11

1K 202 21
                                        

Kelopak mata Changbin masih terasa berat untuk dibuka. Namun ia paksakan menahan rasa kantuk demi menatap Felix yang saat itu sedang menotolkan antiseptik ke bekas cakaran di kulitnya. Wajah pemuda itu terlihat amat serius hingga Changbin bisa melihat kerutan dalam di antara alisnya.

Rasanya Changbin ingin sekali mengulurkan tangan demi menghapus kerutan itu, tetapi Changbin cukup yakin kalau Felix akan melemparkan tatapan aneh padanya. Selain itu Changbin juga masih belum pulih sepenuhnya hingga ia memutuskan untuk menatap Felix dalam keheningan.

"There. It's done," ucap Felix sambil tersenyum lega. Pemuda itu meletakkan pinset dan membuang kain kasa yang digunakan untuk menotol luka. Changbin balas memberinya senyum terima kasih, lalu menyandarkan tubuh di kepala ranjang.

Saat itu mereka masih berada di rumah orangtua Changbin, tepatnya di dalam kamar Changbin karena ia meminta Felix mengobatinya di sana. Kamar itu adalah tempat Changbin menghabiskan 20 tahun hidupnya sebelum ia pindah ke apartemen yang dihuni seorang diri. Tentu saja kamar itu merupakan tempat yang membuat Changbin merasa nyaman setelah menjalani hari berat sehingga ia lebih memilih diobati di sana daripada di ruangan lain dalam rumah itu.

Karena sudah cukup malam, ibunda Changbin melarang kedua pemuda itu untuk kembali ke kediaman masing-masing. Apalagi hujan di luar semakin deras hingga wanita itu khawatir mereka akan terjebak badai. Dengan kata lain, Changbin dan Felix harus menginap semalam di rumah orangtua Changbin dan baru boleh kembali besok pagi setelah sarapan.

Kalau Changbin sih tidak masalah karena di sini memang rumahnya juga. Namun ia jadi merasa tidak enak pada Felix yang terpaksa harus menginap di rumah orang lain yang sama sekali asing dan bisa membuatnya kurang nyaman. Apalagi jika kediaman tempat ia menginap jauh dari wilayah klannya, Felix bisa-bisa tidak tidur semalaman karena gelisah.

Pria itu sekilas menatap Felix yang sedang membereskan kotak P3K sebelum bertanya, "Kamu mau tidur di mana nanti, Lix?"

"Di mana saja nggak masalah. Sofa juga boleh, hyung," kekehnya. Setelah menutup lemari, ia kembali duduk di pinggir tempat tidur Changbin sambil mengutak-atik ponselnya. Barangkali hendak mengabari keluarganya bahwa ia menginap di rumah Changbin.

"Nggak mungkinlah di sofa," Changbin menghela napas. Ia ingin menawarkan kamar tamu, tetapi lokasinya berada di lantai satu rumahnya yang kebetulan berseberangan dengan kamar orangtuanya. Sementara kamar tamu yang berada di depan kamar Changbin sedang diperbaiki.

"Aku nggak apa-apa, hyung. Jangan terlalu dipikirkan," ucap Felix lagi.

"Tidur di sini aja gimana?" gumam Changbin tiba-tiba. Barangkali Changbin tidak begitu memikirkan dampak ucapan itu untuk Felix sehingga ia pun terkejut melihat Felix membelalakkan mata tidak percaya. Entah karena pemuda itu pikir Changbin barangkali asal bicara karena lelah atau ia serius dengan ucapannya.

"Uhm...oke?" didengarnya Felix menjawab ragu, matanya memindai sekeliling kamar untuk mencari sesuatu, "aku bisa pakai kasur lantai yang di sana."

Changbin mengarahkan tatapan pada telunjuk Felix yang menemukan sebuah tempat tidur ekstra berupa futon yang terlipat rapi di salah satu rak. Pria itu menghela napas sebelum mengangguk, diam-diam agak kecewa karena sebelumnya ia pikir bisa meminta Felix tidur di sampingnya sehingga ia bisa menghirup aroma tubuh Felix lebih dekat.

Entahlah, Changbin bingung kenapa tiba-tiba saja ia memiliki hipotesis bahwa bau Felix bisa menenangkannya. Ia teringat beberapa jam lalu, ketika hujan mulai deras mengguyur bumi, tubuh Changbin perlahan mulai rileks sehingga ia pun berhenti mencakar kulitnya sendiri. Ia pun bisa merasakan kenyamanan saat aroma hujan menari-nari di ruang bawah tanah dan membuatnya menyerah pada rasa kantuk.

Under The Moonlight ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang