25

942 171 15
                                        

"Kenapa tiba-tiba bilang begitu?"

Felix mengerjap ketika mendengar pertanyaan Changbin yang tidak terduga. Nada menyelidik dalam ucapannya membuat Felix diam-diam merasa khawatir dengan reaksi pemuda itu selanjutnya. Ia berusaha menjaga ekspresinya saat menatap Changbin agar pemuda itu tidak bisa menebak intensinya.

"Apa orangtuaku kemarin sempat memintamu untuk mencarikanku mate?" Changbin bersedekap sembari menatapnya lurus-lurus.

Pertanyaan itu entah kenapa membuat perasaan Felix jadi aneh. Tidak karuan dan membingungkan. Di satu sisi, ia lega karena Changbin tidak berhasil menebak pembicaraan orangtuanya yang justru meminta Felix untuk menjadi mate sang alpha, bukan malah meminta Felix mencarikan Changbin mate.

Namun di sisi lain, Felix merasa cukup sedih karena ternyata Changbin memang hanya menganggap hubungan mereka sebatas relasi profesional. Sepertinya tidak sedikitpun terbersit di benak Changbin untuk menjadikan dirinya sebagai kandidat mate-nya.

Felix menghela napas pelan, berusaha menata perasaannya yang entah kenapa terasa agak kacau. Lantas ia pun tersenyum pada Changbin.

"Ternyata hyung menguping ya tempo hari waktu aku dipanggil orangtuamu," Felix terkekeh sebelum mengubah posisi. Kini ia tak lagi bersandar di pagar balkon; pemuda itu hanya berpengangan di sana sembari mengalihkan tatapan pada bulan di atas sana. Sinar cantiknya perlahan mulai tertutup awan yang berarak, seperti pendar hangat dalam hati Felix yang kembali meredup setelah bersinar sebentar.

Semua hanya karena satu pertanyaan yang membuatnya terpaksa mengaminkan kebohongan.

Felix tahu sulit sekali untuk bergerak pelan dan hati-hati saat membiarkan perasaan itu tumbuh. Sulur-sulurnya terlalu cepat membelit seluruh hatinya, mencekik tenggorokannya hingga membuatnya tak bisa bernapas. Felix tidak menyadari bahwa sulur yang ia biarkan tumbuh dan menyelubungi hatinya itu ternyata memiliki duri disana sini.

Saat rasa sakit akibat duri itu mulai terasa, barulah Felix sadar bahwa perasaannya ternyata sudah bertumbuh terlalu besar dalam waktu yang cukup singkat.

Ia tidak benci jatuh cinta. Namun Felix rasa mungkin ia tidak akan membiarkannya tumbuh lagi jika Changbin hanya akan memupuk taman yang lain.

"Habisnya, kenapa tiba-tiba membahas mating? Aku sudah bilang nggak mau," ujar Changbin lagi. Felix mendengus pelan, setengah sarkas saat mendengar ucapan itu lagi dan lagi. Namun pemuda itu memilih untuk memberi Changbin tatapan datar sebelum berkata singkat.

"Ya sudah. Hidup sendirian aja selamanya."

Felix tidak tahu apa yang membuatnya tiba-tiba kesal dan melampiaskannya secara tidak langsung (atau apakah itu langsung?) pada Changbin. Rasa frustrasi membuat benaknya tak bisa berpikir jernih. Padahal harusnya sebagai seorang beta ia dianugrahi kelebihan untuk berpikir rasional tanpa mengedepankan emosi.

Namun nyatanya Felix tetaplah makhluk yang memiliki perasaan. Mungkin saja ia kesal karena ternyata ia sudah terlalu banyak membuang waktu dengan menyukai pria keras kepala seperti Changbin.

Felix kembali masuk ke dalam apartemen Changbin, berniat untuk langsung menuju kamarnya dan berdiam diri di sana. Emosi ini terasa asing bagi Felix hingga ia harus menyendiri untuk menjernihkan pikirannya kembali. Namun tiba-tiba saja langkahnya tertahan oleh jemari Changbin yang menggenggam sikunya.

Felix menoleh, masih berusaha mempertahankan ekspresi datarnya meskipun saat itu ia ingin menyentakkan tamgannya dari genggaman Changbin.

"Kenapa tiba-tiba marah, sih?!" Changbin mengerutkan alis, ekspresinya terlihat bingung sekaligus cukup kesal, "kamu kan tahu sejak awal aku nggak mau mating."

"Bahkan setelah kamu tahu kalau orangtuamu ternyata masih menggantungkan harapan mereka padamu, hyung?"

Selama beberapa detik, mereka hanya saling menatap tajam, sama-sama bersikap keras kepala. Felix akhirnya menghela napas lelah dan memutus kontak mata terlebih dahulu sebelum menarik tangannya dari genggaman Changbin.

"Besok aku akan pulang. Tugasku sudah selesai," gumamnya, bersiap untuk melangkah ke kamar.

"You're right, Felix," tiba-tiba Changbin bersuara, membuat Felix seketika berhenti untuk mendengarkan.

"I want to die alone without anyone crying over my dead body."

Ucapan tanpa emosi itu entah kenapa terasa begitu menusuk jantung Felix hingga pemuda itu pun terkesiap mendengarnya. Duri-duri tak kasat mata yang melingkupi hatinya kini semakin dalam menancap di sana, membuat perasaannya tercabik. Felix berbalik, tatapannya terlihat begitu sedih menatap Changbin yang hanya terdiam seperti patung.

"I don't want to be the reason for someone's sadness."

Felix menjilat bibirnya yang tiba-tiba kering, lalu membuka mulut untuk mengatakan sesuatu. Hanya saja detik berikutnya ia kehilangan kata-kata sehingga pemuda itu kembali mengatupkan bibir. Napasnya dihela panjang, sekali, dua kali. Lalu pemuda itu menggigit bibir atasnya sebelum akhirnya bicara.

"Untuk seorang alpha, kamu terlalu pesimis, hyung," Felix membiarkan isi pikirannya terucap begitu saja karena, sejujurnya, ia lelah harus menyimpannya sendiri.

Lantaran Changbin masih menatapnya dengan sorot datar tanpa ekspresi, Felix memutuskan untuk melanjutkan kata-katanya lagi.

"Maksudku...kenapa harus memikirkan mati sekarang? Hidupmu masih panjang. Hyung saja belum seberapa lama memimpin klan dibandingkan ayahmu. Kenapa harus berpikir terlampau jauh? Nikmati hidupmu selagi kau bisa melakukannya. Bahagiakan dirimu dan orang-orang di sekitarmu, jadi kau nggak akan berpikir sesedih itu."

Felix tidak sedikitpun mengalihkan tatapannya dari Changbin saat ia berhati-hati menangkup kedua pipi pria itu dengan telapak tangannya.

"You have to shine the world, Sun. You are your own people's strength. That's why you need a moon beside you," Felix menepuk pelan pipi Changbin sebelum menyunggingkan senyum kecil.

"Kalau kamu mau, aku bisa mengenalkanmu dengan teman-teman omega dari klanku. Mereka semua baik dan nggak akan mengecewakanmu."

Kata-kata itu diucapkannya sembari perlahan menurunkan tangan dari pipi Changbin dan berbalik. Rasanya sulit sekali untuk tersenyum saat jelas-jelas ia ingin memberitahu Changbin bahwa ia ada di sini untuknya. Changbin bisa memilihnya

ㅡjika pria itu bersedia untuk memiliki mate seorang beta, sosok yang tidak ditakdirkan semesta untuk sang alpha.

"Nggak perlu, Felix," ujar Changbin sembari menghela napas pelan, "aku akan cari sendiri...jika itu memang yang terbaik menurutmu."

Felix mengerjap sebelum berbalik menatap Changbin dengan sorot tidak percaya.

"I trust my partner. So, I will try to find my mate by myself."

Kelopak mata Felix sontak melebar kaget sebelum pemuda itu memberi Changbin senyum senang. Rasanya seperti baru saja berhasil melalui rintangan berat dengan membuat Changbin akhirnya mengubah prinsip hidupnya. Namun memang lebik baik begitu, pikir Felix, karena sesungguhnya ia hanya ingin Changbin menemukan kebahagiaan setelah semua kesulitan yang ia alamiㅡmeskipun tidak bersamanya.

(Seandainya saja Felix tahu bahwa dialah satu-satunya yang Changbin inginkan untuk memberinya kebahagiaan.

Sayangnya, ia tidak tahu.)

Under The Moonlight ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang