Sejak siang, Changbin sudah bersiap-siap begitu asisten rumah tangganya selesai bekerja. Ia sudah menyusun beberapa bahan makanan untuk membuat creamy pasta dan makanan lain sebagai pelengkap. Changbin suka memasak, meskipun kemampuannya masih jauh dibawah koki profesional. Namun kedua orangtuanya mengakui kelezatan masakannya sejak ia mulai belajar memasak saat masih SMA.
Changbin tidak tahu apa yang membuatnya bersemangat untuk memberikan impresi baik pada Felix. Apakah karena ia senang menunjukkan kemampuannya? Atau ia hanya ingin Felix betah menemaninya? Changbin tidak tahu apa yang sebenarnya ingin ia capai dari makan malam kali ini.
Daripada pusing memikirkan hal tersebut, Changbin memilih untuk berhenti berekspektasi. Apapun yang terjadi nanti, ia harap Felix menyukai masakan yang ia buat.
Tidak terasa Changbin sudah menghabiskan hampir satu jam untuk bersiap-siap. Ia tidur siang sebentar karena lagi-lagi tubuhnya terasa mulai tidak nyaman. Pukul empat sore Changbin terbangun dan bersiap untuk memasak.
Bibirnya tak henti menyunggingkan senyum saat membayangkan reaksi Felix nantinya saat melihat masakan yang dihidangkan Changbin.
Pukul setengah tujuh malam Changbin bergegas untuk membersihkan diri sebelum Felix tiba. Saat pria itu selesai berganti baju, didengarnya bel pintu berdering. Changbin lantas berjalan santai menghampiri pintu dan menemukan Felix di sana dalam balutan kaos berlapis jaket kulit dan celana jeans hitam. Mereka bertukar senyum sebelum Changbin mempersilakan sang beta memasuki apartemennya.
"Ini buatmu," Changbin sedikit terkejut saat Felix tiba-tiba menyerahkan sebotol red wine padanya. Namun setelahnya ia tersenyum makin lebar sebelum menepuk pundak Felix dengan gestur senang.
"Makasih, Lix. Harusnya kamu nggak perlu repot-repot bawain ini segala," ujar Changbin. Namun Felix hanya menggelengkan kepala sebelum melempar cengiran.
"Nggak apa-apa, hyung. Ini kan kesukaanmu."
Changbin merasa tersanjung karena Felix ingat ucapannya tempo hari. Ah, benar juga. Pemuda itu bilang ia sudah mencatatnya. Pantas saja.
"Nanti kita minum ini sambil makan malam," tuturnya lagi. Felix mengerjap, tetapi ia tidak mengatakan apapun saat mengikuti langkah Changbin menuju meja makan.
"Whoa. Creamy pasta," Felix bergumam takjub sebelum tatapannya jatuh pada Changbin yang berada di seberang meja. Pria itu hanya mengedikkan bahu cuek sembari membuka tutup wine. Begitu menyadari Changbin hendak menuangkan minuman, Felix langsung mengulurkan tangan untuk meminta botol tersebut, "Sini biar aku saja, hyung."
"Nggak apa-apa, Felix," Changbin menolak halus. Ia tahu Felix mungkin tidak enak pada Changbin karena harusnya yang lebih muda yang menuang minuman, tetapi Changbin sama sekali tidak mempermasalahkan itu. Maka pemuda itu pun mengangguk sembari mengucapkan terima kasih pada Changbin yang sudah menuangkan wine ke gelasnya.
"Masakanku mungkin nggak seenak masakan restoran, tapi biasanya kalau ditemani wine pasta ini bisa jadi lebih enak," Changbin berkelakar untuk mencairkan suasana, yang ternyata berhasil membuat Felix tersenyum.
"Let's see, hyung."
Setelahnya tidak ada lagi di antara mereka yang berbicara. Yang terdengar hanyalah denting peralatan makan dan sesekali gumaman samar saat Felix merasakan enaknya masakan Changbin yang di luar dugaan. Sementara sang tuan rumah hanya mengulum senyum sembari menikmati makanan sekaligus memperhatikan ekspresi sang beta yang ada di seberangnya.
"Enak?"
"Mmhm. Sempurna."
Sudut bibir kanan Changbin terangkat membentuk seringaian kecil, sebelum pria itu menyesap wine dari gelasnya perlahan.
"Glad you like it."
"Kalau seorang alpha sepertimu bisa melakukan apapun, nggak heran kamu nggak butuh pasangan," gumam Felix. Changbin hampir tersedak minumannya saat mendengar celetukan ini sebelum ia mencetuskan tawa pelan.
"Ya, Lee Felix. Memangnya mencari pasangan itu cuma buat disuruh mengerjakan pekerjaan rumah tangga apa? Bukan seperti itu harusnya," protes Changbin. Felix pun ikut tertawa dan Changbin bisa melihat betapa tawa Felix kali ini terlihat berbeda. Sudut matanya berkerut manis, begitu pula sisi pipinya yang tertarik lantaran tawanya begitu lepas.
"Aku bercanda, hyung," pemuda itu melambaikan tangan. Mereka sama-sama sudah menandaskan isi piring masing-masing sehingga Changbin berinisiatif untuk membersihkan peralatan makan yang kotor. Namun tiba-tiba tangannya ditahan oleh Felix, membuat Changbin menoleh pada sang pemuda yang masih menyunggingkan senyum di wajah.
"Let me do the dishes," ia menawarkan diri, lalu membawa piring kotor ke belakang untuk mencucinya.
Changbin tidak tahu apa yang membuatnya tiba-tiba membeku di tempat begitu matanya bersirobok dengan netra hazel kecoklatan milik Felix. Mungkin ia hanya terkejut karena jemari Felix yang tidak sengaja menyentuh jemarinya menimbulkan gelenyar aneh yang menjalar seluruh tubuh. Atau karena senyum Felix yang terlihat berbeda di matanyaㅡmanis dan memabukkan bagai wine yang mereka sesap sepanjang makan malam.
Benak Changbin entah kenapa berhenti berpikir sejenak hingga Felix pun sudah terlebih dahulu membawa piring bekas makan mereka ke belakang tanpa menunggu Changbin bereaksi.
"Oke." There comes the answer.
Sayup-sayup Changbin mendengar Felix terkekeh sementara sang alpha tetap berada di sana untuk merapikan meja makan. Setelah semuanya tersusun kembali di tempat semula, Changbin menunggu Felix selesai dengan pekerjaannya sambil bersandar di salah satu konter dapur.
"Kenapa masih berdiri di sana, hyung?" tanya Felix yang sedang mengeringkan tangan. Changbin hanya mengedikkan bahu sekilas, lalu menyerahkan gelas wine milik Felix untuk dibawa pemuda itu.
"Aku janji mau menunjukkan peta wilayah milik klanku, ingat?"
"Ah, ya," Felix kembali tersenyum, matanya berkilat antusias hingga Changbin pun refleks membalas senyumnya, "apa tidak apa-apa diperlihatkan padaku? Maksudku...aku kan dari klan lain?"
"Nggak masalah," Changbin melambaikan tangan singkat sebelum tiba-tiba saja mencondongkan tubuh untuk berbisik ke arah Felix, "karena kamu sudah jadi partnerku, bagian ini juga harus kamu ketahui, Lix."
Changbin tidak mengerti kenapa ia begitu berani hari ini dan memperlakukan Felix bagai seseorang yang sudah menjadi teman akrabnya selama bertahun-tahun. Mungkin karena alkohol yang mulai mempengaruhi sistemnya, atau mungkin karena Changbin mendapati aroma hujan dan kue coklat dari tubuh Felix membawa ketenangan lebih untuknya. Ditambah lagi Felix juga tidak terlihat keberatan, sehingga Changbin tidak sungkan merangkul pundak Felix saat mereka berjalan bersisian ke ruang kerja Changbin.
Ia merasa senang karena Felix tidaklah serumit yang diceritakan Chan.
"Okay, then. Please lead the way, Changbin hyung," ucap pemuda itu tenang. Changbin lantas mengangguk sebelum membukakan pintu ruang kerjanya, mempersilakan Felix masuk terlebih dahulu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Under The Moonlight ✓
FanfictionIn this fucked up world, Changbin doesn't want to be an alpha who live his life like a common alpha. He doesn't want to mate an omega, he just want a partner who can supress his animalistic side. That's why he chooses Felix, a beta, to be by his sid...
