8

1K 192 13
                                        

Sudah hampir tiga hari berlalu sejak makan malam di rumah Changbin. Yang artinya kemungkinan masa rut Changbin sudah semakin dekat. Felix sejak tadi tidak bisa tenang bekerja membantu Chan di kelas renangnya sehingga ia pun meminta izin untuk pulang lebih cepat. Felix belum dihubungi oleh Changbin sama sekali pagi ini hingga ia pun mulai membayangkan kemungkinan terburuk.

"Hati-hati di jalan ya, Lix."

Chan melambaikan tangan dari kejauhan yang dibalas singkat oleh pemuda itu. Ia merasa agak lega karena Chan tidak bertanya. Namun ia punya firasat pria itu akan meminta penjelasan nanti ketika urusan Felix sudah selesai.

Begitu sampai di mobil, Felix kembali mengecek ponsel dan mendapati tidak ada notifikasi baru. Refleks pemuda itu mendecakkan lidah sebelum menelusuri kontak Changbin dan menghubunginya via panggilan suara. Cukup lama nada tunggu terdengar cukup lama membuat Felix agak khawatir. Namun di dering ke lima Changbin akhirnya mengangkat ponselnya.

"Halo? Felix?"

"Hyung," Felix tidak tahu bahwa sejak tadi ia menahan napas menunggu jawaban Changbin, "lagi dimana sekarang?"

"Lagi menuju rumah orangtuaku. Kenapa?"

Felix agak terkesiap sebelum ia bertanya hati-hati, "Sendirian? Apa sudah waktunya?"

Changbin terkekeh di seberang sana meskipun Felix bisa menyadari bahwa nada bicaranya sedikit berbeda dibanding yang sering Felix dengar selama ini. Agak rendah dan entah kenapa napasnya terdengar cukup cepat di ponsel.

"Ya, sepertinya begitu. Aku langsung cari aman. Dan ya, aku sendirian."

Benak Felix berpikir cepat lantaran ia sedang mempertimbangkan untuk menyusul Changbin atau tidak. Hanya saja ia ragu apakah Changbin membutuhkan bantuannya karena pria itu sejak awal tidak menghubungi Felix untuk melakukan sesuatu hari ini.

"Lix? Masih di sana?"

Suara Changbin di seberang sana membuyarkan lamunannya hingga Felix pun segera bergumam untuk memberitahu keberadaannya. Rasanya agak aneh jika Felix tiba-tiba menawarkan untuk mendampingi Changbin menuju kediaman orangtuanya. Mungkin karena Felix yang terbiasa menunggu perintah sebagai beta dan bukannya meminta untuk diberi instruksi. Maka ia pun berusaha mencari topik lain untuk membuat pembicaraan mereka berlanjut.

"Kapan hyung kembali?" gumamnya tanpa benar-benar berpikir. Dan ketika ia menyadari bahwa bisa saja konteks kalimat itu memunculkan kesalahpahaman, ia segera mengklarifikasi, "maksudku biasanya berapa lama hyung akan mengurung diri? Sehari dua hari atau lebih? Aku perlu mencatatnya."

Di seberang sana kembali terdengar kekehan dari sang alpha. Felix menghembuskan napas pelan, agak malu karena mengetahui bahwa Changbin baru saja menertawakannya. Felix tidak menyuarakan protes. Ia maklum karena memang pertanyaannya tadi terdengar konyol (karena ia tidak berpikir).

"Nggak perlu dicatat, Lix. Aku sudah mengirimkan file-nya padamu di e-mail. Biodataku, lengkap dari A sampai Z," tukas Changbin. Felix nyaris tidak percaya sehingga ia segera membuka tablet untuk mengecek e-mail pribadinya yang ia bagi pada Changbin. Ternyata benar. Ada file baru berisi data-data Changbin dan sangat lengkap sehingga Felix bergumam takjub tanpa sadar di ponsel.

"Woah...ada nama mantan calon mate juga," gelak Felix. Changbin langsung terdengar panik dan ia merutuki seseorang bernama Seungmin yang baru Felix dengar namanya hari itu.

"Itu sebelum orangtuaku tahu aku nggak butuh mate," lekas Changbin menjelaskan. Felix hanya tertawa, lalu kembali membaca biodata partnernya sambil bicara di telepon.

"Siapa Seungmin? Temanmu?"

"Iya. Dia beta di klanku."

"Hm," Felix mengangguk, "kenapa kamu nggak menjadikan dia partner saja? Lagian kalian sudah kenal lama."

Didengarnya Changbin mendenguskan tawa sebelum berkata, "Dia nggak memenuhi kualifikasi, Lix. Seungmin sudah kuanggap seperti adik sendiri, jadi akan terasa aneh. Lagipula dia nggak pernah pro padaku."

Penjelasan Changbin membuat Felix diam-diam tersenyum sebelum ia mengambil pulpen dan mulai mencatat informasi tersirat yang diberikan Changbin soal Seungmin. Pemuda itu memasukkan nama Seungmin dalam daftar orang terdekat Changbin.

"Selain Chan dan Seungmin ada yang lainnya? Maksudku yang dekat denganmu. Tapi kalau Chan kan beda klan, ya?"

Changbin menggumamkan "hm" panjang sebelum bicara lagi, "Ada, sih."

"Okay, spill."

Pria di seberang telepon lantas menceritakan tentang beberapa teman terdekatnya yang lekas Felix catat dengan telaten. Beberapa nama baru yang disebut Changbin ternyata juga Felix kenal, seperti Jisung dan Hyunjin. Namun ia baru mendengar nama Minho dan Jeongin, yang ternyata merupakan alpha bersaudara dari klan Changbin.

"Mereka bersaudara tapi nama belakangnya beda?" tanya Felix lagi.

"Bukan. Mereka sepupuan dari pihak ibu," jelas Changbin.

"Oke," Felix menggigit pulpennya tanpa sadar sambil membaca semua catatan yang baru saja ia tambahkan.

"Jeongin baru menerima status alphanya, sih. Dia baru ulang tahun yang ke-18 sebulan lalu."

"Oh, alpha baru," Felix menganggukkan kepala, "must be hard for him when he got his first rut."

"Sangat," Changbin menghela napas dan menggantung ucapannya. Namun setelah Felix tunggu ternyata pemuda itu tidak menjelaskan apapun. Lalu tiba-tiba saja Felix mendengar suara lampu sen yang berdetak dari speaker ponselnya dan terkesiap begitu menyadari Changbin menelepon sambil menyetir.

"Kok nggak bilang hyung lagi nyetir?!" Felix langsung panik. Changbin hanya membalas dengan tawa pelan.

"Kan aku sudah bilang tadi lagi menuju ke rumah orangtuaku," jelas Changbin. Felix lantas menggaruk kepala yang tidak gatal, merasa malu sendiri karena ia tidak begitu memikirkan ucapan Changbin di awal.

Ya, bagaimanapun juga saat itu ia sedang sibuk mengkhawatirkan Changbin. Otak Felix sepertinya tidak bisa multitasking, memikirkan dua hal berbeda dalam waktu bersamaan.

"Ya udah. Hyung hati-hati, ya. Kabari aku kalau butuh bantuan atau ada sesuatu," Felix menutup bukunya lalu mengepit ponsel di antara telinga dan bahu saat ia sibuk menjejalkan buku tersebut ke ransel.

"Hm. Kalau begitu jangan lupa jemput aku begitu selesai mengisolasi diri, ya," ujar Changbin tiba-tiba. Felix yang tidak yakin dengan apa yang ia dengar hanya membalas dengan "Huh?" pelan. Changbin lantas mengulang permintaannya dan Felix menjadi semakin bingung.

"Dijemput? Bukannya hyung bawa mobil sendiri?"

"I will be super tired and barely alive because my energy has drained so you have to give me an aftercare."

Felix hampir tersedak salivanya sendiri mendengar pilihan kata Changbin, "Sorry, a what?!"

"Aftercare, Felix. For my wounds," Changbin terkekeh lagi. Felix akhirnya sadar maksud ucapan Changbin dan ia kembali merasa malu karena salah sangka.

"Ya, aku tau," Felix pura-pura terdengar galak, membuat tawa Changbin semakin geli. "Jangan ketawa, hyung!" protesnya lagi.

Changbin terdengar susah payah menahan tawa, tetapi kekeham pria itu akhirnya mereda, "Oke, Lix. Aku masuk dulu. Eomma tiba-tiba sudah muncul di depan pagar karena bauku terlalu kuat kayaknya."

"Ah, oke. Hati-hati, hyung. Jangan lupa kabari aku kalau sudah harus dijemput, ya," ingatnya. Changbin menggumamkan "oke" dan salam perpisahan singkat sebelum mematikan ponsel. Menyisakan keheningan yang kembali menyelimuti mobil Felix hingga membuat si empunya tersandar lelah di jok pengemudi.

"I hope you'll be okay," gumam Felix pada udara kosong sembari menatap langit di luar sana yang sudah mulai berubah abu-abu karena akan hujan. Lantas pemuda itu segera mengenakan sabuk pengaman dan mengunci pintu mobil sebelum berlalu dari area parkir tersebut menuju ke apartemennya sendiri.

Under The Moonlight ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang