Changbin cukup terkejut mendapati pesan singkat dari Felix yang ternyata hendak mengklarifikasi kesalahpahaman mereka. Benar saja, Felix mengaku bahwa ia mulanya berpikir tawaran Changbin tersebut adalah untuk mencari pasangan mating. Itulah yang membuat Felix bersikeras agar mereka saling mengenal terlebih dahulu sebelum ia memutuskan untuk mengiyakan ajakan Changbin.
Sebenarnya tidak masalah juga jika harus seperti itu. Changbin ingin melihat sejauh mana ia bisa bekerja sama dengan Felix. Namun pemuda itu sendiri yang pada akhirnya setuju untuk menjadi partnernya setelah mengetahui intensi Changbin yang sebenarnya. Ia terkekeh pelan, lalu kembali mengetikkan sesuatu di jendela percakapannya dengan Felix.
('Kenapa kamu berpikir aku akan mencari pasangan mating? Apa pernah ada alpha yang menawarimu demikian?')
Changbin menunggu jawaban Felix sembari menyeduh kopi. Bulan sabit yang menggantung rendah di langit mengintip dari balik pintu kaca balkon apartemennya sehingga Changin pun memutuskan untuk beranjak ke sana. Menikmati semilir angin malam yang membelai lembut rambutnya yang setengah teracak.
Ponselnya berdenting dan Changbin pun menyentuh kotak notifikasi untuk melihat pesan dari Felix.
('Kupikir alpha dewasa seusiamu selalu mencoba mencari pasangan mating secepatnya. Kamu pasti tahu alasannya.')
"Tentu saja aku tahu," Changbin terkekeh. Diletakkannya cangkir kopi di meja balkon sebelum jemarinya mengetikkan jawaban untuk Felix.
('Aku bukan alpha yang seperti itu, Felix. Buatku mencari pasangan bisa dilakukan nanti. Dan aku bisa mengendalikan diriku sendiri sejauh ini.')
Balasan berikutnya datang sebelum Changbin sempat menyesap kopinya lagi.
('Oh, ya? Bagaimana caramu mengendalikan hormonmu sendiri? Dengan supresan?')
('Aku jarang menggunakan supresan. Biasanya aku pergi mengurung diri di basement kediaman orangtuaku. Ada ruangan kedap suara di sana dan biasanya aku akan diikat dengan rantai kalau masa rut-ku tiba.')
Cukup lama jawaban berikutnya datang sehingga Changbin bisa menikmati minumannya sambil menatap cahaya bulan yang cukup terang. Tepat saat kopinya habis, jawaban dari Felix pun datang.
('Itu menyakitkan, Changbin hyung.')
Changbin tersenyum membaca balasan Felix, lalu ia pun menggeleng pelan sambil mengetikkan jawaban.
('Biasa saja, sih. Aku cepat menyembuhkan diri.')
('Ah. Self-healing, ya?')
('Yup.')
('You must be a very strong alpha.')
('Keturunan ayahku.')
('Aku masih bingung. Kenapa kamu malah mencari beta dan bukannya omega? Maksudku...kamu nggak perlu denial dengan keinginan matingmu. Itu kan lumrah.')
('Aku nggak mau jadi alpha yang seperti itu, Felix. Kan sudah kubilang tadi.')
('But why? Isn't it good to have a mate?')
('Is it? To you?')
('Aku nggak memiliki urgensi untuk mating, hyung. Seorang beta nggak akan terpengaruh oleh apapun karena kami hanya 'orang biasa'.')
Changbin menghela napas. Entah kenapa ia merasa sedikit miris saat berpikir ia ingin menjadi seorang beta seperti Felix.
('That's why I choose you. Because you don't have the urge to do that. You can make me less...insane. You can help me get through this without being affected by my hormone.')
Dua menit berlalu sebelum Felix membalas pesannya.
('Okay. I understand now.')
Changbin tersenyum kecil membaca jawaban terakhir Felix untuknya malam itu.
('I will be your partner.')
KAMU SEDANG MEMBACA
Under The Moonlight ✓
FanfictionIn this fucked up world, Changbin doesn't want to be an alpha who live his life like a common alpha. He doesn't want to mate an omega, he just want a partner who can supress his animalistic side. That's why he chooses Felix, a beta, to be by his sid...
