"Veya nggak pernah berbuat seperti itu hikss.....Ardhya sama Alyssa hikss... yang udah jebak Veya hikss..."
"Veya minta maaf Zilo hikss...Veya nggak mau Zilo pergi,"
Veya, iya, gadis itu adalah Veya. Setelah orang itu datang kembali ke Apartement nya penyakit Veya pun kembali kambuh. Semua barang yang ada di dekatnya langsung tak berbentuk seketika karena ia lempar-lemparkan. Kenangan lalu, terlintas di dalam benak Veya. Semenjak kata putus yang Zilo lontarkan saat itu dia frustrasi, sangat frustrasi. Bahkan, setiap malah dia selalu meminum obat penenang agar dia bisa melupakan kejadian itu. Tetapi, semua itu percuma, Veya tidak bisa, kejadian itu selalu menghantuinya.
"Bukan Veya yang mau, Lo."
"BUKAN VEYA, AAA!"
Prangg
Lagi-lagi bunyi pecahan beling kembali terdengar, Vas bunga yang ada di sebelah Veya dilempar begitu saja, sehingga sekarang menjadi pecahan beling yang berserakan. Veya menatap pecahan-pecahan beling itu, lalu dia mengesot mendekati pecahan beling Vas bunga tadi, dan mengambilnya.
Dia menyayatkan beling itu ke lengan putihnya, darah segar pun keluar dari sayatan yang ia ciptakan, tanpa ada rasa sakit sedikit pun, Veya kembali menyayatkan lengan sebelahnya, dia mengukir nama Zilo di sana.
Veya menjauhkan lengannya dan menatapnya seraya berpikir. "Emm... kurang tebel," katanya, lalu mendekatkan lengannya dan kembali menyayatnya.
Dia tekan beling tersebut di lengannya, sehingga menghasilkan ukiran nama Zilo yang tebal dengan Darah. Seukir senyuman tercipta di bibir Veya. "Gini kan bagus," gumamnya senang.
Entah mengapa, dengan dia menyayat lengannya seperti ini, hati dan pikirannya jadi lebih tenang. Semua amarahnya tersalurkan dengan dia menyayat seperti ini. Dirasa tangannya sudah penuh dengan sayatan, Veya pun beralih ke kaki mulusnya. Dia Kembali mengukir nama Zilo dan dirinya dari pahanya sampai ujung kakinya. Darah mengalir deras dari paha nya, namun tak Veya pedulikan.
Kemudian, dia kembali menatap lengannya. Dia meneliti dengan intens, apakah masih ada yang bisa ia sayat di lengannya ini. And then, ternyata ada di atas nadinya masih kosong, tidak ada darah di sana. Veya tersenyum, lalu tangannya yang memegang beling pun terulur untuk menyayat lengan sebelahnya, tepat di atas nadi.
"STOP KAK!"
Baru saja belingnya ingin menusuk di atas nadi nya, tiba-tiba beling yang Veya pegang terlempar jauh. Ada seseorang yang sengaja menyenggol lengannya, dia pun menoleh menatap orang tersebut. Berani sekali dia, sudah mengganggu aktivitas menyayatnya, belum aja dia yang kena sayat. Saat tahu siapa orang itu, Veya pun langsung menatapnya dengan penuh kemarahan.

KAMU SEDANG MEMBACA
ZiloVa
Teen Fiction"Zilo, gue nggak suka ya kalau lo deket-deket sama dia!" "Zilo, ngapain lo jalan bareng dia?" "Zilo, pacaran aja sana sama dia. Lo lebih sering luangin waktu buat dia daripada sama gue, pacar lo sendiri." -Revalia Francessia Franz ...