Awalnya Felix tidak berniat untuk menyusul Changbin ke rumah orangtuanya saat itu. Ia teringat pada perkataan sang alpha yang akan menghubunginya begitu ia selesai dengan urusannya.
Selama menunggu, Felix sudah hapal di luar kepala isi file biodata yang dikirimkan oleh Changbin. Ia mempelajari semuanya, mencocokkan beberapa kebiasaan mereka yang sama dan yang bertentangan, lalu mencoba untuk membuat rencana mengenai hal yang akan dilakukan setelah ini. Namun saat Felix membaca tentang riwayat Changbin selama mengalami rut, barulah ia menyadari bahwa ada yang tidak beres.
Felix mulai merasa khawatir karena Changbin belum menghubungi ketika seharusnya pria itu sudah bisa menghubungi.
'Lama masa rut Seo Changbin berkisar antara satu sampai dua hari. Waktu yang bisa dibilang singkat berkat kondisi tubuh yang terjaga dengan baik sehingga hormonnya pun seimbang. Waktu terlama bagi Seo Changbin mengalami masa rut adalah lima hari, yaitu pada saat pertama kali ia diketahui sebagai alpha. Jika ia mengalami rut yang lebih lama, artinya Seo Changbin sedang berada dalam kondisi yang tidak sehat dan membutuhkan perawatan untuk memulihkan kondisinya,' begitu yang tertulis di file biodata Changbin.
Hal itulah yang membuat Felix terus menghitung mundur waktu yang tersisa sembari berjalan bolak-balik di apartemennya. Ia sedang menimbang apakah perlu menghubungi ponsel Changbin dan memastikan bahwa partnernya baik-baik saja atau langsung menuju kediaman Changbin dengan risiko membuat pria itu kesal.
"Ah, sudahlah."
Felix menyambar ponselnya dan segera menghubungi ponsel Changbin. Tidak lama kemudian ia mendengar suara sapaan di seberang sana yang ternyata adalah wanita. Suara ibunda Changbin.
"Eommoni, ini aku Felix," sapanya. Wanita di seberang sana membalas sapaannya ramah dan Felix segera memberitahunya maksud dan tujuan menelepon agar tidak mengganggu ibunda Changbin.
"Apa aku bisa bicara dengan Changbin hyung?"
"Ah, Binnie masih berada di basement, Felix."
Seketika seluruh tubuh Felix terasa bagaikan disiram air dingin. Hampir 48 jam berlalu dan Changbin masih belum keluar dari tempatnya mengurung diri. Kekhawatiran Felix bertambah besar, mungkin karena ia merasa takut dengan kondisi Changbin setelah mendengar sendiri bahwa ia akan terluka begitu keluar dari sana.
Padahal selama ini Felix bergaul dengan Chan yang juga merupakan alpha seperti Changbin, tetapi pria itu entah kenapa selalu berhasil melalui gejolak hormonnya tanpa terluka sedikitpun.
("Changbin itu denial terhadap kondisinya, Felix. Mungkin itulah yang membuat situasinya berbeda dan lebih menyakitkan baginya," begitu penjelasan Chan saat Felix menanyakan tentang maksud ucapan Changbin tempo hari.)
Maka tanpa ragu Felix meminta izin pada ibu Changbin untuk menyusul ke sana. Wanita itu mempersilakannya dengan senang hati sehingga Felix pun bergegas melesat ke kediaman orangtua Changbin tanpa menunggu lama.
"Felix! Changbin baru saja bilang ia sudah selesai. Aku akan menjemputnya ke basement dulu," ujar ayah Changbin saat pria itu menyambutnya di pintu masuk.
"Ah, bagaimana kalau saya saja yang menjemputnya, abeoji? Biar abeoji istirahat saja di sini," Felix menawarkan diri. Pria itu awalnya terlihat kaget. Namun setelah berpikir beberapa detik ia pun memberi izin. Tanpa banyak kata, Felix segera mengikuti petunjuk tuan rumah untuk menyusuri jalan menuju basement.
Jalan menuju basement memang agak remang-remang, tetapi tak satupun Felix temukan sarang laba-laba maupun debu tebal yang menandakan tempat itu jarang dibersihkan. Felix beruntung karena berhasil turun tanpa halangan berarti, hingga ia menemukan pintu bergerendel yang persis dengan deskripsi ayah Changbin sebagai pintu ruangan basement yang ditempati sang alpha.
Felix membukanya agak tergesa karena tangannya gemetar. Beruntung tidak lama kemudian gerendelnya bisa terlepas hingga Felix bisa mengayunkan daun pintu hingga terbuka. Sang beta sama sekali tidak menyangka bahwa Changbin ternyata sudah menunggu di satu-satunya sofabed jelek yang ada di ruangan itu, dengan wajah letih dan tubuh penuh luka bekas cakaran dan tangan yang diperban.
Felix terkesiap, benar-benar tidak dapat mempercayai matanya.
"Hyung...? Are you...are you okay?"
Changbin terlihat sama kagetnya dengan Felix, tetapi ekspresi itu segera berganti menjadi senyum kecil yang terlihat agak kaku. Kepala Changbin tertunduk sekilas, sengaja memutus kontak mata dengan Felix, sebelum tatapannya ke arah lain.
"I'm okay now, Lix. I'm fine," gumamnya.
Felix ingin mendekat, ingin memastikan bahwa luka-luka di tubuh Changbin itu nyata atau hanya ilusi optik belaka. Namun belum ada perintah dari sang alpha sehingga Felix pun tidak bergeming. Ia terus menatap Changbin dalam diam, ekspresi horor yang terpeta di wajahnya cukup jelas menandakan bahwa ia masih syok melihat kondisi Changbin yang demikian.
"Felix," kini giliran Changbin yang bertanya sehingga Felix pun diam-diam menelan ludah. Tatapan Changbin terlihat letih, tetapi entah kenapa Felix bisa melihat kekhawatiran di sana.
"Are you okay?"
Entah kenapa saat itu Felix menjawab pertanyaan Changbin dengan gelengan. Ia juga tidak tahu apa yang menggerakkannya untuk menerima uluran tangan Changbin yang tiba-tiba menariknya agar bisa duduk di sebelah pria itu.
Aroma mahogani bercampur kopi begitu pekat memenuhi inderanya meskipun tersamarkan oleh bau hujan di luar. Namun Felix sama sekali tidak menjauhkan diri saat Changbin tiba-tiba menjatuhkan kening di pundak Felix dan bersandar penuh di lengan kanannya.
"Kalau begitu istirahat dulu di sini sebentar sampai kamu membaik."
Gumaman Changbin yang terdengar begitu dekat di telinga Felix membuat sekujur tubuhnya tiba-tiba gemetar pelan. Ia tidak mengerti alasan Changbin melakukan itu, tetapi Felix tidak bisa menolak keinginan sang alpha. Maka ia hanya bisa mengangguk dan menelan saliva lantaran gugup.
Menunggu Changbin menegakkan tubuh sembari mencoba menenangkan jantung di rongga dada yang mulai kacau detaknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Under The Moonlight ✓
FanfictionIn this fucked up world, Changbin doesn't want to be an alpha who live his life like a common alpha. He doesn't want to mate an omega, he just want a partner who can supress his animalistic side. That's why he chooses Felix, a beta, to be by his sid...
