26

932 165 4
                                        

Pagi itu genap 72 jam sejak Felix meninggalkan Changbin untuk kembali ke kediamannya.

Apartemennya kembali terasa sepi, dengan sisa-sisa aroma Felix yang masih tertinggal di beberapa tempatㅡdapur, sofa ruang tengah, balkon, dan kamar tamu. Ditambah lagi dengan bau hujan di luar yang membuat pikiran Changbin kembali melayang pada sosok Felix, yang entah sejak kapan mulai mengisi sudut-sudut gelap di benaknya.

"Felix, Felix. Lee Felix," Changbin mengucapkan nama pemuda itu dalam gumaman, tatapannya jatuh pada kandelir yang menggantung di langit-langit, "kenapa kamu berbohong...?"

Pembicaraan mereka di balkon tempo hari sesungguhnya benar-benar di luar dugaan Changbin. Ucapannya kala itu sebenarnya hanya untuk memancing Felix agar bicara jujur. Ia hanya ingin menguji apakah dengan mengatakan hal yang demikian maka Felix akan menceritakan pembicaraan dengan ayah dan ibunya waktu itu.

Nyatanya, Felix justru berusaha menutupi. Changbin tentu saja tahu karena ia mendengar jelas permintaan orangtuanya yang mengusulkan agar Felix saja yang menjadi mate-nya. Namun ia tidak pernah tahu jawaban Felix yang sebenarnya karena tidak menguping sampai habis. Sekarang Changbin hanya bisa berpegang pada asumsi yang ia buat berdasarkan reaksi yang diberikan Felix.

Dan Changbin mulai beranggapan bahwa Felix hanya berusaha mendekatinya karena mengikuti kemauan orangtuanya, bukan karena keinginannya sendiri.

Sedih rasanya ketika tahu bahwa ia membuka hati hanya untuk sebuah perasaan semu. Perhatian yang diberikan Felix, meskipun tulus, tetapi hanya sebatas profesionalitas saja. Mungkin saja sebenarnya Felix tidak pernah menginginkannya. Changbin tidak menyalahkan pilihan sang beta jika memang begitu, tetapi ia merasa patah hati bahkan sebelum memulai apa-apa.

Kelumit dalam pikirannya membuat Changbin ingin menghubungi Chan. Ia ingin menanyakan banyak hal tentang Felix karena temannya itu sepertinya tahu banyak tentang sang pemuda. Changbin hanya ingin memastikan satu halㅡdan hanya Chan yang mungkin bisa menjawabnya.

"Halo, Changbin? Tumben menelepon."

Kekehan Bang Chan di seberang sana membuat Changbin ikut tersenyum. Pria itu meraih gelas berisi jus jeruk di depannya sebelum menyesapnya pelan.

"Nggak boleh emangnya?" balas Changbin. Chan kembali tergelak.

"Bukan gitu. Kaget aja soalnya sejak ada Felix kamu jarang menelepon," ujar Chan. Changbin terdiam mendengar ucapan pria itu sebelum ia berdehem pelan.

"Ya. Soalnya dia sering cerita tentangmu jadi aku nggak merasa perlu tahu kabarmu. Cukup dari Felix saja."

"Ck, alasan. Bilang aja kamu sibuk sama Felix makanya nggak pernah sempat ngobrol denganku lagi," godanya. Changbin berdecak main-main sebelum tersenyum kecil, meskipun ia menggumamkan "terserahlah" di ponsel.

Kedua alpha itu berbicara cukup lama, membahas tentang hal yang tidak penting hingga pembicaraan serius. Salah satunya tentang beberapa kekacauan yang terjadi tak jauh dari perbatasan wilayah klan Bang Chan.

"Para alpha berandal itu mulai membuat kerusuhan. Mereka hampir menerobos ke wilayah klanku saat beberapa omega sedang dalam masa heat. Dan yang berjaga di perbatasan bilang kalau mereka sepertinya sudah mengintai sejak awal dan menyesuaikannya dengan jadwal rut mereka," ucap Chan. Changbin yang mendengar hal itu hanya bisa menggeram untuk menahan emosi.

"Apa para alpha ini berasal dari klan si Benjamin brengsek itu?" Changbin menggertakkan gigi.

"Ya, kamu benar," dari seberang telepon didengarnya Chan menghela napas.

Changbin tahu betul bahwa klan yang disebutnya tadi merupakan klan haus kekuasaan yang akan melakukan apapun untuk menaklukkan klan lain. Termasuk cara licik seperti membuat kekacauan dengan menerobos perbatasan saat mereka sedang dikuasai insting hewaninya.

"Lalu bagaimana kamu mengatasinya, hyung?"

"Untungnya penjaga perbatasan cekatan. Dan Felix sebagai pemimpin untuk para beta di sini memberi instruksi untuk melindungi omega. Jadi para alpha yang diturunkan untuk menumpas kekacauan itu."

Mendengar nama Felix disebutkan, Changbin bergegas menegakkan punggung. Entah kenapa ia jadi antusias hendak mendengar lanjutan tentang hal yang dilakukan Felix.

"Felix? Pemimpin para beta?" pancingnya. Chan sepertinya terdengar senang karena pertanyaan Changbin sehingga ia pun bercerita lebih banyak tentang pemuda itu.

Ada kebanggaan yang Changbin rasakan ketika mendengar Chan menceritakan tentang hal-hal baik dan penuh dedikasi yang dilakukan Felix terhadap klannya. Seperti Felix yang selama ini selalu berada di sisinya dan membantunya melalui masa sulit, pemuda itu punya keberanian besar dalam menghadapi tantangan.

Meskipun demikian, ada hal-hal yang membuat Changbin ingin melindunginya. Terutama setelah Felix menceritakan tentang kesedihan yang ia sembunyikan di balik topeng ketegaran itu, Changbin jadi ingin memberinya kekuatan dan penghargaan atas segala pengorbanan yang ia lakukan.

Changbin ingin...memeluknya lagi.

Lantas begitu selesai menelepon Chan, Changbin segera mencari nomor ponsel Felix dalam daftar kontak sebelum menghubunginya. Entah kenapa Changbin merasa ingin sekali mendengar suara Felix, meskipun beberapa saat lalu ia masih cukup terpukul karena pemuda itu.

"Halo, hyung?"

Gelombang kelegaan menyelimutinya saat suara Felix akhirnya terdengar di telinganya. Changbin tanpa sadar tersenyum dan menatap pada langit abu-abu di luar jendelanya, dagunya ditopang dengan sebelah tangan yang menumpu pada lengan sofa.

"Felix."

Nama itu terucap lagi untuk kesekian kalinya hari ini. Namun sekarang ia tak bicara pada udara kosong ataupun pada Chan. Ia berbicara langsung pada pemilik nama itu meskipun mereka tak saling bertatap muka.

"Ya? Ada apa meneleponku, hyung?" tanya Felix dengan nada yang membuat jantung Changbin berdetak lebih cepat. Suaranya yang dalam dan menenangkan membawa Changbin pada malam ketika ia terlelap di pelukan Felix.

"Felix...," ucap Changbin lagi, yang dibalas dengan pertanyaan serupa oleh pemuda di seberang sana hingga Changbin tertawa geli mendengarnya, "sebentar, aku mau bilang sesuatu."

"Iya, bilang aja hyung. Dari tadi manggil namaku terus, aku jadi bingung," Felix terkekeh, membuat Changbin perlahan menekuk lutut dan membawanya ke dada. Ia merasa seperti dilingkupi perasaan aneh tetapi menyenangkan. Dan keraguan pada Felix yang ia rasakan tadi entah kenapa lenyap begitu saja.

"Kenapa bingung? Aku kan cuma manggil," balas Changbin iseng. Felix kali ini tertawa.

"Oke, oke. Aku nggak akan bingung lagi~" senandungnya, "sekarang aku bakal tunggu hyung mau bilang apa."

"Hm," senyum Changbin semakin lebar, kemudian ia pun berkata, "gimana kalau besok kita makan siang bareng? Aku yang traktir."

Changbin tidak biasanya merasa gugup saat menunggu jawaban seseorang atas ajakan untuk makan bersama. Felix adalah sebuah pengecualian.

Maka tidak heran Changbin akhirnya menghela napas lega saat suara Felix kembali terdengar di seberang sana setelah terdiam beberapa detik.

"Oke, hyung. Ada ide mau makan siang di mana?"

Under The Moonlight ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang