13. Lacerta Si Pembuat Ulah

5K 311 14
                                        

"Mungkin malam ini lebih indah dari malam kemarin, tapi aku selalu bahagia denganmu."


________________

"Renata? kok lo bisa ada di sini?" tanya Bianca.

"Panjang tadi ceritanya," jawab Renata. Gadis itu masih menggunakan seragam sekolahnya.

"Pendekkin aja Ren," sahut Edgar yang masih sibuk dengan bolunya.

"Sa ae bokapnya cebong," kata Galang.

"Eh gimana kabar Pino sama Kio?" tanya Galang sambil duduk di sebelah Edgar.

"Baik, kemarin gue pindahin dia ke akuarium bokap gue."

"Lah kagak kena telen tuh sama ikan koi kesayangan bokap lo?" tanya Ryan.

"Nggak, udah gue ancem tuh koi kesayangan Papah Irdan tersayang," sahut Edgar.

"Kalau dia ngap? emang lo nggak takut kehilangan anak cebong lo?" tanya Gerdan, satu alisnya naik.

"Ya tinggal ngep," sahut Edgar meniru ucapan Ismail bin Mail di serial kartun Upin Ipin.

"Siapa Pino sama Kio?" tanya Salwa. Ketiga gadis yang berada di sana menatap mereka bingung, sedangkan Arka dan Reynal hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah konyol Edgar dan yang lainnya.

"Anak Edgar," jawab Ryan kelewat santai. Salwa dan Renata kompak membulatkan kedua bola matanya.

"Lo udah?" tanya Salwa ragu.

"Nggak lah! Pino sama Kio itu kecebong unyu yang gue temuin di selokan depan rumah Arka," ujar Edgar.

Salwa menyengir lebar. "Kirain."

"Kalian sudah dari tadi?" tanya pria paruh baya yang baru saja masuk dan masih mengenakan tuxedo hitamnya seraya menjinjing tas kantor berwarna hitam.

"Iya Om," jawab Ryan.

"Yah." Reynal menyalimi punggung tangan Harun diikuti teman-temannya.

"Ayo makan, katanya Bi Imah sudah selesai masak," ajak Harun.

Mereka semua duduk di kursi meja makan yang sudah tersedia. Meja makan di rumah Reynal memang cukup luas, maka dari itu mereka semua bisa kebagian tempat duduk. Bahkan masih ada yang belum terisi.

Di atas meja makan sudah tersedia banyak lauk pauk yang di masak oleh Bi Imah, masakan Bi Imah ini 11/12 sama masakan Mbok Jum. Di sana tersedia gulai ayam, rendang, acar, sayur tis kangkung, nasi sebagai makanan pokok, salad buah, jus mangga, dan beberapa buah-buahan seperti pisang, apel, pir, dan jeruk.

"Wah ini banyak banget Om!" antusias Edgar si tukang makan.

"Iya, ini khusus buat kamu," kata Harun.

"Om baik banget sih, kalau khusus buat Edgar berarti lo pada nggak boleh minta. Karena ini punya gue!" ucap Edgar penuh penekanan.

"Enak aja, jauh-jauh gue dateng ke sini malah lo yang ngehabisin!" ketus Galang.

"Om belum selesai ngomong, maksud Om khusus buat kamu dan juga kita semua," kekeh Harun.

"Yahh, udah baper malah di tinggalin," cemberut Edgar.

"Nggak nyambung lo! mending lo kasih tu otak lo asupan bergizi. Jangan mikirin anak cebong doang kerjaannya," kata Gerdan.

"Bener juga ya!" Semua orang terkekeh melihat tingkah laku Edgar layaknya bocah umur 9 tahun. Sikap Edgar bisa berubah kapan saja, di masa saat dirinya merasa terancam dan benar-benar harus serius, maka dia harus menjadi sosok seperti macam, tapi kalau di saat seperti ini ia akan menjadi sosok yang friendly dan humoris. Dia tahu saat harus serius dan bercanda.

BIANCATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang