[!!!]tw: graphic description of violence, blood, and use of weapon. please consider this warning before you read.
*
"Ugh."
Pukulan yang mengenai rahangnya tadi memang terasa menyakitkan. Ditambah lagi dengan lebam yang semula ada di sana, membuat Changbin seolah tidak lagi bisa merasakan wajahnya. Namun semua rasa sakit itu tidak ada apa-apanya dibandingkan hatinya yang hancur melihat gurat ketakutan di wajah Felix.
Ancaman Benjamin sudah sangat keterlaluan. Pria itu benar-benar tidak punya hati jika membiarkan Felix menyaksikan Changbin saat pria itu dikendalikan oleh insting hewaninya. Changbin berusaha memberontak, melakukan apapun yang membuat Benjamin akhirnya mengulur waktu.
Changbin tidak akan membiarkan Felix melihatnya menyentuh orang lain. Karena hanya Felix satu-satunya yang ingin Changbin sentuh dan itu adalah keputusan final.
"Keparat! Aku tidak akan semudah itu masuk perangkapmu!" bentak Changbin. Meskipun tenggorokannya sakit karena terlalu banyak berseru, tetapi ia tidak akan tinggal diam. Changbin akan melakukan apapunㅡapapunㅡagar ia tidak kehilangan akal sehat saat Felix ada di hadapannya.
Changbin ingin berteriak bahwa ia butuh, sangat membutuhkan Lee Felix. Ia butuh merasakan kehangatan kulitnya, harum petichor yang menguar dari tubuhnya, dan hembusan napasnya yang menenangkan. Namun semua itu tak bisa ia utarakan karena ia tahu hal itu akan membuat Benjamin semakin ingin menyiksanya.
"Tidak ada yang mau memerangkapmu, Seo. Aku cuma ingin membantu," pria itu melambaikan tangan santai. Changbin memperhatikan Benjamin yang bergerak menuju salah seorang anak buahnya. Lalu entah kenapa tatapan Changbin refleks berpindah pada Felix seolah merasakan bahwa pemuda itu hendak mengisyaratkan sesuatu.
Manik hazel pemuda itu bergulir ke kanan bawah, memberi gestur pada Changbin untuk mengikuti tatapannya. Matanya menyadari kilatan samar ujung pisau lipat yang tadi digunakan Felix untuk membantu melepaskan talinya. Changbin bisa merasakan darah yang berdesir di balik telinganya ketika dilihatnya Felix menatapnya penuh determinasi.
Seolah Felix menaruh harapan besar pada Changbin untuk menyelamatkan mereka dengan caranya meskipun Changbin masih belum mengetahui apa yang direncanakan Felix.
"You didn't know that Chan and his whole pack will save me himself, did you?" Changbin memulai provokasinya, sengaja membuat nadanya terdengar pongah agar alpha jahat itu tersulut, "He will do anything to help me. Because he won't let you take what's his."
Ucapan itu membuat Benjamin serta merta berbalik ke arah Changbin dan menatapnya tajam.
"What the hell are you talking about?!" desisnya. Changbin mendengus. Meskipun tatapannya tertuju pada Benjamin, tetapi ia bisa mengawasi Felix dari pandangan periferalnya.
"Oh, you knowㅡ" Changbin kembali mengulur-ulur waktu agar Benjamin tidak mengalihkan tatapan darinya. Lalu ketika ia hendak membuka suara, mereka dikejutkan oleh lolongan kesakitan seseorang.
Changbin dan Benjamin serentak menoleh pada Felix yang berhasil menusuk perut orang yang tadi memeganginya hingga pria itu terjerembab. Beberapa yang lain serentak hendak menyerang Felix sementara Benjamin ikut menodongkan pistol ke arahnya.
Namun sebelum pria itu menarik pelatuk, Changbin melayangkan tendangan tinggi hingga menghantam sisi kepala Benjamin. Pistolnya terlepas dan melayang cukup jauh, tetapi Felix langsung bergulir ke depan agar ia bisa meraih senjata itu.
Hanya saja...sepertinya bukan hanya Benjamin yang hendak meraih pistol itu kembali. Seseorang dari sisi lainnya juga ada yang ingin meraih pistol itu seperti Felix hingga Changbin pun refleks memperingatkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Under The Moonlight ✓
FanfictionIn this fucked up world, Changbin doesn't want to be an alpha who live his life like a common alpha. He doesn't want to mate an omega, he just want a partner who can supress his animalistic side. That's why he chooses Felix, a beta, to be by his sid...
