27

954 166 0
                                        

"Lix? Kamu ada di dalam?"

Felix menegakkan punggung saat seseorang mengetuk pintu dan memanggil namanya. Ia membereskan beberapa kertas berisi coretan serta selembar peta ukuran besar yang membentang di tengah meja sebelum mempersilakan tamunya masuk.

"Ya, Jisung. Masuklah."

Seorang pemuda berambut pirang mengintip dari balik daun pintu yang setengah terbuka, lalu melemparkan cengiran ke arahnya. Felix balas menyengir sebelum melambaikan tangan untuk meminta Jisung mendekat.

"Aku mau laporan," Jisung menutup pintu dibelakangnya sebelum mendudukkan diri di kursi yang berseberangan dengan meja Felix. Pemuda itu mengeluarkan ponselnya lalu mengangsurkannya ke seberang meja untuk diberikan pada sang beta.

"Kamu dapat rekamannya?!" Felix terkesiap dan bergegas meraih ponsel Jisung. Temannya kembali melemparkan cengiran yang membuat Felix takjub dengan kemampuan mata-matanya.

"Aku memasang alat penyadap di beberapa tempat di perbatasan. Kebetulan ada yang tertangkap dan...yah, kamu pasti kecewa," gumamnya. Felix mengernyitkan kening sebelum menekan tombol 'play'.

"...kurasa sulit menembus klan mereka. Iya, harus kita lakukan secepatnya. Hm? Ya, pastinya mereka juga berasosiasi dengan klan lain. Nanti kucari tahu dulu. Sejauh ini penyamaranku tidak ketahuan, hyung."

Kedua alis Felix mengernyit tidak suka. Ternyata ada penyusup yang berhasil lolos sehingga ia harus segera melakukan identifikasi menyeluruh terhadap para petugas di perbatasan. Felix menyerahkan kembali ponsel tersebut pada Jisung sebelum menghubungi Hyunjin agar pemuda itu segera datang ke ruangannya.

"Ada masalah?" Hyunjin bertanya begitu ia duduk di samping Jisung. Felix tidak langsung menjawab sehingga pemuda itu refleks menatap ke arah Jisung untuk meminta penjelasan. Namun Jisung hanya mengedikkan bahu sehingga Hyunjin pun terpaksa menunggu hingga Felix kembali bicara.

"Hyunjin, kita harus melakukan identifikasi. Ada penyusup di perbatasan," ujarnya. Hyunjin terlihat kaget sehingga ia pun menatap Felix dan Jisung bergantian, ekspresinya tidsk percaya.

"Kok bisa?!"

"Entahlah. Jisung barusan memberi bukti dan sekarang kepalaku sakit memikirkan kemungkinan terburuk," Felix memijat pelipisnya.

"Hei, hei. Tenang, Lix. Kayaknya penyusupnya cuma satu dan mudah ditemukan. Aku sudah tahu lokasinya dan meminta seseorang mengintai di sana. Mereka bisa menjebak si penyusup sekarang juga dan menghabisinya jika kamu perintahkan," tukas Jisung.

Felix menatap sang omega dengan sorot berterima kasih, membuat Jisung kembali menyengir bangga. Hyunjin pun bertepuk tangan kagum mendengar strategi Jisung.

"Dia pintar juga ya, Lix," Hyunjin pura-pura berbisik serius pada Felix hingga membuat Jisung yang mendengarnya refleks menonjok lengan Hyunjin. Lantas pemuda itu tertawa, begitu pula Felix yang kini merasa lebih santai berkat teman-temannya.

"One in a million," Felix mengangguk bangga pada Jisung, "Oke. Kalau begitu lakukan saja, Sungie."

Jisung mengangguk sebelum undur diri terlebih dahulu. Sementara Hyunjin masih belum ia persilakan pergi karena Felix ingin membicarakan sesuatu pada pemuda itu.

"Kamu sudah dengar rekamannya kan, Jinnie?" tanyanya. Hyunjin mengangguk.

"Dia memberitahuku juga tadi sebelum memberitahumu."

"Baguslah," Felix menghela napas sebelum bersandar di kursinya, "aku sebenarnya khawatir kalau mereka sampai tahu kita menjalin pertemanan dengan klan Changbin hyung."

Kelopak mata Hyunjin melebar kaget sebelum ia menyadari apa yang Felix takutkan, "Lix...apa bisa begitu? Mana mungkin mereka bisa menyerang dua klan sekaligus?"

Under The Moonlight ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang