"Jadi bagaimana kabar Changbin? Sudah baik-baik saja?"
Pertanyaan Chan membuat Felix sedikit terkejut saat ia baru saja muncul ke permukaan air setelah berenang dua putaran penuh tanpa henti. Ia menarik lepas kacamata renangnya lalu mengangkat tubuhnya dari dalam air untuk duduk di pinggir kolam. Napasnya masih agak terengah, tetapi Felix berusaha menjawab pertanyaan Chan sambil mengusap air dari wajahnya.
"Iya, baik-baik saja. Kenapa hyung?" tanya Felix lagi. Tungkai sang pemuda yang setengahnya berada di dalam air digoyang-goyangkan saat tatapannya mengarah pada Chan, yang ikut mengambil tempat di sisinya sambil merendam kaki juga.
"Kemarin kamu panik sekali. Kukira Changbin terluka parah saat rut jadi aku ikut khawatir," ujarnya.
Felix mendengus pelan sebelum menggelengkan kepalanya, "Di mataku sih lukanya lumayan parah, tapi nggak apa-apa."
"You must've been freaking out at that time," Chan tersenyum.
"Yeah," jawab Felix sambil mengangguk pelan, "kamu saja nggak pernah sampai seperti itu, Channie hyung."
"Aku cukup duduk di ruang kerjaku sampai rasanya sudah mendingan. Sebentar lagi mungkin aku nggak akan begini kalau aku berhasil mendekati omega yang kutaksir."
"Hm, bagaimana caranya supaya bisa tenang begitu? Kemarin Changbin hyung sampai kelelahan dibuatnya," gumam Felix sambil menatap beberapa murid Chan yang mulai berdatangan dari pintu masuk. Ah, benar juga. Sebentar lagi kelas renang akan dimulai.
"Kupikit Bin harus mencoba untuk berdamai dengan dirinya. Atau dia menggunakan sesuatu yang bisa menenangkan. Minum supresan mungkin?" usul Chan. Felix menggeleng.
"Dia nggak mau."
"Oh, oke," Chan mengusap dagunya ketika ia kembali berpikir, "Ah! Atau dia bisa menggunakan aroma beta sepertimu untuk menenangkan diri. Kurasa itu lumayan berhasil padaku."
"Benarkah?" Felix mengangkat kepala untuk menatap Chan, terlihat tertarik, "memangnya ada yang begitu?"
Chan mengangguk tegas, "Aku pernah baca dan juga pernah mengalaminya sendiri. Waktu kau dan Hyunjin ke tempatku untuk meminjam perpustakaan. Aku sengaja menemani kalian supaya aku tenang. Padahal aku bisa membiarkan kalian berada di sana tanpa pengawasan."
"Oh," Felix teringat, lalu ia tertawa pelan, "kukira kamu sengaja mengikuti karena takut bukumu ada yang hilang."
"Aku tahu kalian nggak akan menghilangkan bukuku, kalian cuma suka meminjamnya tanpa izin," Chan mendelikkan mata pada Felix, tetapi nada bicaranya terdengar main-main. Felix hanya tertawa pelan sebagai respon.
Sebenarnya ia ingin mencoba saran yang dikatakan Chan tadi demi membantu Changbin agar tidak terlalu tersiksa. Namun ia ragu untuk menyampaikannya, lagi-lagi, karena ia cenderung lebih suka menunggu Changbin memintanya terlebih dahulu.
"Apa kamu sepeduli itu padanya, Lix?"
Pertanyaan Chan yang tiba-tiba membuat Felix refleks mengarahkan tatapan bingung pada pria di sampingnya. Entah kenapa nada bicara Chan terdengar agak ganjil, seolah mengimplikasikan sesuatu. Namun ia tidak berani menebak maksud terselubung Chan.
Apa maksudnya...Chan berpikir bahwa Felix mulai memiliki perasaan pada partnernya?
"Aku peduli karena dia partnerku. Aku sudah berjanji akan membantunya," jawab Felix diplomatis.
Pemuda itu tidak ingin mengatakan apa yang menurutnya belum pasti ia rasakan. Bisa saja kekaguman yang terkadang dialaminya ketika berada di dekat Changbin hanyalah kekaguman biasa semata. Bagaikan melihat seorang yang berstatus lebih tinggi tetapi selalu berusaha untuk rendah hati. Felix rasa itulah yang selama ini ia rasakan terhadap Changbin. Dan itu menurutnya masih wajar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Under The Moonlight ✓
Fan-FictionIn this fucked up world, Changbin doesn't want to be an alpha who live his life like a common alpha. He doesn't want to mate an omega, he just want a partner who can supress his animalistic side. That's why he chooses Felix, a beta, to be by his sid...
