20

995 183 16
                                        

"Uhm...apa?"

Gestur yang tiba-tiba ditunjukkan Felix membuat Changbin refleks memundurkan wajah lantaran kaget. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa pemuda itu akan mengomentari matanya setelah mereka bicara tentang sesuatu yang sama sekali berbeda.

Bagaimana bisa seperti itu? Changbin bahkan kebingungan dengan pujian yang mendadak dilontarkan oleh sang beta.

"Memangnya...mata kita beda, ya?" Changbin dengan bodohnya bertanya dan ia langsung menyesal begitu menyadari hal itu.

Felix lantas kembali duduk tegak sebelum menggaruk kepalanya lagi. Sebuah kebiasaan yang Changbin perhatikan sering dilakukan Felix saat ia bingung ataupun malu. Pipinya agak merona ketika pemuda itu mengedikkan bahu.

"Aku nggak tahu. Aku cuma mau bilang itu aja."

Changbin baru saja hendak membalas ucapan Felix karena sekilas tadi ia sempat memperhatikan bagaimana mata Felix memiliki warna seperti coklat alih-alih hitam. Namun pemuda itu sudah keburu beranjak dari dapur dan kembali ke kamarnya. Meninggalkan Changbin sendirian bersama keheningan dapur yang terasa kikuk.

"Well," Changbin bergumam pada diri sendiri, lalu memutuskan untuk kembali ke kamarnya juga untuk meminum scent blockernya.

Lima menit kemudian, Changbin kembali teringat pada sikap aneh Felix di dapur tadi. Ia nyaris mengambil ponsel untuk berkonsultasi lagi tentang maksud ucapan Felix pada Minho, tetapi detik berikutnya Changbin memilih untuk mengurungkan niat. Ia memikirkan kemungkinan bahwa Felix sedang mencoba untuk mendekatinya setelah bicara empat mata dengan orangtua Changbin tempo hari.

Mungkin saja sikapnya kali ini berhubungan dengan pembicaraan itu. Changbin tidak pernah tahu apakah Felix setuju atau tidak dengan usul orangtuanya. Bagaimana kalau dia setuju? Itu berarti Felix memang bermaksud melakukan hal tadi sebagai cara untuk mendekatinya.

Changbin bingung dengan reaksi yang harus ia berikan. Separuh dirinya merasa tidak ada gunanya memikirkan hal itu. Namun separuh dirinya yang lain merasa bingung dengan pujian itu.

Jujur, ia sedikit menikmati perasaan aneh saat Felix memujinya tadi. Nada bicaranya terdengar berbeda dari biasa. Felix terdengar agak gemetar, tetapi pemuda itu sama sekali tak terlihat bercanda ataupun meledeknya. Seolah Felix mengerahkan seluruh keberanian untuk mengucapkan pujian tersebut.

Entah kenapa Changbin justru merasa bersalah karena sudah membuat Felix kabur setelahnya.

Pria itu menghela napas pelan sebelum memutuskan untuk beranjak dari kamarnya menuju kamar Felix yang terletak di sisi lain apartemen. Sesampainya di depan pintu kamar Felix, ia mengetuk tiga kali untuk memberitahu kedatangannya. Tidak lama kemudian pemuda itu muncul di balik pintu yang terbuka sebagian, mengintip Changbin yang terlihat kikuk.

"Boleh aku masuk?"

Untungnya ia tidak terbata saat bertanya pada Felix. Pemuda itu mengangguk sebelum membuka pintu lebih lebar dan mempersilakan Changbin masuk.

"Duduklah, hyung," ujar Felix, yang mengambil tempat di pinggir ranjang. Changbin perhatikan pemuda itu masih terlihat malu sehingga ia pun kembali menyibukkan diri dengan ponsel di tangannya.

Changbin tersenyum kecil lalu mendudukkan diri di sisi Felix. Pemuda itu menoleh sekilas ke arahnya sebelum kembali menatap ponsel. Selagi perhatian Felix teralih, Changbin kembali menimbang dalam kepalanya tentang balasan yang hendak ia berikan atas pujian sang beta tadi.

Mungkin nanti akan terdengar konyol. Namun Changbin hanya tidak ingin Felix berubah sikap padanya setelah mereka cukup nyaman bercengkerama satu sama lain seperti kawan lama.

Under The Moonlight ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang