"Orang orang takut padaku Na"kata Jeno begitu mereka pergi kesalah satu restaurant
Nana yang menariknya hanya mengangguk,"aku tahu.. dan itu bagus agar tidak ada yang mengganggu"
Mereka berdua bergegas masuk kedalam restaurant itu
"Selamat datang Tuan.. apa mau reservasi ruang VIP?"tanya sang pelayan
Baru Jeno akan membalas Nana lebih dulu menyambar.
"Tidak tidak... kami makan disini saja"katanya sambil duduk disalah satu meja biasa
Jeno terlihat bingung namun pada akhirnya dia hanya bisa duduk pasrah dengan Nana yang mengatur semuanya
"Baiklah.. ini buku menunya,apakah ditinggal dulu atau aku menunggu?"tanya pelayan lagi
"Tak apa, kami akan memanggilmu lagi"kata Jeno,sang pelayan hanya mengangguk lalu pergi
Jeno lalu memandang Nana,"kenapa tidak di VIP saja? Disana lebih nyaman"
Nana menggeleng,"tidak mau.. disana terlihat seperti sedang rapat untuk bekerja. Kita disini untuk berkencan"
Mendengar itu dada Jeno tiba tiba merasa hawa dingin,entah mengapa dia hanya suka dengan penuturan Nana
Dan Jeno baru sadar mereka duduk disamping jendela besar yang menghadap langsung ke jalanan.
Banyak orang lalu lalang,melihat mereka sekilas lalu melangkah lagi
"Aku ingin menunjukkan bahwa kekasihku sangatlah romantis"kata Nana lagi
"Aku memanglah romantis"
"Tentu saja. Tidak ragu melepas peluru pada orang asing karena membututiku memang sangatlah romantis"
"Apa pikirmu aku akan membiarkannya memandangmu lama sedangkan aku tidak bisa memandangmu?"
"Tenanglah tuan.. aku dihadapanmu sekarang"
Interaksi mereka diinterupsi dengan pelayang yang datang setelah Nana memanggilya
"Tolong ini saja dua,dan sampagne dua gelas"kata Nana,sang pelayan hanya mengangguk
Jeno memandang tangannya,sebuah cincin melingkar disana. Dia tersenyum.
Cincin yang dia belikan untuknya dan Nana.
Dia memandang Nana yang terlihat merapihkan alat makan didepannya,dia menggunakan juga cincin itu
"Na.."
"Hm?"
Dia menatap Nana yang tersenyum disebrang sana.
"Selain karena insiden Yooa dulu.. apa kau pernah berpikir meninggalkanku?"
Nana tersenyum kecil,memandang keluar jendela sebentar lalu kembali menatap mata Jeno
"Bahkan setelah insiden Yooa dulu aku masih kembali dan duduk disini untukmu. Apa aku harus menjawab pertanyaan itu?"
Jeno mengangguk,"aku hanya tak percaya, aku bisa melukai seorang yang sangat mencintaiku"
"Kau ingat saat kita pertama bertemu?"
"Saat pemakaman kakekmu?"
Nana mengangguk,"apa kau mengenalku saat itu?"
Jeno menggeleng.
"Itulah jawabannya. Saat itu aku juga tidak mengenalmu, tidak ada pikiran untuk bersamamu. Setelah aku mengenalmu,dan mulai jatuh cinta padamu aku sudah menyiapkan diriku jika sewaktu waktu kau menyakitiku"
"Dari awal kau tahu aku bisa melukaimu,mengapa kau memberiku kesempatan?"
"Kau ini mafia Jen, tentu aku harus bersiap manakala aku nantinya kesakitan. Tapi pikiran semacam itu hilang saat aku melihatmu sungguh sungguh. Sebab itu saat insiden Yooa aku sangat marah dan sakit hati"jelas Nana
KAMU SEDANG MEMBACA
MA(wi)F(e)IA:NoMin [END]
FanfictionDua kelompok mafia yang bertentangan,bergabung menjadi satu. "Ingin berhenti,tapi aku tak bisa" "Kau segalanya. Ingat itu" #12-nomin(28.06.20) #5-nomin(09.07.20) #14-dream(18.07.20)
![MA(wi)F(e)IA:NoMin [END]](https://img.wattpad.com/cover/229184950-64-k65781.jpg)