24

955 174 9
                                        

Sinar matahari yang hampir tenggelam menyorot lembut dari balik jendela apartemennya. Warna jingga kemerahan itu jatuh menerpa wajah Felix, yang saat itu sedang menatap pemandangan di luar sambil memotret langit senja. Changbin yang baru saja lewat di balik punggung Felix hanya memperhatikan sang pemuda yang sedang tersenyum lebar.

Dalam hati, Changbin bersyukur karena Felix tidak lagi terlihat kikuk seperti kemarin, saat ada teman-teman Changbin di sini. Ia pun merasa agak bersalah karena sudah membuat Felix murung dengan ucapannya waktu itu.

Memang benar kata Kim Seungmin, Changbin belum tahu apa yang akan terjadi di masa depan dengan dirinya dan Felix. Namun entah kenapa kemarin ia langsung bersikap defensif begitu teringat pada permintaan orangtuanya pada Felix.

Berada pada masa rut membuatnya lekas marah. Bantahan keras kemarin bukanlah sesuatu yang bisa ia kendalikan di saat seperti itu. Membuatnya semakin membenci diri sendiri dan semakin tidak ingin membiarkan siapapun berada di sisinya agar mereka tidak menderita.

Terutama Felix.

Changbin menghela napas, terlihat ragu untuk mendekati pemuda itu. Barangkali karena rasa bersalah yang kini menggerogotinya. Changbin takut jika ia mendekat, senyum itu akan terhapus dari bibir Felix. Maka ia pun memutuskan untuk berbalik menuju kamarnya dengan pundak merosot sedih.

"Changbin hyung!"

Terkejut akan namanya yang tiba-tiba dipanggil, Changbin refleks menoleh cepat ke arah Felix yang ternyata sedang tersenyum ke arahnya. Pemuda itu menggesturkan Changbin untuk mendekat sehingga ia pun menurut.

Begitu jarak mereka hanya sejangkauan tangan, Changbin bisa melihat pantulan cahaya matahari di netra Felix yang berbinar. Membuatnya tanpa sadar mengulas senyum serupa milik pemuda itu di bibirnya.

"Langitnya bagus banget. Pemandangan dari sini juga, bisa langsung liat matahari tenggelam. Hyung pintar milih lokasi apartemen, ya," tuturnya. Changbin hanya bisa menunduk sambil menyembunyikan senyum lega, karena bagaimanapun juga kekhawatirannya ternyata tidak terbukti.

Setidaknya sekarang Changbin bisa merasa tenang begitu mengetahui bahwa Felix tidak lagi muram karena dirinya.

"Kebetulan aja, Lix," jawabnya santai. Felix menaikkan alis seolah tidak percaya dengan ucapan Changbin, lalu terkekeh pelan.

"Jadi inget Lion King. Balkon apartemenmu ini mirip tebing batu tempat Mufasa bisa liat sekeliling sabana yang jadi teritorinya," ucapnya lagi. Changbin cukup terkejut mendengar analogi Felix yang merujuk pada film animasi. Lantas ia tertawa pelan sebelum jemarinya menyentuh puncak kepala Felix dan mengacaknya gemas.

"What are you? An animation geek?" kelakarnya. Felix hanya memberinya cengiran sebelum berjalan keluar menuju balkon dan menyandarkan separuh tubuhnya di pagarnya. Changbin pun ikut mendekatinya.

"Kinda," Felix mengedikkan bahu. Changbin tersenyum sebelum ikut bersandar seperti Felix dengan tubuh menghadap pemuda itu.

"Tell me more about it."

Mereka akhirnya larut dalam obrolan tentang hal-hal trivia yang sebelumnya tak pernah terpikirkan untuk dibahas.

Sejujurnya Changbin merasa senang saat mendengarkan Felix bercerita lebih banyak tentang dirinya. Sebagai seorang alpha yang terlalu sering menjadi pusat dunia, Changbin terkadang ingin mengubah paradigma dan menjadikan bukan hanya suara alpha yang didengar. Ia ingin membuat beta maupun omega bisa mengucapkan apa yang ingin mereka katakan dan tidak melulu mengikuti keinginan alpha jika hal tersebut bertentangan dengan prinsip mereka.

Hanya saja sulit untuk mengubah sebuah normalitas semacam itu yang sudah dijalankan berabad-abad. Changbin hanya bisa mengusahakan semampunya, dimulai dari diri sendiri.

Tetapi, mengenai permasalahan mating entah kenapa Changbin mulai mempertimbangkan kemauan orangtuanya untuk menjadikan Felix sebagai pasangannya. Ia tidak paham dengan prinsipnya yang perlahan mulai melunak. Changbin sudah memikirkan ini sejak percakapannya dengan Minho dan semakin lama alasan untuk melakukannya semakin bertambah.

Satu diantara beberapa alasan yang paling penting adalah, Changbin ingin menjadi satu-satunya orang yang melindungi Felix.

Dan jika Changbin ingin menjadi satu-satunya, itu hanya berarti satu hal. Felix harus menjadi miliknya.

"Hyung? Kok bengong?"

Kelopak mata Changbin mengerjap cepat ketika Felix melambaikan tangan di depan wajahnya dengan sorot bingung. Matahari sudah hampir tenggelam sepenuhnya hingga langit pun mulai berubah warna menjadi biru gelap. Lampu balkon apartemennya belum menyala hingga Changbin hanya bisa melihat wajah Felix yang tersaput keremangan lampu dari dalam apartemennya. Namun senyum sang pemuda yang terlihat agak bingung dan malu membuat Changbin akhirnya sadar akan satu hal yang baru saja ia lakukan.

Sepertinya Changbin menatap Felix terlalu lama saat melamun tadi.

"Eh? Oh...nggak apa-apa, Lix," Changbin tergagap dan berusaha mencari alasan akan sikap anehnya tadi. Namun Felix hanya terkekeh pelan sebelum mengedikkan kepala ke arah pintu balkon.

"Masuk yuk, hyung. Udah gelap."

"Hm, aku masih mau disini. Mau lihat bulan dulu," jawab Changbin sambil mengarahkan tatapan langit. Sebetulnya itu hanya alasan yang dibuat-buat karena ia merasa malu setelah ketahuan melamun menatap Felix. Namun ternyata pemuda itu menganggap serius ucapannya dan ikut mengarahkan tatapan pada bulan sabit yang sudah mulai muncul di langit.

"Belum purnama. Kenapa hyung mau liat sekarang?" tanya Felix sambil menelengkan kepala. Changbin yang agak terkejut mendengar pertanyaan Felix kembali berusaha memutar otak untuk mencari alasan.

"Nggak apa-apa. Mau liat aja," Changbin akhirnya memberikan jawaban netral. Felix tersenyum, lalu tiba-tiba saja mengangkat ponselnya untuk memotret bulan sabit. Changbin hanya bisa menatap pemuda itu dengan terheran-heran ketika ia menurunkan ponselnya dan tersenyum.

"Kecil banget bulannya. Tapi cantik."

Felix lantas menyodorkan ponselnya ke Changbin untuk memperlihatkan foto bulan yang diambilnya. Lelaki yang lebih tua tersenyum menatap foto itu, yang dibalas dengan senyum serupa oleh Felix. Lantas sang beta kembali mengalihkan tatapan pada bulan yang menggantung di langit sebelum ia kembali berkata.

"Tau nggak, hyung? Menurutku alpha itu kayak matahari. Mereka kuat dan bisa melindungi apapun dan siapapun dengan baik. Tapi mereka nggak bisa sendirian," Felix terkekeh saat menatap Changbin, sebelum kembali melanjutkan kalimatnya, "Kayak matahari yang punya bulan buat merefleksikan cahayanya di malam hari, alpha juga sebaiknya punya pasangan yang akan melindungi apa yang nggak bisa dilindungi sang alpha."

Changbin tertegun menatap Felix yang tiba-tiba mengucapkan sesuatu yang membuat jantungnya berdetak tidak karuan dalam dada.

"Seperti...seperti apa misalnya, Felix? Yang nggak bisa dilindungi para alpha?" gumamnya.

Felix menghela napas pelan sebelum kembali menatap bulan di atas mereka.

"Diri mereka sendiri."

Under The Moonlight ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang