Sesampainya di rumah orangtuanya, Changbin segera digiring menuju ruang bawah tanah. Memang sebuah keberuntungan karena tadi saat masih di apartemen ia bisa kabur dengan cukup mudah dari wanita omega itu.
Ingatannya kembali pada kondisi satu jam yang lalu, ketika mereka masih berada di apartemen Felix. Saat pintu apartemennya dibuka, Changbin hampir saja gagal melarikan diri jika saja Felix tidak menyeretnya setengah memaksa menuju tangga darurat. Kakinya terasa berat untuk berlari. Ia juga berkali-kali menoleh ke belakang hingga Felix harus menggamit lengan Changbin dan menyeretnya menuju basement.
"Kakiku rasanya mau copot, Lix. Pelan-pelan," gerutu Changbin. Felix hanya tertawa pelan sambil terengah lalu membuka pintu darurat dua atau tiga lantai di bawah unit apartemen Changbin dan bergegas menuntunnya ke lift yang terbuka. Beruntung hanya ada mereka berdua saat itu hingga Felix bisa duduk di lantai lift diikuti oleh Changbin.
"Gila. Mau mati rasanya kabur dari omega," Felix tertawa. Namun Changbin malah merengut karena tidak mengerti dimana letak lucunya perkataan Felix tadi. Kemudian sisa perjalanan mereka hanya diisi oleh kekehan Felix dan dengusan Changbin hingga mereka sampai di rumah orangtua sang alpha.
"Scent blocker-nya bikin mual," Changbin kembali protes. Hanya saja sepertinya ucapan itu dianggap angin lalu saja oleh Felix karena ia masih santai membuka gerendel pintu.
"Nanti aku kasih permen biar nggak mual," gumam Felix santai.
Begitu pintu terbuka, Changbin langsung menuju sofa jelek yang berada di dekat pintu masuk dan membaringkan tubuh di sana. Ruangan itu sudah dibersihkan hingga aromanya kembali seperti ruangan kosong pada umumnya. Felix santai saja mengambil tempat di sisi Changbin lalu menarik baju yang dikenakan pemuda itu.
"Ini mau dibalikin sekarang apa nanti?"
Changbin terkesiap pelan, tidak menyangka bahwa Felix akan menanyakan tentang hal tersebut. Padahal tidak perlu ditanya juga Changbin pasti akan mengembalikan, tapi dalam keadaan bersih.
"Kenapa bertanya begitu? Kamu mau pakai baju bekas keringatku?" balas Changbin. Felix kembali tertawa sebelum memukul pelan lengan Changbin.
"Kayaknya lebih baik aku ada di dekatmu setiap kali rut, ya? Jadi pikiranmu nggak terfokus buat melukai diri dan cuma fokus buat berdebat denganku," ujar Felix lagi.
Ucapan itu segera membuat Changbin sadar bahwa sejak tadi pikirannya benar-benar terdistraksi. Meskipun rasa tidak nyaman itu masih ada, tetapi kondisinya sama sekali tidak separah rut yang biasa. Changbin terdiam cukup lama memikirkan ucapan Felix. Berusaha menerka arti tersembunyi di baliknya meskipun ia tidak tahu apa.
"Benar juga, sih," gumamnya.
"See? Kamu bisa melewati rut tanpa melukai dirimu sendiri, Changbin hyung," Felix nyengir hingga menampakkan giginya yang putih, "tinggal pakai baju bekas kupakai terus berdebat denganku."
Changbin mengangguk. Tatapan lurus menatap Felix lantaran cukup takjub dengan perkataan pemuda itu.
"Mulai bulan depan mungkin kita ganti strategi," Changbin terkejut saat Felix tiba-tiba menarik tangannya (lagi) dan menyeretnya keluar ruangan.
"Eh? Mau kemana?!"
Felix kembali melemparkan cengirannya sebelum berkata, "Ayo kita tanya pendapat orangtuamu."
***
"Hm, jadi begitu."
Ayah Changbin bergumam pelan sembari meletakkan cangkir tehnya di atas tatakan. Mereka semua sedang duduk melingkar di meja makan sembari menyeruput teh kamomil buatan ibunda Changbin. Pembicaraan mereka kali ini cukup serius (syukurlah Felix tidak tertawa lagi, kalau tidak Changbin berniat menjitaknya tadi) sehingga tiga orang lainnya tak mengalihkan tatapan dari ayah Changbin yang hendak bicara.
"Kalau memang itu cara terbaik, aku setuju saja," ucap ayahnya. Changbin perhatikan Felix terlihat lega sekaligus senang karena idenya diterima dengan baik oleh Tuan Seo.
"Kurasa Felix benar-benar bisa dipercaya. Karena Binnie tidak terluka hari ini dan aku senang," kali ini ibunda Changbin yang berbicara. Entah kenapa ucapan itu membuat Changbin agak sedih sehingga ia segera meraih tangan ibunya untuk digenggam.
"Eomma jangan bilang gitu. Aku nggak terluka, kok," gumamnya. Sang ibu hanya mengangguk tetapi Changbin lihat matanya agak berkaca-kaca, membuatnya jadi merasa bersalah.
Suasana yang tiba-tiba muram untungnya tidak berlangsung lama, terima kasih pada Felix. Meskipun pemuda itu membuat semua orang kaget dengan ikut menggenggam tangan ibu Changbin yang satunya, tetapi wanita paruh baya itu jadi bisa kembali tersenyum. Sebagai beta, pemuda itu sepertinya dianugerahi kemampuan untuk menenangkan siapapun sehingga Changbin diam-diam bersyukur dengan kehadiran Felix di tengah keluarga mereka.
Benar kata ibunda Changbin, jika tidak ada Felix mungkin pemuda itu akan tetap terluka, serta melukai perasaan orang-orang yang menyayanginya karena melihatnya terluka.
Lain kali Changbin akan berterima kasih pada Chan karena sudah mengenalkan Felix padanya waktu itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Under The Moonlight ✓
FanficIn this fucked up world, Changbin doesn't want to be an alpha who live his life like a common alpha. He doesn't want to mate an omega, he just want a partner who can supress his animalistic side. That's why he chooses Felix, a beta, to be by his sid...
