Pukul delapan malam mereka akhirnya selesai berbelanja sekaligus makan malam di luar. Felix perhatikan lumayan banyak juga bahan makanan yang dibeli Changbin. Mungkin karena dia lebih suka memasak sendiri daripada makan di luar.
Changbin sudah bercerita banyak tadi dan Felix merasa senang mendengarnya. Ia bisa merasakan bahwa sang alpha sudah menaruh kepercayaan cukup besar padanya. Maka tidak ada yang bisa Felix lakukan selain mengingat informasi itu sebaik mungkin. Siapa tahu berguna untuk masa yang akan datang.
"Kita mau kemana habis ini?" tanya Changbin begitu pria itu melanjukan mobil Felix keluar dari pusat perbelanjaan. Felix bersandar ke jok penumpang sambil menatap langit-langit mobil, lalu menggeleng.
"Nggak kemana-mana," ia menjawab sebelum menoleh ke arah Changbin, "memangnya hyung masih mau ke suatu tempat?"
Felix diam-diam menelan ludah saat Changbin tiba-tiba membalas tatapannya sambil tersenyum. Lantas pria itu memasukkan alamat dalam alat GPS yang akan menuntun mereka ke suatu tempat yang tidak Felix ketahui.
"Kalau begitu kita ke rumah orangtuaku."
***
Felix sama sekali tidak menyangka bahwa Changbin akan benar-benar menyetir ke rumah orangtuanya. Memang tidak jauh, hanya berjarak 30 menit dari pusat perbelanjaan (dan sekitar 15 menit dari apartemen Changbin). Namun yang tidak Felix mengerti kenapa Changbin mengajaknya mampir saat sudah larut malam begini.
"Ngapain ke sini malam-malam sih, hyung?! Orangtuamu nanti terganggu," Felix menyuarakan protes yang hanya dibalas kekehan oleh Changbin. Namun pria itu tidak berkata apapun dan mengajak Felix untuk turun dan menyapa orangtuanya.
'Aduh,' Felix menggaruk kepala dan bergegas turun dari mobil sambil cemberut menatap punggung Changbin. Kalau tahu akan mengunjungi orangtua Changbin, Felix pasti akan membeli sesuatu tadi sebagai oleh-oleh. Sudah kepalang basah, ia akhirnya mengekor Changbin dan membiarkan hanya pria itu yang memberikan wine sebagai buah tangan untuk kedua orangtuanya.
"Oh! Binnie datang! Kenapa malam sekali, Nak?" Wanita paruh baya yang sepertinya merupakan ibunda Changbin lekas memeluk anaknya begitu sampai di pintu. Felix membungkuk hormat begitu wanita itu menyadari kehadirannya, lalu tersenyum sopan.
"Aku tadi belanja, terus sekalian ke sini," ujar Changbin sebelum merangkul ibunya, "eomma, kenalkan ini partnerku. Namanya Felix."
Sesuatu dalam nada bicara Changbin membuat jantung Felix sedikit berdetak aneh. Ia membungkuk lagi untuk kedua kalinya saat ibunda Changbin menatap bergantian antara Felix dan putranya dengan penuh arti.
"Seorang omega?" tanya ibunya. Sebelum Felix menjawab, Changbin sudah terlebih dahulu menyela.
"Dia beta, eomma. Kan sudah kubilang aku nggak mau sama omega."
"Anak aneh. Padahal kan biasa saja," ibunda Changbin tiba-tiba menjitak anaknya, membuat Felix diam-diam menahan tawa. Changbin menggerutu karena malu, tetapi setelah tatapannya bertemu dengan Felix pemuda itu malah tersenyum. Felix lagi-lagi merasa aneh.
"Ada apa ini? Aku mendengar suara Changbin."
Felix kembali membungkuk hormat saat seorang pria paruh baya muncul di belakang ibunda Changbin. Ayah Changbin ternyata sangat mirip dengan anaknya tetapi lebih tegas dan menyeramkan jika beliau tak berbicara dengan senyum di wajahnya.
"Appa, aku kesini mau mengenalkan partnerku pada kalian. Namanya Felix. Lee Felix," ujar Changbin lagi. Felix segera membungkuk hormat dan ayah Changbin pun menepuk pundaknya dengan gestur ramah.
"Senang bertemu denganmu, Felix. Kuharap kamu bisa tahan dengan putraku yang banyak maunya ini," kelakar ayah Changbin. Felix hanya terkekeh sementara Changbin memanyunkan bibir. Entah kenapa ia bisa melihat sisi Changbin yang lain saat berada di tengah keluarganya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Under The Moonlight ✓
Fan-FictionIn this fucked up world, Changbin doesn't want to be an alpha who live his life like a common alpha. He doesn't want to mate an omega, he just want a partner who can supress his animalistic side. That's why he chooses Felix, a beta, to be by his sid...
