34

1.2K 181 35
                                        

Suara bel yang terdengar di pintu depan apartemen membuat Felix berhenti dari pekerjaannya yang sedang membereskan meja. Pemuda itu menghampiri layar interkom dan terkejut mendapati sosok Changbin sudah berada di sana.

Ada apa? Felix bertanya-tanya dalam hati. Pasalnya dua jam yang lalu mereka baru saja bertemu di kediaman Chan untuk membahas kelanjutan proses hukuman terhadap Benjamin dan komplotannya. Felix jadi berpikir bahwa ada hal penting yang ingin dibicarakan sang alpha dengannya tanpa ketahuan oleh yang lain.

Tapi...apa?

Begitu Felix membuka pintu, ia disambut oleh Changbin yang tersenyum kecil. Pria itu memberinya lambaian singkat, lalu berkata, "Maaf. Tadi aku lupa memberikan sesuatu padamu jadi...aku mampir ke sini."

Felix mengerjap pelan sebelum beranjak dari pintu, "Silakan masuk, hyung."

Felix menuntun Changbin untuk duduk di sofa. Ketika ia hendak mengambilkan minuman, Changbin menahan tangan Felix sehingga ia pun akhirnya menurut.

"Nggak usah repot. Aku sebentar aja, Lix. Duduk di sini dulu," pintanya.

Lantas Felix pun duduk di sisi Changbin dan menunggu apapun yang hendak disampaikan pria itu.

Perlahan Changbin merogoh saku jaketnya sebelum mengeluarkan pisau lipat milik Felix yang ia cari-cari sejak minggu lalu. Wajah Felix berubah cerah ketika ia mengambil pisau yang disodorkan Changbin sebelum berkata, "Makasih, hyung! Di mana hyung temukan pisauku?"

"Terjatuh waktu itu di sekitar gudang. Maaf aku baru sempat mengembalikannya sekarang," gumam Changbin. Felix tersenyum kecil, lalu melambaikan tangan pertanda ia tidak masalah dengan hal itu.

"Yang penting hyung udah menyimpannya baik-baik selama itu," Felix menyengir dan meletakkan pisau lipatnya di meja. Changbin mengangguk pelan, lalu mengusap tengkuk. Felix merasa bingung dengan perubahan sikap Changbin ini hingga ia pun kembali bertanya.

"Ada sesuatu yang lain yang ingin hyung katakan padaku?"

Pemuda itu tidak sengaja memperhatikan Changbin yang meremas jemarinya sendiri seolah gugup. Entah kenapa ia pun jadi ikut gugup sehingga tanpa sadar Felix menggigit bibir bawahnya.

"Hm, begitulah. Kuharap kamu mengerti, Lix," Changbin menunduk sekilas sebelum tatapannya beralih pada Felix. Sorot matanya yang terlihat sendu membuat perut Felix seolah bergolak tidak menyenangkan. Ia bisa merasakan firasat buruk tentang hal yang hendak Changbin katakan setelah ini.

"Sepertinya aku sudah terlalu sering merepotkanmu. Untuk selanjutnya, kamu nggak perlu datang saat aku rut. Kurasa...aku akan kembali melakukan cara lama dan jika tidak tertahankan, aku akan memakai supresan saja."

Felix terhenyak. Netranya menatap Changbin dengan sorot nanar sebelum pria itu sendiri yang memutuskan kontak mata. Tidak. Bagaimana mungkin jadi begini? Bagaimana bisa Changbin berpikir untuk berhenti meminta bantuan Felix saat ia sama sekali tidak merasa keberatan dengan apapun? Ia bahkan tidak pernah mengutarakan kata protes atau apapun yang menunjukkan bahwa ia tidak menyukai tugasnya sebagai partner Changbin.

Rasanya seperti dicampakkan...setelah ia memendam rasa terlalu lama. Felix tidak terima sehingga ia pun mengucapkan sesuatu yang pertama kali terbersit di benaknya.

"Kenapa? Kenapa hyung nggak mau lagi kubantu? Aku nggak masalah kalau hyung mau menggunakanku sebagai pelampiasan."

Perkataan Felix membuat Changbin membeku di tempatnya. Ia menatap Felix dengan sorot tidak percaya, kedua alisnya mengernyit tidak suka.

"Are you hearing yourself right now, Lee Felix?" gumamnya datar. Felix mengangguk keras kepala dan membalas tatapan Changbin tanpa merasa gentar sedikitpun.

"Alpha jahat itu bilang kalau kau datang padaku waktu itu karena instingmu. Itu artinya aku bisa membantumu, Changbin hyung."

Ucapan itu dibalas Changbin dengan dengusan kesal dan sorot terluka yang sama sekali tidak Felix pahami maksudnya. Jantungnya berdebar mengantisipasi ketika Changbin terdiam cukup lama tanpa menatap Felix, hingga akhirnya menghembuskan napas lelah.

"Aku nggak akan melakukan itu pada orang yang nggak mencintaiku."

Selama beberapa saat, hanya keheningan yang melingkupi mereka hingga gumaman pelan tercetus dari bibir Felix.

"Tapi aku mencintaimu, Changbin hyung."

Ia tidak bisa menahan kesedihan saat mendengar ucapan Changbin tadi. Setelah semua yang ia lakukan, bagaimana bisa pria itu tidak menyadarinya? Felix menggigit bibir sembari menarik plester yang menutupi pergelangan tangan kirinya, memperlihatkan jelas tato berbentuk matahari dan bulan yang masih sedikit memerah. Sebuah kenekatan yang ia lakukan tiga hari lalu sebagai bentuk keinginannya untuk terus mencintai Changbin dalam diam.

"I love you. Everything that I did the past week...almost saving you alone, almost die for you...didn't you get the clue?" lirih Felix berkata. Tatapannya kembali jatuh pada sosok Changbin yang terlihat seolah terguncang, jemarinya perlahan menyentuh pipi sang alpha lembut.

"I want to be the moon to your sun," gumamnya sembari tersenyum sedih, "aku nggak akan melakukan semua itu untukmu kalau aku nggak mencintaimu, hyung."

Detik demi detik yang berlalu terasa menyesakkan hingga Felix nyaris meminta maaf karena sudah bicara terlalu banyak. Namun tiba-tiba saja Changbin menarik tubuh Felix dan memerangkapnya dalam pelukan erat yang menyesakkan.

Felix bisa merasakan tubuh Changbin terguncang, tetapi ia nyaris tidak percaya ketika mendengar isakan pelan sang alpha yang menyembunyikan wajah di pundaknya. Membasahi pakaiannya dengan air mata haru yang membuat Felix lekas mengusap punggung Changbin untuk menenangkannya.

"Felix...Lee Felix...," pria itu membisikkan namanya dengan nada sedih, lalu berkata, "I'm so sorry..."

Perlahan Felix melepaskan pelukan, lalu mengusap wajah Changbin yang basah oleh air mata. Ia tersenyum kecil saat sang alpha memejamkan mata begitu merasakan sentuhannya.

"Kalau begitu, giliranku bertanya," Felix bergumam sebelum menangkup wajah Changbin di kedua telapak tangannya. Hatinya menghangat saat pria itu membalas dengan anggukan dan menatapnya dengan sorot penuh harap dan mata yang basah. He is so beautiful, Felix berkata dalam hati, dan ia merasa bahagia karena hanya dirinya yang bisa melihat sisi lain sang alpha yang tidak pernah ditunjukkannya pada siapapun selama ini.

"Do you love me too, Changbin hyung?"

Diperhatikannya kelopak mata pria itu terpejam, membuat sebutir air mata mengalir di pipi kanannya, lalu jatuh di ujung jemari Felix.

"I love you. I only love you, Felix. I...I don't want to have a mate if they are not you."

Senyum Felix melembut. Lantas ia mendekatkan wajah untuk memberi Changbin kecupan lembut di kedua matanya.

"Okay," Felix mengangguk sebelum kembali memeluk Changbin erat.

Dan untuk beberapa saat tidak ada yang hendak melepaskan pelukan dari satu sama lain, hingga Changbin menjauhkan diri perlahan untuk balas menangkup pipi Felix.

"Would you be my mate, Lee Felix?" Changbin akhirnya mengucapkan kata-kata yang sejak tadi ia tunggu. Pemuda itu tersenyum semakin lebar sebelum menautkan kelingking mereka dan mengecup jemari yang saling bertaut.

"I'd love to be your mate, my Alpha."

Senyum yang akhirnya terulas di bibir Changbin membuat Felix terkekeh bahagia. Dan ia terlambat menyadari saat sang alpha perlahan mendekat dan mendaratkan kecupan lembut di bibir Felix yang membuatnya terdiam seketika.

"Terima kasih, Felix. Untuk semuanya," Changbin lantas menautkan jemari mereka sebelum mendaratkan kecupan yang sama lembutnya di tato yang berada di pergelangan tangan Felix. Pemuda itu tersenyum kecil sebelum kembali menenggelamkan Changbin dalam pelukan erat.

"Anything for you, my Sun."

Under The Moonlight ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang