21

983 175 9
                                        

Sejujurnya Felix benar-benar tidak menduga bahwa Changbin akan bersikap seperti ini padanya. Pria itu tiba-tiba memeluknya setelah mendengar sepotong cerita tentang keluarganya yang selama ini berusaha ia simpan rapat-rapat. Ia tak ingin dikasihani. Namun entah kenapa Felix merasa tidak adil jika Changbin tidak diberitahu soal kondisi keluarganya, sementara pria itu sendiri sudah terbuka padanya sejak awal.

Felix tidak tahu apakah barangkali Changbin merasa iba akan nasibnya sehingga sikap sang alpha pun berubah terhadapnya. Hari berikutnya, Changbin menjadi lebih perhatian padanya sehingga Felix pun jadi tidak enak pada pria itu.

"Hyung, biar aku aja yang masak," ujar Felix, berusaha membujuk Changbin yang saat itu tiba-tiba sudah menyambangi dapur. Namun permintaan Felix sepertinya hanya dianggap angin lalu saja oleh Changbin karena pria itu sama sekali tidak beranjak dari posisinya.

"Nggak apa-apa, Felix. Kamu siapkan peralatan makan aja, ya?" usulnya. Felix mengerjap sebelum mengangguk patuh. Ia lantas beranjak untuk menyiapkan peralatan makan sambil memikirkan alasan perubahan sikap Changbin.

"Apa masakanku nggak enak sama sekali ya, hyung?" gumam Felix tiba-tiba. Changbin kelihatan terkejut dengan prasangka Felix dan ia segera menggeleng tidak setuju.

"Nggak ada yang bilang masakanmu nggak enak, Lix," bantahnya. Felix yang sudah terlanjur tidak percaya diri hanya bisa tertunduk menatap permukaan meja makan.

Padahal ia dengan senang hati akan membantu Changbin mengerjakan pekerjaan rumah yang bisa ia kerjakan sebagai balas budi karena diizinkan tinggal di sana sementara waktu. Namun jika tuan rumah sendiri yang beranggapan bahwa akan lebih baik kalau Felix tidak diikutsertakan dalam mengerjakan pekerjaan rumah, ia tidak bisa membantah.

"Hei, kenapa cemberut?"

Terkesiap, Felix tidak menyangka bahwa Changbin tiba-tiba sudah duduk di sampingnya dan menyentuh dagunya lagi. Netranya menemukan iris gelap Changbin yang berkilat cemas dan Felix refleks mengarahkan tatapan ke arah lain karena kikuk.

Sepertinya sejak pembicaraan kemarin Changbin jadi punya kebiasaan baru untuk menyentuh dagu Felix agar mata mereka bertatapan. Membuat pemuda itu jadi malu sendiri karena teringat kebodohannya yang lebih mirip gombalan gagal tempo hari.

"Aku nggak cemberut," Felix menepis pelan jemari Changbin dari dagunya sebelum menopang satu sisi pipinya dengan telapak tangan. Wajahnya kembali terasa memanas. Felix berusaha tidak menatap Changbin karena warna pipinya saat ini barangkali sudah semerah tomat. Memalukan.

Untungnya Changbin tidak memaksa agar Felix menatapnya. Pria itu hanya terkekeh, lalu tiba-tiba mengacak rambut Felix. Membuat pemuda itu lagi-lagi terkesiap kaget karena sikap Changbin yang berubah melembut.

"Jangan berpikir begitu. Masakanmu enak, kok. Tapi aku mau masak untuk kita hari ini. Anggap saja kita gantian masaknya," jelas Changbin. Felix perlahan menoleh pada pria di sampingnya yang kini tersenyum kecil ke arahnya.

"Besok kalau kamu masih di sini, kamu yang masak. Oke?"

Felix tidak tahu harus menjawab apa selain anggukan pelan tanda setuju. Ia betul-betul kebingungan melihat perubahan sikap Changbin padanya. Meskipun dalam hati Felix berpikir sikap yang seperti ini bisa memudahkannya untuk menjalankan rencana, tetapi ia tetap merasa bingung.

Begitu sarapan sudah terhidang, mereka pun makan dalam diam. Changbin terlihat tenang meskipun masa rutnya sudah semakin dekat. Justru kali ini Felix yang gelisah karena mulutnya gatal ingin menanyakan perubahan sikap Changbin yang begitu tiba-tiba.

"Hyung."

Begitu mereka selesai merapikan piring dan hendak melanjutkan kegiatan masing-masing, Felix segera mencegat pria itu. Changbin terlihat bingung saat Felix memintanya untuk duduk sebentar di ruang tengah. Namun Felix tidak akan membiarkan sang alpha penasaran terlalu lama dengan sesuatu yang hendak ia bicarakan.

"Hyung kenapa? Kenapa tiba-tiba kayak beda gitu hari ini?" tanpa basa basi Felix langsung memberondong Changbin dengan pertanyaan. Yang ditanya terlihat kaget dan bingung mendengar pertanyaan Felix sehingga ia pun balas bertanya.

"Beda apanya, Lix? Maksudnya gimana?"

Felix menghela napas, berusaha menimbang kalimat yang pas sebelum terlanjur diucapkan. Mungkin akan kedengaran sedikit menuduh. Namun benak Felix tidak berhenti memikirkan kemungkinan terburuk itu karena ia sama sekali tidak bisa menemukan alasan logis dibalik perubahan sikap Changbin itu.

"Apa hyung berbuat begini karena mengasihaniku? Karena tahu kalau aku tidak punya siapa-siapa?" gumamnya.

Selama beberapa detik Felix tidak mendengar jawaban dari Changbin. Ia pun tidak berani menatap pria itu karena khawatir akan menyinggung perasaannya. Namun tak lama kemudian, didengarnya Changbin menghela napas. Felix bahkan sudah mempersiapkan hati dan telinga untuk mendengar kemarahan pemuda itu.

Hanya saja yang terjadi justru diluar dugaan.

Alih-alih mendengar amukan, Felix dikejutkan oleh sebuah sentilan pelan yang mendarat di keningnya, yang ternyata merupakan ulah Changbin.

"Bodoh."

Ucapan Changbin lantas membuat Felix refleks mengangkat wajah dan menatap pria itu dengan ekspresi tidak terima. Namun begitu dilihatnya Changbin tersenyum geli, Felix lagi-lagi merasa bingung hingga ia terpaksa mengurungkan niat untuk mendebat Changbin.

"Siapa yang kasihan padamu, Felix? Memangnya kamu ke sini buat mengemis?" Changbin menggelengkan kepala seolah tidak habis pikir dengan ucapan Felix. Mendengar respon Changbin yang begitu santai, lagi-lagi Felix merasa malu sendiri. Ia memilih untuk bungkam dan mendengarkan Changbin bicara sambil menundukkan kepala, lagi.

"Dengar, Lix. Sesuatu yang disebut perhatian nggak selalu disebabkan rasa kasihan. Bisa jadi karena merasa kagum padamu, lalu aku ingin membuatmu jadi lebih baik. Atau karena aku berhutang budi," Changbin berkata. Felix kembali merasakan telapak tangan Changbin menyentuh puncak kepalanya. Namun kali ini gestur itu entah kenapa membuat Felix jadi merasa nyaman sekaligus aneh.

"Lagipula kamu sudah banyak membantuku sejak pertama kali kita saling mengenal. Kejadian bulan lalu misalnya."

"Uh," Felix menggumam pelan, kehilangan kata-kata karena Changbin yang tak berhenti mengapresiasi, "oke. Maaf kalau aku salah sangka, hyung."

"Nggak apa-apa," Changbin terkekeh pelan. Karena kedengarannya pria itu tidak marah, Felix jadi memberanikan diri untuk menatap Changbin. Aneh sekali, hati kecil Felix berkata. Ia masih heran dengan Changbin yang terlihat sangat santai, tidak seperti masa rut sebelumnya.

Namun untuk saat ini Felix memutuskan untuk tidak berpikir terlalu banyak. Mungkin sudah saatnya ia berhenti berprasangka buruk pada orang-orang yang hanya ingin berbuat baik padanya. Seperti Seo Changbin, seorang alpha keras kepala yang mengajarkan Felix bahwa tidak ada salahnya mengorbankan kebahagiaan diri sendiri agar ia tidak menyengsarakan orang lain.

Dan dari hati kecilnya, Felix pun ingin sedikit berkorban untuk memberikan Changbin secercah kebahagiaan yang ia butuhkan.

"Makasih, hyung. Karena udah memasak hari ini," gumam Felix lagi. Changbin terkekeh sebelum mengangguk, lalu mempersilakan Felix mencicipi makanan yang sudah dipastikan enak. Diam-diam, sang beta pun tersenyum saat menikmati makanannya.

Mungkin...tidak ada salahnya jika Felix mulai memupuk rasa kagum terhadap Changbin hari ini, hingga di kemudian kekaguman tersebut bisa berubah menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang bisa Felix berikan demi kebahagiaan yang pantas Changbin dapatkan.

Under The Moonlight ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang