In this fucked up world, Changbin doesn't want to be an alpha who live his life like a common alpha. He doesn't want to mate an omega, he just want a partner who can supress his animalistic side. That's why he chooses Felix, a beta, to be by his sid...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
*
"Changbin hyuuung!"
Seruan Felix yang terdengar di ruang tengah membuat Changbin refleks menyingkap sedikit selimut yang menutupinya hingga kepala. Kelegaan yang menyelimuti membuat sang alpha tersenyum. Telinganya menangkap derap langkah Felix yang mendekat sebelum pintu kamar menjeblak terbuka.
"Hyung!" Felix muncul dengan titik keringat membasahi pelipisnya hingga membuat helaian rambutnya menempel di kening. Senyum Changbin melebar ketika ia memutuskan untuk duduk bersandar di kepala ranjang Felix.
"Welcome home," sapanya.
Felix ikut tersenyum lega dan menghela napas. Namun setelahnya ia merasa bingung dengan suhu kamar yang disetel menjadi sangat dingin oleh Changbin.
"Kenapa AC-nya dibuat sedingin ini? Hyung nggak membeku?" Felix mengambil remote control dan mengubah suhunya. Changbin hanya mengedikkan bahu cuek.
"Aku pakai bajumu sampai dua lapis terus selimutan. Nggak dingin sama sekali," jawabnya. Felix kembali tersenyum lalu ikut duduk di pinggir ranjang, tubuhnya menghadap ke Changbin.
"Sori kelamaan. Tadi pakai macet segala di jalan. Aku terpaksa lari sepanjang lorong apartemenmu sambil bawa belanjaan, takut ada yang ngetok pintu lagi kayak kemarin," pemuda itu tertawa pelan. Changbin pun ikut tertawa lalu beringsut mendekat, bermaksud untuk menghirup aroma Felix lebih dekat.
Namun sang beta refleks menjauh begitu mengetahui intensi Changbin. Wajahnya berubah horor sehingga Changbin pun kebingungan akan perubahan sikap pemuda itu.
"Lix...? Nggak boleh...?" gumamnya dengan alis berkerut. Felix yang akhirnya menyadari kesalahpahaman Changbin segera mengangkat tangan defensif.
"Bentar, hyung. Bukan gitu maksudku," tuturnya cepat, "aku keringetan dan kotor habis dari luar. Bauku juga pasti sudah bercampur sama bau orang lain. Habis mandi aja, oke? Aku mau dinginin badan dulu."
Changbin hanya menatap Felix dalam diam sebelum mencoba mengendus pelan aroma Felix. Memang sih baunya bercampur dengan bau orang lain sehingga membuat Changbin mengernyitkan hidung tidak suka.
"Oke. Mandinya jangan lama-lama," gumamnya sebelum kembali berbaring dan menyelimuti diri hingga kepala. Tawa Felix teredam oleh selimut, tetapi Changbin bisa mendengar nada geli di dalamnya.
"Roger that, alpha."
Rasanya seolah ada yang menyentakkan sesuatu dalam dadanya sehingga Changbin agak tercekat mendengar perkataan Felix barusan. Namun pria itu hanya diam di balik selimut sambil menatap jemarinya yang mengelus pelan permukaan seprei tempat tidur Felix.
Ah, sudahlah. Sebaiknya ia tidak usah berpikir lagi. Seharian memikirkan diskusi orangtuanya dengan Felix saja sudah cukup membuatnya pusing.
Memang benar, Changbin perlahan sudah mengubah perlakuannya terhadap Felix. Sebagian alasannya mungkin karena obrolan serius yang ia curi-dengar perihal keinginan orangtuanya yang meminta Felix untuk menjadi mate-nya. Namun sebagian lagi murni karena sesuatu yang sama sekali tidak Changbin mengerti.
Keinginan untuk melindungi dan menghadirkan senyum di wajah Felix, itulah yang menjadi sumber kebingungan terbesarnya saat ini.
Pembicaraan dengan Minho di telepon tempo hari kembali diputar ulang di benaknya dan ia semakin tidak mengerti. Apakah ini artinya Changbin sudah bersedia mating dengan Felix? Karena ia sudah memiliki sedikit keinginan untuk menjaga pemuda itu?
Lamunannya tersentak saat pintu kamar Felix kembali terbuka. Changbin menyingkap selimutnya sedikit untuk melihat apa yang dilakukan Felix, yang ternyata membuatnya hampir tersedak.
Changbin tidak tahu apa yang membuatnya sulit mengalihkan tatapan dari punggung telanjang Felix yang setengah basah. Pemuda itu hanya mengenakan sehelai handuk yang menutupi bagian pinggang ke bawah. Changbin diam-diam menahan napas saat melihat Felix hendak melepaskan belitan handuk di salah satu sisi tubuh. Lekas ia kembali menutup wajahnya dengan selimut dan berusaha keras menenangkan denyut jantung yang tiba-tiba berpacu hingga membuat napasnya sesak.
"Oi, Lix! Ganti baju di kamar mandi sana!" Changbin menggerutu dari balik selimut. Sayup-sayup ia mendengar napas Felix yang tercekat sebelum merasakan ujung selimutnya ditarik sekali.
"Hyung ngintip, ya?!" Felix terdengar panik, membuat Changbin diam-diam mendenguskan tawa.
"Hampir. Makanya ganti baju di kamar mandi sana," ujar Changbin lagi. Didengarnya Felix mengerang malu sebelum berjalan menjauh menuju kamar mandi. Setelah memastikan Felix benar-benar pergi, barulah Changbin bisa keluar dari persembunyiannya sambil tertawa pelan.
Tak lama kemudian pemuda itu kembali dengan berpakaian lengkap. Meskipun demikian, Changbin masih mendapati rona merah di pipi Felix pertanda ia masih malu. Pemuda itu duduk di ujung tempat tidur yang cukup jauh dari Changbin, lalu bertanya.
"Lihat sampai mana tadi?" gumamnya. Mendadak saja Changbin tergerak untuk berbuat iseng.
"Hm...aku hampir lihat semua..."
"Apa?!" Kelopak mata Felix melebar horor, membuat Changbin refleks terbahak karena Felix berhasil termakan tipuannya.
"Nggak kok. Aku cuma lihat punggungmu," Changbin menyeringai sebelum menepuk tempat kosong di sisinya, "meskipun lagi rut tapi aku nggak semesum itu, Lix."
Pemuda itu mengerucutkan bibirnya seolah protes, tetapi ia tidak membantah permintaan Changbin. Ia beringsut mendekat hingga duduk di samping Changbin dengan punggung bersandar di kepala tempat tidur, lalu menghela napas.
"Ya, aku kan bukan omega jadi nggak akan berpengaruh apapun terhadapmu. Sini," Felix merentangkan tangannya, menunggu Changbin menyambut pelukan. Entah kenapa perkataan Felix tadi membuat jantung Changbin sedikit mencelos hingga membuatnya mengerutkan kening tidak suka.
"Kenapa bicara begitu?" gumam Changbin begitu kepalanya dibenamkan di pundak Felix setelah lengan pemuda itu melingkari tubuhnya. Aroma petichor dan kue coklat yang familiar bercampur wangi sabun mandi yang melingkupi Changbin pada akhirnya berhasil membuatnya jauh lebih tenang sehingga ia pun tak lagi merasa terganggu dengan ucapan Felix tadi.
"Itu faktanya, hyung," ucap Felix santai. Changbin tanpa sadar menggeleng, tetapi ia terlalu larut dalam bau tubuh Felix yang menenangkan untuk berpikir mengenai balasan untuk ucapan Felix.
"Aku mau tidur di sini aja," gumam Changbin tanpa benar-benar memikirkan ucapannya. Barangkali rasa nyaman saat dilingkupi aroma Felix membuatnya tidak ingin beranjak dari sana sedikitpun. Lagipula, ini adalah kali pertama Changbin tidak gelisah sama sekali saat mencapai rut-nya sehingga ia tidak ingin melepaskan pelukannya dari Felix.
"Terserah hyung aja," gumam Felix akhirnya. Changbin tersenyum sebelum menarik Felix untuk ikut berbaring bersamanya, bersembunyi di balik selimut hingga pagi menjelang.