28

904 167 5
                                        

Detakan jam dinding terdengar cukup keras di telinga Changbin di tengah kesunyian yang melingkupi kamar tamu pagi itu. Hanya ada suara halus humidifier dan hembusan napas Felix yang masih terlelap di sisinya.

Semalam Changbin agak memaksa Felix untuk menginap karena pemuda itu terlihat sedang dalam kondisi yang belum begitu stabil. Awalnya Felix menolak dan tetap ingin pulang. Namun Changbin berkata jujur bahwa ia ingin menenangkan Felix seperti yang dilakukan pemuda itu padanya, hingga akhirnya Felix pun setuju.

Mereka bercerita tentang banyak hal selama hampir satu jam sebelum Felix terlelap begitu saja saat mendengar kisah masa kecil Changbin.

Felix tertidur sangat pulas sampai saat itu hingga Changbin pun tidak tega membangunkan saat ponselnya terus bergetar di nakas samping tempat tidur. Saat Changbin mengintip, nama 'Hyunjin' muncul di layar sehingga ia pun memutuskan untuk mengabaikan panggilan itu.

Namun ternyata lima detik setelahnya Hyunjin kembali menelepon, hingga ada lima kali panggilan tak terjawab dalam kurun waktu tujuh menit. Di panggilan keenam Changbin akhirnya meraih ponsel Felix dan menjawab panggilannya tanpa seizin pemuda itu.

"Halo?"

"...Ini siapa? Di mana Felix?" nada bicara Hyunjin terdengar sangat hati-hati sehingga Changbin pun segera memberitahu identitasnya.

"Ini Changbin. Felix masih tidur, Hyunjin. Aku nggak bisa membangunkannya sekarang," gumamnya pelan. Selama beberapa detik Hyunjin terdiam sebelum Changbin mendengarnya bicara.

"Kalian...tidur bareng?"

"B-bukan begitu!" Changbin bergegas menjawab. Meskipun secara harfiah mereka memang tidur berdua, tetapi konteks pertanyaan Hyunjin tidak semurni yang ia bayangkan.

"Oke...kalau gitu maaf ganggu, hyung. Nanti kutelepon Felix lagi," ujar Hyunjin. Changbin menggumamkan "ya" pelan sebelum Hyunjin menutup panggilan. Saat itulah Changbin tidak sengaja memperhatikan gambar di layar Felix yang membuatnya mengernyitkan alis heran.

Apakah itu...matahari dan bulan?

Namun sebelum Changbin sempat berpikir lebih jauh, tiba-tiba saja seseorang menyambar ponsel itu dari tangannya. Terkejut, Changbin hampir saja refleks merampas kembali ponsel itu sebelum ia sadar bahwa Felix-lah pelakunya.

"Kenapa hyung angkat teleponku?"

Changbin menelan ludah mendengar nada dingin dalam ucapan Felix barusan.

"Tadi Hyunjin menelepon terus, jadinya kuangkat," jawab Changbin, terdengar agak bingung sekaligus merasa bersalah. Mungkin ia sudah keterlaluan karena seenaknya mengganggu barang pribadi Felix. Namun ia tak melakukan apapun selain mengangkat telepon.

Dan Felix masih saja terlihat kesal.

"Lain kali nggak perlu diangkat, hyung."

Changbin mengangguk, lalu meletakkan kedua tangan di samping kepala, "Oke, maaf."

Felix mengangguk kaku, lalu berjalan menjauhi Changbin sambil menghubungi Hyunjin kembali. Suasana kikuk yang mendadak melingkupi mereka membuat Changbin merasa bersalah.

Selagi Felix menelepon, Changbin berusaha memikirkan cara untuk membuat mood Felix kembali baik. Namun saat ia baru saja mendapatkan ide, Felix tiba-tiba muncul untuk mengambil barangnya dan mengatakan sesuatu.

"Aku pulang sekarang, hyung."

Terkejut, Changbin refleks menahan tangan Felix ketika pemuda itu hendak menuju pintu keluar.

"Lix, nggak sarapan dulu?" Changbin membujuk. Felix menggeleng tegas, lalu berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Changbin. Entah kenapa ia merasa semakin bersalah sekaligus sedih karena tak sengaja lancang mengganggu barang pribadi Felix.

"Nggak usah. Makasih."

Changbin menghela napas pelan sebelum memberinya senyum sedih.

"Oke. Maafkan aku...lain kali aku nggak akan mengganggu milikmu lagi."

Changbin tidak mengerti apa yang membuatnya merasa sangat terpukul dengan cara Felix memperlakukannya. Namun yang pasti ia tidak siap menerima kemarahan Felix.

"Hyung."

Changbin hanya menjawab dengan gumaman pelan dan kepala yang masih tertunduk. Namun lelaki itu tiba-tiba dikejutkan oleh sebuah pelukan erat dan bibir yang tidak sengaja menempel di pundaknya yang sedikit terekspos sehingga ia pun membeku di tempat.

"Jangan sedih. Aku nggak marah."

Begitu pelukan mereka terlepas, Changbin hanya bisa terdiam menatap Felix yang tersenyum kecil.

"Urusanku cukup banyak pagi ini. Tapi nanti malam...kalau hyung senggang, gimana kau makan malam di tempatku?" tanyanya. Ucapan Felix membuat senyum Changbin perlahan kembali. Ia mengangguk setuju, lalu meraih salah satu tangan Felix untuk menggenggam jemari dengan sebelah tangan.

"I would like to."

Under The Moonlight ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang