ㅡsebulan kemudianㅡ
"Hm, ternyata begitu, ya."
Tuan Seo menyesap tehnya sembari mengangguk, lalu menatap ke arah putranya yang saat itu balas menatapnya lurus-lurus. Berbeda dengan Felix yang sejak tadi hanya menunduk lantaran malu setelah menceritakan hal yang sebenarnya pada kedua orangtua Changbin. Ibunda Changbin yang duduk di samping suaminya hanya tersenyum maklum pada dua anak lelaki di depannya.
"Kalian sebenarnya sudah lama saling menyukai tetapi malah denial dan menyebabkan kekacauan ini," ayahanda Changbin menyimpulkan, membuat Felix meringis malu.
Meskipun di sini Tuan Seo menasehati mereka berdua tanpa membeda-bedakan, tetapi Felix tetap merasa bersalah pada pria itu. Kepada dirinyalah orangtua Changbin meminta pertolongan. Felix sudah menyanggupi, tetapi ia justru tidak melakukan tugasnya dengan baik.
Hal itulah yang membuat Felix akhirnya bangkit dari sofa yang sedang ia duduki sebelum membungkuk sembilan puluh derajat di depan orangtua Changbin.
"Maafkan aku, Abeonim, Eommonim. Aku yang salah karena tidak menepati janji dan menyebabkan semua kekacauan ini. Aku benar-benar minta maaf. Dan aku siap dihukum kalau memang itu konsekuensi yang harus kuterima karena membuat Changbin hyung berada dalam bahaya," ucap Felix penuh penyesalan.
Pemuda itu bisa mendengar Changbin terkesiap, begitu pula dengan ibundanya. Namun Felix tidak akan menegakkan punggung sampai salah satu dari orangtua Changbin memintanya untuk kembali duduk.
"Hm," ayah Changbin kembali bergumam, "tegakkan punggungmu, anak muda."
Felix mematuhi ucapan ayah Changbin meskipun kepalanya masih tertunduk. Sekilas ia mendengar suara gerutuan Changbin. Namun Felix tidak menyangka bahwa sang alpha ikut berdiri di sampingnya lalu menggenggam tangan Felix sembari menatap kedua orangtuanya.
"Kalau Appa mau menghukum Felix, hukum aku juga," Changbin berkata tegas. Felix melemparkan tatapan tidak percaya ke arah lelaki itu, tetapi ia tidak bergeming.
"Hyung, kenapa malah ikut-ikutan?" desis Felix di balik kepalanya yang masih menunduk. Changbin meremas jemari Felix lebih erat untuk menyuruhnya diam. Felix hampir kembali menyuarakan protes jika saja ayah Changbin tidak berdehem dan membuat keduanya bungkam.
"Kenapa kalian malah ribut? Aku yang menentukan siapa yang dihukum," celetuk ayah Changbin. Felix lantas menunduk lagi sementara Changbin perlahan menyelipkan jemarinya di antara jemari Felix lalu menyembunyikannya di sakunya.
"Baik, Appa."
"Baik, Abeonim."
Kedua lelaki itu menjawab serentak, membuat kedua orangtua Changbin mengulum senyum.
"Kurasa nggak perlu ada yang dihukum," tiba-tiba ibu Changbin berkata lembut, membuat kedua lelaki itu menatapnya dengan sorot kaget, "Kalian berdua sudah dewasa, bukan anak-anak lagi. Dan kalian sama sekali nggak melakukan hal yang melanggar hukum. Kurasa cukup dengan introspeksi diri saja."
Felix bisa merasakan kekaguman yang begitu besar pada kelembutan ibunda Changbin. Bagaimana kata-katanya bisa membuat suasana yang semula tegang menjadi kembali santai. Begitu pula dengan ekspresi ayahanda Changbin yang tidak lagi terlihat menyeramkan seperti tadi. Felix diam-diam menghela napas lega.
"Terima kasih, Eommonim," Felix membungkuk lagi dan memberi wanita itu seulas senyum yang dibalas dengan hal yang sama.
"Tapi kuharap kalian sudah memutuskan kapan akan mengumumkan status kalian pada klan," tambahnya.
Mendengar perkataan itu, Felix tiba-tiba saja mematung. Ujung jemarinya mendadak saja terasa dingin karena kegugupan yang menguasai. Felix tidak mengerti kenapa ia mendadak gugup dengan permintaan ibunda Changbin. Sejujurnya Felix khawatir akan reaksi yang diberikan klan Changbin terhadap kehadirannya. Maka ia pun meminta Changbin agar tidak memberitahukan apapun dulu pada klannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Under The Moonlight ✓
FanfictionIn this fucked up world, Changbin doesn't want to be an alpha who live his life like a common alpha. He doesn't want to mate an omega, he just want a partner who can supress his animalistic side. That's why he chooses Felix, a beta, to be by his sid...
