[!!!]tw: act of violence, use of weapon, cursing. please proceed this warning before you read
*
Klik.
Setelah berhasil memanjat tumpukan peti kayu hingga mencapai puncak jendela tinggi di dinding gudang, Felix mencoba membuka jendela itu dengan pisau lipatnya. Cukup mudah ternyata meskipun jendela itu berkarat. Ia bisa menghidu bau Changbin lebih kuat di sana, yang merupakan sebuah tanda bahwa kemungkinan besar sang alpha disekap di dalamnya.
Begitu jendela itu terbuka, Felix mengintip dari balik peti-peti kontainer yang disusun hingga hampir menyentuh langit-langit di dalam gudang itu. Ada beberapa peti yang tidak benar-benar menempel ke dinding, menyisakan celah yang sepertinya bisa dilalui Felix. Ia segera memanjat jendela lalu meniti langkah di sepanjang celah sempit itu.
Felix menemukan ujung celah di sisi kanan dan kembali mendengarkan suara-suara di sekitarnya dengan saksama. Masih seperti sebelumnya, tempat itu terlalu hening hingga Felix pun merasa semakin dibayangi ketakutan.
Apakah ini hanya jebakan? Apa sebenarnya mereka tidak membawa Changbin ke sini?
Klik.
Jantungnya terasa seolah melompat dari tenggorokan ketika suara itu terdengar tak jauh dari tempatnya berdiri. Persis seperti suara jendela yang dibuka Felix sesaat lalu. Napasnya sontak tertahan, keringat dingin menetes dari pelipisnya. Selama beberapa detik Felix mematung, lalu perlahan menoleh ke arah jendela yang tadi ia buka. Tidak ada siapa-siapa di sana.
Namun entah kenapa Felix merasa seperti diawasi.
'Changbin hyung, please be safe,' berulang kali ia merapal kata-kata itu dalam kepalanya. Felix tidak bisa menangis, tidak boleh menangis. Kepanikan ini harus ia hadapi dengan kepala dingin.
Setelah tidak ada lagi suara yang terdengar, Felix kembali bergerak ke arah celah tersebut. Ia pun memastikan bahwa tidak ada kamera pengawas di sepanjang gudang itu. Setelah sampai di ujung, Felix mengintip sekilas dari balik kontainer.
Tidak ada siapapun yang ditemukannya di sana.
Hampir saja Felix merutuk kesal jika saja ia tidak mendengar rintihan samar yang terdengar dari sisi ruangan yang lain. Kelopak matanya membelalak, jantungnya memacu detak dan membuat napasnya kembali sesak. Felix mengukur jarak tempatnya berdiri dengan lantai yang ternyata cukup jauh. Ia berusaha memikirkan cara untuk turun tanpa menimbulkan suara, tetapi sepertinya tidak mungkin.
Setelah menetapkan hati, Felix akhirnya nekat untuk melompat ke bawah. Pisaunya sudah siaga sehingga Felix tinggal melayangkannya pada siapapun yang mendekat.
Bruk!
Felix mendarat di lantai dengan bunyi yang cukup keras. Sebelum ada yang melihat, ia segera bersembunyi di balik bayang-bayang gelap lagi. Wajahnya yang berada di balik topeng dan hoodie mungkin sudah basah oleh peluh, tetapi Felix tidak peduli. Ia terus mengendap-endap menuju bagian ujung kontainer sebelum mengintip sisi lain ruangan yang berada di baliknya.
Napasnya tercekat. Seluruh tubuhnya terasa membeku saat melihat apa yang ditemukannya di tengah ruangan.
Seo Changbin berada di sana, dengan mulut dibekap dan kaki serta tangan terikat pada tiang besi yang ada di sana. Wajahnya tertunduk lesu, dengan lebam disana sini. Pakaiannya pun sudah compang-camping seolah ada yang menyayat helaiannya dengan benda tajam. Seluruh tubuh Felix gemetar melihat kondisi Changbin yang sangat parah sehingga ia pun nekat berlari menghampiri pria itu.
"J-jangan!" Changbin berseru serak. Felix lekas membuka bekapan di mulut Changbin lalu mengeluarkan pisau lipatnya untuk memotong tali tambang yang mengikat pria itu.
"Ini aku, Bin hyung," Felix bergumam dari balik topeng, sengaja memelankan suaranya agar hanya Changbin yang bisa mendengar. Namun pria itu kini menjadi lebih ketakutan sehingga Felix pun bergegas menenangkannya dengan mendekatkan lehernya ke wajah Changbin.
"Pergi, Lix...Lari...Mereka menjebakmu...," Changbin kembali merintih. Felix berhenti sejenak lalu kembali memotong tali pengikat Changbin seolah tidak terjadi apa-apa.
"Aku tahu, Changbin hyung," gumam dengan suara yang terlampau tenang. Felix rasa ia sudah benar-benar pasrah jika tertangkap. Yang penting ia harus menyuntikkan supresan itu sehingga Changbin bisa keluar dari sini dan memanggil kawanannya untuk menyerang balik.
Namun belum sempat Felix merogoh saku, tiba-tiba saja ia merasakan sesuatu yang dingin menyentuh pelipisnya. Tatapan Changbin berubah horor dan Felix bisa melihat pantulan wajahnya yang tertutup topeng di mata pria itu, dengan moncong pistol yang menempel di pelipisnya.
"Mau apa kau dengan tawananku, bocah? Mencoba jadi pahlawan?" Kekehan kasar itu menyakiti telinganya. Ia terus mematung sebelum belakang hoodienya ditarik kasar hingga kepalanya tersentak ke belakang.
"Stop it! You fucker!" Changbin menggeram marah. Felix menggigit bibir untuk menahan suaranya saat genggaman pria itu semakin erat di belakang kepalanya hingga membuat beberapa rambutnya hampir tercabut.
"Shut up, Seo. Or should I make you?"
Pistol di tangan pria itu diarahkan ke kening Changbin hingga Felix pun terpaksa membuka suara agar pria itu berhenti.
"Please. Jangan sakiti Changbin hyung. Jangan tembak dia," pintanya. Pria itu menggumamkan nada bingung yang dibuat-buat sebelum ia menarik pistolnya dari wajah Changbin.
"Kenapa kamu memohon untuk Seo Changbin? Apa dia sepenting itu buatmu?"
Felix menelan ludah lalu mengangguk. Sebelum ia mendengar balasan, tiba-tiba saja topengnya direnggut hingga lepas hingga wajahnya berhadapan dengan sosok alpha beringas dari klan yang menjadi penyebab dari semua kekacauan ini.
Pria itu bersiul rendah, yang kemudian diikuti oleh tawa meremehkan beberapa orang yang tanpa Felix sadari ada di belakang mereka.
"Jadi rumor itu benar?" pria itu menyeringai, "Kalian berdua punya hubungan khusus."
"He is just my friend!" Changbin menyalak, membuat alpha jahat itu tertawa. Felix sudah tidak peduli lagi dengan apapun arti dirinya di mata Changbin. Asalkan pria itu selamat, Felix akan menjadi apapun untuknya.
"Aku tidak bodoh, Seo Changbin. Kamu mencarinya saat rut. Insting membawamu padanya. Kamu kira aku tidak mengalami hal yang sama sebagai alpha?" ia mendecih. Felix mendengar Changbin kembali menggeram meskipun saat ini tidak semarah sebelumnya.
"Sudahlah. Aku capek basa-basi. Ikat dia," sang alpha melemparkan tubuh Felix ke arah komplotannya yang sudah menunggu perintah. Felix berusaha memberontak tetapi salah seorang dari mereka meninju perutnya sehingga Felix terbungkuk menahan sakit.
"Pastikan dia menyaksikan saat alphanya menyentuh omega lain di depan matanya."
Felix menggigit bibir kuat-kuat, berusaha agar tidak memohon pada alpha jahat itu agar tidak menyiksa Changbin lebih jauh lagi.
"Lepaskan aku, keparat!"
Bugh! Sebuah pukulan mendarat di rahang Changbin untuk membungkamnya. Felix memejamkan mata erat-erat untuk menguatkan diri meskipun hatinya terasa diinjak-injak saat melihat Changbin terluka di depan mata.
"Kurasa inilah saatnya," pria itu menjentikkan jari pada dua pria di sampingnya sebagai gestur agar mendekat.
"Bawa omega kita masuk dan lemparkan pada serigala di sana. Kita akhiri semuanya sebelum matahari terbit," ujar pria itu sembari menyeringai licik.
KAMU SEDANG MEMBACA
Under The Moonlight ✓
FanfictionIn this fucked up world, Changbin doesn't want to be an alpha who live his life like a common alpha. He doesn't want to mate an omega, he just want a partner who can supress his animalistic side. That's why he chooses Felix, a beta, to be by his sid...
