23 - Rencana

9 1 0
                                    

"Oh jadi tuh cewek murahan? Pantes sih, gayanya juga sengak gitu."

"Bisa-bisanya kampus sini nerima cewek murahan, sana-sini nempel."

"Iya, nggak abang nggak adek di gebet semua."

"Wajar aja sih, Agasta sama Rensa kan ganteng gitu. Cewek mana yang gamau sama mereka?"

"Sumpah deh gue jijik banget ngeliat tampang polos padahal busuk."

Lea menunduk dalam, ia berusaha menahan air matanya agar tidak turun. Padahal dadanya sesak sekali mendengar cacian seperti itu.

Namun kemudian Dinda datang, ia memeluk tubuh Lea untuk menyembunyikan tubuh gadis itu sebagai tontonan. "KALO KALIAN NGGAK BUBAR, GUE BAKALAN LAPOR KE REKTOR!" ancamnya dengan berteriak, "BUBAR! GUE BUKAN PISANG, NGAPAIN KALIAN NGELIATIN GUE?!"

Mendengar teriakan dari Dinda, seluruh mahasiswa-mahasiswi di saja pun langsung bubar masuk kelas bahkan ada yang berjalan sambil mencuri-curi pandang untuk melihat Lea dan kembali menggunjingkannya.

"Le, please gue sama sekali nggak paham sama apa yang terjadi. Di sosmed udah rame banget anjir, bahkan ada akun hate yang dibuat cuma buat hate lo doang. Sebenarnya kenapa?" tanya Dinda, ia membawa Lea untuk duduk dan menenangkan pikirannya.

Namun Lea sama sekali tidak bisa mempertahankan pertahanannya, ia menangis tersedu-sedu. "Gue gatau, gue gatau siapa di balik akun anonymous itu. Gue capek Din, gue gamau ngulang masa SD lagi."

"Jadi gimana bisa ada foto itu? Kok kalian bisa di rumah berduaan?"

Lea menjelaskan bagaimana kejadian kemarin dengan detail sembari menahan tangisnya, "Gitu ceritanya."

"Lo udah cek di rumah Kak Agasta ada kamera tersembunyi gitu nggak? Gue curiga ada yang masang kamera itu buat ngejebak lo."

"Ngejebak gue?" beo Lea.

Dinda mengangguk, "Iya, jaman sekarang udah canggih. Kamera bisa di buat sekecil semut biar nggak kelihatan."

Benar, kemarin Lea sama sekali tidak mengecek sudut ruangan rumah Agasta. Ia malah datang lalu mencaci-maki Agasta begitu saja. "Gue... Belum."

"Sepulang kuliah nanti, lo harus pastiin cek yang bener. Kalo emang ada, lo ambilnya hati-hati dan pake sarung tangan biar ketahuan sidik jari yang punya kamera itu." Jelas Dinda dengan serius.

Lea kembali mengingat dimana foto dirinya dengan Rensa saat Rensa menggendong Lea karena terjatuh dari tangga. Foto itu di ambil dari sisi sudut kanan rumah Lea, apa mungkin ada di sana juga? Dan juga, di kamar rumahnya. Tapi setahu Lea, tidak pernah ada yang masuk ke kamarnya selain dirinya dan Mamanya. Lantas, siapa dalang dari semua ini?

"Nggak cuma di rumah Rensa deh kayaknya, coba lo liat lagi postingan yang pernah di post sama anonymous account itu. Pertama di sudut kanan rumah gue, kedua di kamar gue, dan ketiga di rumah Rensa. Kok gue jadi bingung ya? Sebenarnya siapa dalang di balik ini semua?" Lea menompang dagunya di atas meja, ia benar-benar bingung.

Dinda mengangguk, ia kembali membuka foto-foto yang pernah ia screenshot dari akun anonymous itu. Dan benar apa yang dikatakan Lea, "Apa pemilik anonymous account ini ngambil foto dari satelite?"

"Gila aja lo, satelite cuma ada di jalan doang yakali sampe masuk ke kamar gue segala."

Dinda memegangi dagunya, "Bener juga sih, apa pelakunya bukan Rensa atau Kak Agasta gitu? Secara, masalah ini dateng pas mereka berdua pindah di depan rumah lo. Jadi kemungkinan besar kalo bukan Rensa ya... Kak Agasta."

"Tapi gue tanya ke Kak Agasta bukan dia kok, tapi nih Din. Yang bikin gue bingung, kenapa Kak Agasta malah kayak b aja gitu ya? Maksudnya dia kayak nggak peduli sama masalah ini gitu." Lea kembali mengingat kemarin, dimana ia datang ke kamar Agasta dan melihat laki-laki itu yang tengah berbaring santai.

ReasonTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang