang juga!" Syera sekuat hati melawan rasa takutnya demi menolong Jisung. Ia tak peduli jika nanti dia juga akan di lukai oleh Taeyong dan teman-temannya.

" Syera, lo-lo ngapain di sini?" Taeyong menghampiri Syera dan bertanya seolah tidak terjadi apa apa.

" Lo ga perlu tau, yang penting sekarang lo lepasin Jisung atau-"

" Atau apa ha?!" Timpal Taeyong.

Syera berjalan mundur, karena Taeyong yang terus maju mendekati Syera.

Syera akui ia takut, tapi ia tak mungkin meninggalkan Jisung dengan keadaan yang -ah.

" Plak! Lo cowok brengsek!" Syera menampar Taeyong keras, bahkan suaranya menggema di lorong gudang itu. Karena tak ada pilihan lain, Taeyong telah memojokkannya dan hanya itu yg bisa Syera lakukan.

Wajah Taeyong kembali menatap Syera. Syera dapat melihat ancaman dari mata itu, Taeyong yang dulu sering menggangunya seperti anak kecil kini berubah seperti singa yang siap memangsa Syera kapan saja.

" Cih, tunggu pembalasan gue bitch." Bisik Taeyong lalu berbalik. Ia kemudian memerintah anak buahnya untuk pergi.

Syera merosot, ia dapat mendengar jelas suara detak jantungnya yang berdetak cepat. Ah iya Jisung!

Syera segera berlari menghampiri Jisung yang kini terbaring lemah dilantai. Darah masih mengalir dari pelipis dan bibirnya. Pipinya lebam dan dagunya membiru. Syera meringis melihatnya Walaupun ia sering mendapat tamparan seperti itu, tapi tidak akan sampai seperti ini.

" Sung, lo masih sadar kan?" Syera dengan panik meletakkan kepala Jisung di pahanya dan menepuk-nepuk pipi Jisung pelan, yang matanya sedikit terpejam.

" Akkh, sakit anjing." Syera gelagapan di buatnya,

" Dasar bodoh, udah tau itu sakit malah lo tepuk-tepuk!" Batin Syera.

" So-sory gue lupa."

Syera lalu teringat bahwa ia membawa kotak P3k di tasnya. Tentu saja ia selalu bawa, kotak itu sangat berguna disaat keluarganya sedikit bertindak kasar kepadanya.

" Sung, sini gue obatin. Mungkin bakalan perih tapi bakal cepet sembuh." Jisung yang sudah kehabisan tenaga hanya mengangguk pasrah.

Syera membersihkan dan mengobati wajah Jisung dengan telaten. Terkadang Jisung meringis kesakitan yang membuat Syera panik dan meminta maaf.

Mereka tak langsung pulang, Syera malah mengekor Jisung ke atas rooftop.

" Jadi nama lo Syera?" Tanya Jisung yang telah selesai diobati oleh Syera.

" Heem" jawab Syera seadanya, Syera sedang sibuk memandang senja dari rooftop sekolah.

" Kenapa lo mau bantuin gue?" Walau nadanya dingin, namun Syera suka. Setidaknya Jisung mau berbicara dengannya.

" Karena... Gue cinta sama lo." Jawab Syera sambil menatap manik mata Jisung yang sedari tadi juga menatapnya.

" Hah, lo sama gue baru ketemu dua hari yang lalu, gak mungkin lo bisa cinta sama gue secepat itu." Jawab Jisung setelah berdecih.

" Cinta itu sederhana, cukup takdir tuhan sebagai penentunya." Kalimat itu terdengar seperti sajak di telinga Jisung.

" Dan gue, bakal ubah takdir itu." Jawab Jisung lalu berlalu pergi, meninggalkan Syera yang memaku memandang senja.

" Bahkan gue ditolak sebelum bertindak, perjuangan lo ga di anggap Syer selama ini."

" Apa ini tempat kita bertemu, dan...berpisah?

• • •

Gimana guys? Degdegan gak. Pusing aku bikin ini ga bisa bikin cerita aksi soalnya

Janlup votment ya!😂

Can I Love You?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang