'Datanglah ke apartemenku. Ini alamatnya.'
Felix menghela napas pelan. Pemuda itu menatap menara apartemen elit yang merupakan kediaman Changbin tinggal dengan wajah penuh kontemplasi. Semula ia pikir Changbin akan mengajaknya bertemu untuk kedua kalinya di kafe atau tempat makan. Namun ternyata pria itu malah memberinya alamat apartemen yang membuat Felix jadi waswas sendiri.
Apa dia bisa mempercayai alpha itu? Meskipun ia teman baik Chan hyung, tetapi Felix tidak ingin gegabah.
Begitu selesai memarkirkan mobilnya di basement, Felix bergegas menuju lobi. Setelah memberitahu keperluannya pada petugas keamanan, ia segera menaiki lift menuju lantai 35. Begitu sampai di lantai yang dituju, ia segera menemukan unit apartemen Changbin yang ternyata tak jauh dari lift. Setelah memencet bel, ia menunggu hingga suara Changbin di interkom terdengar.
"Ini aku, Lee Felix."
"Oke."
Pintu lantas terbuka, menampakkan Changbin yang mengenakan hoodie abu-abu dan rambut yang jatuh menutupi kening. Ia tampak sedikit lebih muda dari saat terakhir kali mereka bertemu sehingga Felix tertegun sejenak melihatnya. Sebelah sudut bibir Changbin terangkat melihat reaksi Felix sebelum ia mempersilakan pemuda itu masuk.
"Maaf mengajakmu bertemu di apartemenku. Aku sedang malas keluar rumah," ujar Changbin. Felix mengerutkan kening, sedikit heran dengan aroma apartemen Changbin yang...agak membingungkan. Selagi otaknya berpikir, ia memperhatikan gelagat Changbin yang terlihat sedikit gelisah.
'Ah,' Felix bergumam dalam hati, 'jangan-jangan...ini alasannya tidak mau bertemu di luar...'
Hidung Felix diam-diam mengedus udara saat Changbin perlahan menghampirinya lagi untuk duduk di sofa seberangnya. Aromanya seperti kayu mahogani bercampur kopi. Felix menelan ludah, berusaha untuk tidak panik karena ia tidak membawa persiapan apapun untuk situasi jika Changbin nanti hilang kendali.
"Minumlah, Felix. Aku nggak tahu kamu suka apa jadi kubawakan semuanya."
Felix hanya mengangguk sebelum menatap satu persatu minuman kalengan yang diletakkan Changbin di depannya. Air mineral, jus, kopi, bahkan ada bir dingin juga. Felix mengambil jus dan membuka tuas pada tutupnya sebelum meneguknya perlahan.
"Bolehkah aku bertanya, Changbin hyung?" gumam Felix. Changbin mengangguk sekilas lalu menunggu Felix kembali bicara.
"Apa hyung...sedang dalam masa rut?"
Selama sedetik Felix memperhatikan perubahan ekspresi Changbin hingga ia pun buru-buru menambahkan, "Nggak perlu dijawab kalau nggak berkenan, hyung. Aku hanya ingin tahu saja. Maaf."
Alasan Felix berkata demikian bukan karena takut. Pemuda iu hanya ingin memastikan sehingga ia bisa mengambil langkah yang jelas jika memang terjadi sesuatu nantinya. Mungkin buru-buru mengantar Changbin ke kediaman orangtuanya untuk dikurung atau menahannya di sini dan membantu pria itu menenggak supresan darurat. Karena Felix rasa itulah gunanya ia diminta Changbin menjadi partnernya. Untuk membantu pria itu agar tidak lepas kendali.
Changbin mengatupkan rahang sebelum mengalihkan pandang ke arah lain. Ia terlihat bimbang sejenak. Namun karena Felix terus menunggu dengan sabar tanpa sedikitpun bicara, akhirnya Changbin menyerah.
"Ya, masa rut-ku sudah dekat. Itulah yang membuatku malas keluar apartemen," akunya. Felix mengangguk paham.
"Bisa dimaklumi," ujarnya.
Changbin sepertinya merasa agak malu dengan kondisinya ini karena Felix mendapati ujung telinganya sedikit memerah. Namun sang beta hanya tersenyum sebelum menepuk pundak Changbin pelan.
"Jangan khawatir. Kurasa aku bisa menjagamu dengan baik. Aku bisa menyetir dengan kecepatan tinggi kalau butuh segera menuju basement rumah orangtuamu. Aku juga bisa merantaimu kalau terpaksa melakukannya di sini. Aku bisa menghajarmu kalau insting alphamu memberontak ingin mencari omega di luar sana," ucap Felix panjang lebar. Namun perkataan itu tiba-tiba membuat Changbin tertawa hingga Felix pun tertegun dibuatnya.
'Rasanya tidak ada yang lucu...kenapa dia malah tertawa?' bisik Felix dalam hati.
"Ya, Lee Felix. Kenapa malah berniat mau menghajarku, sih? Sudah kubilang aku nggak akan seperti itu," Changbin menyentil pelan kening Felix, membuat pemuda itu terkesiap.
Kenapa...Changbin melakukan itu? Padahal ini baru pertemuan kedua mereka. Apakah Changbin memang seperti ini pada orang-orang yang baru ia kenal? Atau...karena Felix adalah partnernya sehingga ia pun bersikap demikian?
Felix hanya menatap Changbin dengan tatapan tak terbaca hingga pria itu pun berubah kikuk.
"Kenapa menatapku begitu? Ada yang aneh?" gumamnya. Nada bicara Changbin terdengar sedikit menantang, tetapi Felix sama sekali tidak tersinggung. Ia hanya mengedikkan bahu sekilas.
"Mungkin hyung memang aneh. Rasanya aku belum pernah menemukan alpha yang mengingkari hukum alam selain hyung," jawabnya santai. Jawaban Felix membuat Changbin kembali menyentil keningnya, tetapi yang kali ini lebih sakit sampai Felix mengaduh.
"Mulutmu terlalu banyak bicara," protesnya, "nggak usah berkomentar kalau aku nggak minta."
"Kok marah?!" kali ini Felix menyuarakan protes, meskipun ia tidak sepenuhnya serius. Changbin memutar bola mata sebelum berancang-ancang hendak menyentil Felix lagi. Untungnya pemuda itu memiliki refleks yang bagus sehingga ia segera menepis tangan Changbin dan balas memitingnya.
"Hei, hei! Tanganku!" Changbin kembali protes. Felix yang sudah terlanjur berada di atas angin hanya terkekeh pelan sebelum memberi Changbin tatapan iseng.
"Aku bisa kok membantumu mengendalikan diri. Jadi santai sajalah, nggak usah sampai membatasi diri untuk keluar rumah. Kalau kau lepas kontrol, aku tinggal memitingmu begini. Masalah selesai," Felix berkata enteng. Changbin mendenguskan tawa, tetapi ia sama sekali tidak membantah hingga Felix pun melepaskan genggamannya di pergelangan tangan Changbin.
"Boleh memitingku tapi jangan menonjok mukaku, oke?" gumamnya, "ini aset berharga."
Ucapan Changbin serta merta membuat tawa Felix meledak. Meskipun yang dikatakan Changbin ada benarnyaㅡya, bagaimana sang alpha dapat meyakinkan klannya tentang kekuatan yang ia miliki jika wajahnya saja bisa bonyok oleh seorang beta? Pasti egonya akan terluka.
"Iya, iya. Aku nggak akan tonjok wajahmu. Tapi jangan terlalu takut seperti itu," tambah Felix, "selagi ada aku kurasa hyung akan aman."
Changbin menghela napas pelan sebelum mengangguk setuju.
"Makasih, Felix. Karena sudah bersedia menjadi partnerku."
Felix refleks tersenyum mendengar ucapan terima kasih Changbin hingga kedua kelopak matanya menyipit membentuk bulan sabit.
"Sama-sama, hyung."
KAMU SEDANG MEMBACA
Under The Moonlight ✓
FanfictionIn this fucked up world, Changbin doesn't want to be an alpha who live his life like a common alpha. He doesn't want to mate an omega, he just want a partner who can supress his animalistic side. That's why he chooses Felix, a beta, to be by his sid...
