"Masuk aja, hyung. Anggap aja rumah sendiri."
Felix memperhatikan saat Changbin memindai studio apartemennya dengan tatapan penuh rasa ingin tahu. Memang, tempat tinggalnya ini jauh lebih kecil daripada apartemen Changbin. Di sisi kanan terdapat meja komputer yang dinaungi oleh dipan tempat tidur yang dimodifikasi hingga lebih dekat ke langit-langit. Lalu di sisi kiri ruangan terdapat dapur dan pantry yang didominasi oleh furnitur berwarna coklat. Sebuah sofa biru dan televisi diletakkan di tengah ruangan sebagai tempat Changbin untuk duduk selagi menunggu Felix memasak.
Situasi apartemennya sangat jauh berbeda dari apartemen Changbin sehingga Felix pun sedikit ragu mengundang pria itu untuk datang. Ia takut Changbin akan merasa tidak nyaman di sini.
"Maaf kalau apartemenku sempit banget, hyung," Felix meringis. Namun sepertinya Changbin terlihat nyaman sehingga ia pun merasa agak lega.
"Apartemenmu nggak sempit kok, Felix. Tempat ini pas buatmu," Changbin membalas dengan senyum tulus sembari menyandarkan punggung ke sofa, "Aku senang akhirnya bisa diundang ke apartemenmu, Lix."
Felix menggigit bibir untuk menahan senyum. Entah kenapa ia merasa berdebar melihat Changbin berada di apartemennya. Sesuatu yang tidak pernah Felix bayangkan karena terlalu banyak hal tidak penting yang ia khawatirkan, misalnya tentang reaksi Changbin dan penerimaannya terhadap situasi Felix yang sebenarnya. Terkadang ia masih ragu untuk membiarkan Changbin memasuki kehidupannya, meskipun diam-diam Felix sudah menumbuhkan rasa untuk pemuda itu.
"Aku...aku lanjut masak dulu, hyung," Felix terbata saat menyadari bahwa ia sudah berdiri di sana terlalu lama sembari memikirkan Changbin. Wajahnya merona saat didengarnya sang alpha terkekeh pelan lalu bangkit dari sofa untuk mengikutinya ke dapur.
"Masak apa? Aku mau bantu" ujarnya sambil menggulung lengan jaket. Felix langsung menghentikan pria itu sebelum ia sampai di dapur dan menggelengkan kepala, bibirnya mencebik protes.
"Nggak boleh. Hyung duduk aja, nggak usah repot-repot," tolak Felix halus. Changbin memberinya tatapan dengan mata disipitkan, tetapi lelaki yang lebih muda menatapnya dengan sorot tidak terbantah sehingga Changbin pun mengalah.
"Ya udah, nanti kalau butuh bantuan kabarin aja," ujarnya saat hendak kembali ke sofa. Felix mengangguk senang lalu kembali melanjutkan kegiatan memasaknya, merasa cukup lega karena kehadiran Changbin membuatnya terdistraksi dari berbagai pikiran yang saat ini membebaninya.
Tidak lama setelahnya Felix selesai memasak garlic steak yang ia sajikan dengan kentang goreng dan salad wortel serta kacang polong. Ia mengambil tempat di sisi Changbin yang masih duduk di sofa dan mereka pun mulai makan bersama. Awalnya Felix bertanya ragu tentang rasa masakannya. Namun Changbin terlihat senang saat mencicipi masakan Felix hingga ia pun merasa lega saat pria itu mengatakan masakannya enak.
"Kirain kamu cuma bisa masak nasi tumis telur. Ternyata sudah banyak kemajuan, ya," goda Changbin. Felix bersungut-sungut malu sebelum menyikut Changbin pelan.
"Itu udah beminggu-minggu lalu, hyung. Pasti aku udah berubah," tukasnya. Changbin mengangguk sebelum mengusap puncak kepala Felix gemas, membuat pemuda itu sontak menunduk malu.
"Kamu hebat," puji Changbin. Jantung Felix kembali berdetak tidak karuan hingga ia harus berusaha menjaga ekspresinya agar Changbin mengetahui apa yang disembunyikannya dalam hati.
Pukul delapan tepat, mereka akhirnya selesai makan malam. Setelah membersihkan piring (yang dibantu oleh Changbin karena pria itu agak memaksa), mereka kembali duduk di sofa Felix sambil menatap langit malam di balik jendela. Tidak banyak yang bisa dilihat karena saat itu jendela sedikit berembun setelah hujan. Namun Felix merasa cukup tenang setelah seharian mengalami kegelisahan, terima kasih pada Changbin yang kini ada di sisinya.
"Hyung," panggilnya. Felix bisa merasakan Changbin yang menoleh ke arahnya meskipun ia masih mengarahkan tatapan ke luar jendela.
"Ya, Felix?"
"Klanku dalam masalah."
Felix bisa merasakan tubuh Changbin tidak lagi bersandar di punggung sofa lantaran pemuda itu terduduk tegak untuk mendengarkan keluh kesah Felix. Namun ia tidak berniat untuk menceritakan semuanya lantaran tidak ingin membebani Changbin. Felix hanya akan memperingatkan pria itu tentang kemungkinan terburuk bahwa akan sulit bagi mereka untuk bertemu sekaligus meminta Changbin untuk berhati-hati.
"Penyusupnya ternyata bukan hanya satu orang. Aku nggak tahu berapa, tetapi yang pasti sudah ada yang berbaur dengan anggota klan kami dengan menggunakan bau teman-teman kami. Channie hyung memintaku untuk melakukan identifikasi yang lebih luas. Tapi...hyung harus hati-hati dengan kemungkinan penyerangan ke klanmu juga."
Dirasakannya jemari Changbin perlahan meraih jemarinya, lalu sang alpha itu meremasnya pelan seolah memberi kekuatan. Felix tersenyum kecil saat kedua netra mereka akhirnya bertatapan.
"Kenapa kamu masih mencemaskanku? Padahal kamu sendiri sedang dirundung masalah," pria itu bertanya dengan nada tidak mengerti. Felix tersenyum kecil mendengar kebingungan Changbin. Meskipun sejujurnya ia memiliki jawaban untuk itu, tetapi Felix memutuskan untuk bungkam.
Mungkin akan lebih baik jika Changbin tidak pernah tahu tentang perasaan Felix yang sebenarnya untuk pemuda itu.
"Aku mengkhawatirkanmu karena kamu partnerku, Bin hyung. Temanku. Memangnya nggak boleh khawatir pada teman sendiri?"
Meskipun saat itu Felix tersenyum, tetapi jantungnya mencelos. Rasanya miris saat mengatakan bahwa Changbin hanyalah seorang 'teman' sementara Felix justru berharap pria itu akan memilihnya sebagai mate. Namun sejak pembicaraannya dengan Changbin di balkon hari itu, Felix sudah menyadari bahwa ada hal-hal yang tak tergapai meskipun berada begitu dekat.
Pemuda itu pun memilih untuk mundur perlahan dan berhenti berharap pada Seo Changbin, tidak peduli bahwa pada kenyataannya ia sudah terlanjur jatuh.
Tidak apa-apa. Felix akan baik-baik saja meskipun ia harus jatuh sendirian.
"Kemarilah, Felix."
Gumaman Changbin yang begitu tiba-tiba setelah mereka terdiam cukup lama membuat Felix terkejut. Tanpa sengaja pemuda itu mendongak saat Changbin menarik pelan tubuh Felix dalam pelukannya. Selama beberapa saat ia hanya menatap pria itu dalam diam hingga Changbin pun balas menatapnya. Ada jeda yang panjang ketika kedua netra mereka bertemu. Felix tanpa sadar menahan napas ketika wajah Changbin perlahan mulai mendekat dan mengikis jarak di antara mereka.
Kedua kelopak mata pemuda itu terpejam begitu saja saat dirasakannya bibir Changbin menyentuh lembut pipi kanannya, tepat di mana frecklesnya bertebaran di bawah mata. Lantas pria itu mengeratkan pelukan sehingga wajah Felix tenggelam di lehernya, membuat Felix bisa dilingkupi aroma mahogani dan kopi yang selama ini selalu menenangkannya.
Pelukan Changbin terasa hangat, hangat sekali, dan Felix ingin selalu berada di sini tanpa harus kembali menghadapi dunia. Namun kenyataan bahwa Changbin tak akan pernah memilihnya adalah pil pahit yang harus ia telan sehingga Felix pun terpaksa melepaskan diri sebelum keinginan memiliki ini membunuhnya perlahan.
"You will be okay, Felix. And I will be, too. Please don't be worried," bisik Changbin sembari mengusap pipi Felix dengan ibu jarinya. Pemuda itu berusaha menahan diri untuk tidak menyandarkan wajah pada sentuhan Changbin meskipun sesungguhnya ia ingin seperti ini sedikit lebih lama lagi.
Felix mengulas senyum tipis sebelum menganggukkan kepala, berharap bahwa harapan Changbin akan terkabul dan mereka akan baik-baik saja hingga masalah ini selesai.
KAMU SEDANG MEMBACA
Under The Moonlight ✓
FanfictionIn this fucked up world, Changbin doesn't want to be an alpha who live his life like a common alpha. He doesn't want to mate an omega, he just want a partner who can supress his animalistic side. That's why he chooses Felix, a beta, to be by his sid...
