06 - Senior itu lagi?

18 1 0
                                    

Lea dan Dinda —teman barunya— tengah menikmati makan siang di kantin. Ternyata, makanan di kantin kampus lumayan enak dan harga yang lumayan terjangkau. Ditambah ada es teh gratis dan boleh ambil asal minum disana.

"Le! Gue bener-bener heran deh sama lo, lo pake pelet apa sih sampe Kak Agasta pengen nempel-nempel terus sama lo gitu? Parah sih, tapi lo udah tau kan kalo Kak Agasta udah punya pacar?"

Lagi dan lagi, Lea harus mendengar hal yang sama sekali tidak ingin ia dengar, persoalan Agasta memang tidak akan ada habisnya. Agasta sudah menjadi topik harian di Pelita Bangsa, bahkan tiada hari tanpa Agasta yang menjadi trending topik di grup chat angkatan.

"Gatau, gue lagi gamau bahas Kak Agasta."

"Ih, aneh lo mah! Orang lain pengen banget deket sama Kak Agasta, nah lo malah ngehindar gitu, rezeki nomplok malah di sia-siain."

"Em, lo alumni mana?" Tanya Lea tanpa niat sama sekali, ia hanya ingin mengalihkan pembicaraan saja agar Dinda tidak terus-terusan membahas Agasta.

"Gue alumni SMA Negeri 2 Makassar."

"Heh? Lo merantau dong?"

"Iya, gue ngekost di jalan permai, lumayan murah di sana, tempatnya juga enak. Kalo lo, sama keluarga apa ngekost juga?"

"Masih sama keluarga, soalnya rumah gue juga ga jauh-jauh amat sih dari sini."

"Kemaren teh lo di hukum sama Kak Agasta ya? Kemaren soalnya gue liat lo, Kak Agasta sama Maba yang kemaren belain lo siapa namanya?"

"Rensa?"

"Gatau namanya, pokoknya dia. Masuk ke ruang sidang, ngapain?"

"Ya soal hukuman lah. Dan gobloknya, gue malah di hukum tiktokan bareng, gila banget gasi?" Jawab Lea dengan malas, gadis itu mengaduk-aduk es jeruknya.

"Heh seriusan? Kemaren kayaknya ada yang kena hukum juga sama Kak Agasta, tapi malah hukumannya suruh pake sepatu boot hari ini, kok enakan elo ya?"

"Lah, mana gue tau, gue kan ikan." Lea tidak peduli mau hukumannya suruh pake dapati boot, sepatu kulit ayam, ataupun suruh menghitung beras satu karung pun, Lea tetap tidak peduli.

"Fix ini mah! Kak Agasta suka sama elo!"

"Hah?! Apa lo bilang?! Agasta suka sama cewek ini? Mulut lo kudu di gosok biar kalo ngomong nggak ngasal!"

Lea dan Dinda menatap salah satu seniornya yang sedari tadi ikut menguping semua percakapannya. Dia adalah Wendy, berkali-kali Gita memperingatkan padanya bahwa tidak perlu memasukkan masalah pribadi dalam proker, yang ada Agasta akan marah nantinya.

"Lo lupa sama perkataan gue semalem?!" Pekik Wendy yang masih tersulut emosi. Lea hanya diam menatap nasi gorengnya yang sama sekali belum ia makan.

"Kak, saya sama sekali nggak suka sama Kak Agasta. Kakak gausah khawatir saya bakalan rebut Kak Agasta kakak." Final Lea. "Maaf karena kata-kata saya terlalu nyolot, tapi emang begitu keadaanya."

Keadaan kantin semakin riuh karena Lea berani angkat bicara, pasalnya jika Lea tidak angkat bicara, yang ada masalah ini tidak akan pernah berakhir, dan Lea sangat membenci itu. Tujuannya kuliah hanya menyelesaikan studinya saja, bukan malah mencari masalah dengan banyak orang.

"Lo tuh Maba, gaada sopan santunnya banget sih sama senior!"

"Wen, udah sih." Gita menengahi. Sebenarnya Gita sangat mengenal Wendy, gadis itu sangat mudah untuk di sulut emosinya, tapi Wendy juga begitu keras kepala, bahkan perkataan Gita saja tidak dia indahkan.

"Mantap gelut!"

"Seru banget nih kalo trending topik di grup angkatan!"

"Parah sih, si mahasiswa baru nya gaada otak banget."

ReasonTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang