2

1.5K 239 14
                                        

'Jadi ini orang yang bernama Seo Changbin,' begitu kata hati Felix ketika ia menatap pria di depannya dengan sorot tenang. Wajah pria itu memang terlihat tegas, dengan tubuh yang kekar meskipun tidak begitu tinggi. Perawakannya memang sangat mencerminkan seorang alpha. Namun entah kenapa tatapannya terlihat agak...berbeda, seolah ia tidak nyaman berada di kulitnya sendiri.

Felix rasa inilah yang dikatakan Chan dengan sifat temannya yang cukup 'unik'.

"Kurasa Chan sudah setuju untuk melepas salah satu beta yang ada di klannya jika ia mengenalkanmu padaku," ucap Changbin tiba-tiba, membuat Felix mengangkat alis atas ucapannya.

"Begitukah?" Felix bergumam. Senyum kecil terulas di bibirnya, tetapi matanya awas, "bukankah harusnya kamu menanyakan pendapatku dulu. Apakah aku setuju dengan idemu atau tidak?"

Changbin terkesiap pelan sebelum menghembuskan napas. Ia terlihat agak kesal karena Felix tiba-tiba membalasnya dengan argumen. Mungkin egonya terluka, tetapi Felix tidak peduli. Ia tak akan menurut pada alpha asing di depannya ini begitu saja.

Diam-diam Felix tersenyum dalam hati.

"Oke. Kalau begitu, apa kau setuju menjadi partnerku?" ucap pria itu lagi, terdengar seolah menahan diri untuk tidak menggertakkan gigi.

Felix kembali terkekeh kecil sebelum mengangkat sebelah tangan.

"Tunggu. Apa nggak ada sesi saling mengenal dulu, begitu? Kenapa langsung saja memintaku jadi partnermu?" ujar Felix. Changbin tertegun sebelum lagi-lagi menghela napas berat.

"Kenapa harus?"

"Tentu saja," Felix melipat kedua tangan di depan dada sembari menelengkan kepala. Tatapannya dibuat seinosen mungkin meskipun dalam hati ia ingin tertawa penuh kemenangan, "aku nggak mau mengambil risiko menyetujui ajakanmu kalau aku belum mengenalmu sedikit lebih baik. Siapa tahu kau berniat jahat padaku, kan?"

Changbin kelihatannya lelah berargumen dengan Felix hingga ia pun menarik bibirnya hingga membentuk garis lurus. Tatapannya terlihat menajam, tetapi Felix sama sekali tidak terpengaruh. Sikap otoriter Changbin tidak begitu kuat (mungkin karena ia setengah denial menjadi alpha) hingga Felix pun tidak begitu terpengaruh olehnya.

"Fine, do as you please," Changbin menggerutu pelan. Persetujuan Changbin membuat Felix akhirnya bisa mengulas senyum, lega, karena ia tak harus menjadi partner Changbin dalam tanda kutip jika ia tidak menginginkannya.

Bukannya apa-apa, tetapi Felix tidak akan betah berlama-lama mendampingi orang yang menurutnya mengesalkan dan tidak cocok dengannya. Dan ia harus mengenal orang itu terlebih dahulu sebelum setuju menjalin hubungan pertemanan atau relasi apapun dengannya.

"Oke. Terima kasih, Changbin hyung," Felix mengulurkan tangan ke arah Changbin untuk menyalaminya, "senang berkenalan denganmu."

"Ya, senang berkenalan denganmu juga, Felix," Changbin pun berkata sembari membalas jabatan tangannya. Namun satu hal yang tak ia ketahui, kehangatan tangan Felix entah kenapa membuat Changbin tertegun menatapnya hingga jabatan tangan mereka terlepas.

Felix luput menyadari bahwa saat itu Seo Changbin mulai merasakan gelenyar tidak biasa yang membuat jantungnya berdetak cukup cepat.

***

Setelah bertemu dengan Changbin, Felix meminta Chan untuk menemuinya di kafe yang sama. Pria itu muncul dengan sorot mata penuh selidik sehingga membuat Felix harus membungkamnya dengan rainbow cake yang ia makan agar tidak berisik.

"Aku belum bilang apa-apa!" Chan menyuarakan protes dengan mulut penuh. Felix tergelak, lalu menjulurkan lidah ke arahnya.

"Aku tahu kamu mau bilang apa, hyung. Pasti mau meledekku soal Changbin, kan?" ujar Felix. Chan terkekeh, lalu menyesap minuman yang telah ia pesan sebelumnya.

"Jadi gimana? Kalian sudah setuju jadi partner?" tanyanya. Felix menggeleng, membuat Chan mengerutkan alis kecewa, "kok nggak jadi?"

"Belum. Aku minta dia supaya kami saling mengenal dulu," jawab Felix santai. Chan tiba-tiba tersedak minumannya sendiri.

"Tunggu, kenapa kalian terdengar kayak orang pedekate? Memangnya dia mau mengajakmu jadi pasangannya?"

Felix tertegun, lalu kembali bertanya, "Memangnya partner itu maksudnya bukan pasangan, ya?"

Chan menggaruk belakang kepalanya, entah kenapa ia jadi merasa bingung untuk menjelaskannya pada Felix.

"Changbin belum bilang?"

Felix mengerjap pelan, semakin bingung, "Bilang apa?"

"Dia mencari partner yang akan dijadikannya semacam orang kepercayaan, Felix. Dia nggak mencari pasangan mating."

Ucapan Chan membuat Felix melongo sebelum kedua pipinya memerah karena malu. Ah, sialan. Dia pikir...ah, sepertinya Felix berpikir terlalu jauh. Ia jadi ingin menjitak kepalanya sendiri karena sudah bertindak bodoh.

"O-oh, begitu. Hahaha," Felix hanya bisa tertawa kering tanpa humor. Chan mengulum senyum geli.

"Sebenarnya aku ingin kalian menjadi pasangan yang seperti itu, sih. Tapi Changbin bilang ia sedang tidak ingin memikirkan hal itu dulu," jelas Chan lagi. Felix merasa lega meskipun dalam hati sebetulnya ia semakin bingung dengan Changbin.

Masa sih ada alpha yang seperti itu? Bukankah seorang alpha dewasa sangat membutuhkan pasangan secepatnya untuk membebaskannya dari siksaan masa rut? Felix pikir itulah yang membuat seorang alpha langsung mencari pasangan begitu mereka sudah dewasa dan juga berkuasa.

"Jadi...aku hanya akan jadi orang kepercayaan? Seperti asistennya begitu?" tanya Felix lagi. Chan mengangguk pelan.

"Begitulah," ucapnya, "tapi bukan asisten juga, sih. Kedengarannya jelek sekali. Patner, Lix. Partner."

"Oke, partner," Felix menyesap americanonya, "nice."

"Kalian kan sama-sama tidak ingin mencari pasangan yang seperti itu. Makanya kutawarkan untuk mengenalkanmu padanya. Sebentar lagi mungkin Changbin akan menelponku untuk protes. Atau lebih parah, ia batal mau berpartner denganmu karena kamu terlalu rumit."

Ucapan Chan sedikit banyak membuat Felix jadi merasa agak merengut. Ia memang tidak begitu mempedulikan apakah dirinya akan punya pasangan atau tidak. Namun entah kenapa sosok Seo Changbin membuatnya sedikit penasaran. Alpha yang cukup unik yang belum pernah ditemuinya di manapun sebelumnya.

"Boleh...aku minta nomor ponselnya, hyung?" tanya Felix lagi, "biar kuhubungi sendiri Changbin nanti untuk minta maaf."

Chan terlihat bingung sejenak sebelum mengangguk, menyanggupi keinginan Felix.

"Oke. Akan kukirimkan kontaknya padamu."

Under The Moonlight ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang