15 - Puppy Love

11 1 0
                                    

"Kalian... Kakak adik?" tanya Lea dengan terbata-bata. Sungguh di luar nalarnya, Agasta dan Rensa adalah saudara kandung?

"Gue anggap dia adik, tapi kayaknya dia enggak."

Mata Lea beralih ke Agasta, laki-laki itu tersenyum miris. Bagaimana bisa seorang Agasta yang kelakuannya seperti setan bisa memiliki adik super kalem dan misterius seperti Rensa? Ah bahkan, Agasta dan Rensa memiliki nama belakang yang berbeda. Agasta Hansel Bimasatya, dan Rensa Abrisam.

"Kok?"

Tidak menjawab apapun, Rensa pergi dari sana. Ini bukan ekspetasinya. Lea, gadis itu sekarang akan menjadi tetangganya? Bagaimana bisa? Mengapa Agasta memilihkan tempat tinggal tepat berseberangan dengan rumah Lea? Sebenarnya apa maksud Agasta melakukan ini.

"Wahh... Keanehan dunia, masa iya setan bisa saudaraan sama malaikat." Lea menggeleng-gelengkan kepalanya sembari mengigit jarinya.

"Excuse me, maksud lo gue setan?"

"Maaf nih, Kak. Bukan gue yang ngomong gitu," ujar Lea, lalu beralih dari sana. Setelah mengetahui kebenarannya, Lea jadi tidak perlu khawatir lagi tentang ini. Apapun rencana Agasta untuk membuat hidupnya hancur, pasti dengan senang hati Rensa menolongnya. Lea menjadi teringat pada awal pertama ia ospek, Rensa menolongnya dari serangan senior. Dan disana, Rensa benar-benar terlihat sangat gagah berani. Tapi, pasal Agasta dan Rensa yang bersaudara, itu benar-benar tidak ada di dalam pikiran Lea. Saat itu, Agasta memang memarahi Rensa sama seperti Agasta memarahi junior yang lain, tidak di beda-beda kan. Dan, apa yang di katakan Agasta tadi? "Gue anggap dia adik, tapi kayaknya dia enggak." Mengapa Rensa tidak menganggap Agasta sebagai kakaknya?

"Ren! Rensa!" Lea berlari dengan sedikit terengah, ia mengejar Rensa untuk menanyakan sesuatu.

"Jangan tanya kenapa gue nggak anggap iblis berwujud manusia tadi sama gue."

What the hell?

"Yeee, geer banget lo. Gue cuma mau nanyain tugas yang tadi di kasih sama Pak Nando. Gue masih bingung, dikit." Lea tertawa sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sebenarnya kemarin ia menyimak dan mendengarkan penjelasan Pak Nando, tapi karena Aurora yang selalu mengganggunya, fokusnya buyar.

"Kan lo bisa tanya temen lo, kenapa harus gue?"

"Kan lo temen gue!" ujar Lea bersemangat, "Kalo lo mau ngajarin gue, makan siang sama makan malam lo boleh makan di rumah gue, gimana?"

Rensa berpikir, uang tabungannya dari bekerja di bar memang cukup untuk membayar biaya kuliah dan kehidupannya sehari-hari, namun bukankah makan di rumah Lea bisa membuatnya lebih berhemat? "Oke."

"Sekarang lo mau kemana? Gue ikut, ya?"

"Gue pengen ke museum alat musik."

"Ngapain?"

"Jualan alkohol."

"Emang bisa? Yang ada lo di sangka orang gila!"

"Lo udah dewasa dan berkembang, tapi otak lo ternyata nggak ikut berkembang."

"Tungguin di sini, gue masuk bentaran doang." Lea langsung masuk ke dalam toko ayam goreng, membeli beberapa potong ayam lalu keluar. Saat di luar, Lea terkejut saat melihat Agasta yang berada di situ juga. Padahal, Lea sama sekali tidak mengajaknya.

"Ngapain lo kesini?"

"Mama lo yang nyuruh, kalo enggak ya ogah banget gue."

Lea berdecih, "Ayo Ren, makan di rumah gue, tuh manusia alien gausah di ajak." Lea menarik tangan Rensa untuk pergi dari sana.

Saat ospek, mungkin Lea merasa Agasta adalah senior yang seharusnya dihormati. Namun, sekarang ia sudah resmi menjadi mahasiswi di universitas Pelita Bangsa, bukan? Memang, rasa menghormati Agasta masih ada walaupun hanya secuil, tapi mengingat betapa menjengkelkannya Agasta, Lea tak sudi. Tapi bagaimanapun juga, Agasta adalah seniornya.

Pada akhirnya, Agasta dan Rensa tengah duduk bersama Lea dan Mamanya di meja makan. Sebenarnya Lea hanya mengajak Rensa saja, namun Mamanya mengajak Agasta untuk ikut bersama.

"Ayo, nak Agasta, nak Rensa, di makan." Ghana meletakkan sayur sup di atas meja, lalu meletakkan sendok di atasnya.

Untuk saat ini, Lea hanya bisa diam. Ia tidak mau mencari keributan, terlebih lagi ini adalah rumahnya. Mungkin salah jika Lea membenci Agasta, tapi seniornya itu sangat membuatnya geram, bagaimana tidak kesal?

Lea mengambil ayam goreng bagian paha ke atas piring Rensa, lalu meletakkan sayur sup di atasnya.

Rensa hanya memperhatikan gerak-gerik Lea, "Gue nggak suka nasi di campur sayur."

DOR!

Apa yang Lea rasakan? Malu.

"Dih, orang ini punya gue." Lea mengambil piring itu dan mengganti piring Rensa dengan piring di hadapannya. Sungguh, kesalahan yang sangat fatal. Dan lihat di sana, Agasta tengah cekikikan layaknya kelinci.

"Gimana sih kamu, Le."

***

Entah mengapa, sore-sore seperti ini Ghana pergi ke rumah Agasta dan Rensa. Lea juga bingung sendiri mengapa Mamanya melakukan itu, yang pasti, ketakutan Lea adalah, Mamanya menyukai salah satu dari kakak-beradik itu.

Tidak.

"Ma! Air rebusan Mama udah mendidih," ujar Lea yang berdiri di gerbang rumahnya. Ia bisa melihat dengan jelas Ghana tengah ikut merapikan rumah yang sudah lama kosong dan tiba-tiba berpenghuni itu.

"Ya matiin lah, Le. Masa gitu aja harus Mama yang kerjain." Ghana yang sedang memasang gorden dibantu dengan Rensa pun menoleh.

Benar-benar kacau. Sejak kedatangan Agasta dan Rensa tadi pagi, itu adalah awal dari malapetaka bagi Lea. Seharusnya, dulu ia menolak saja saat Agasta mengantarnya pulang, agar semua ini tidak terjadi.

Gadis itu berlari mengambil handphonenya yang tergeletak di atas meja, lalu mencari room chat atas nama Agastahanss.

Agastahanss

Kak, mendingan lo pergi aja deh! |
Jangan pindah di depan rumah gue, kan banyak tuh rumah lain, jangan di depan rumah gue jg! |

| Apa? Gue ga denger
| Berisik bgt disini

Lea bersandar di pintu, menatap Agasta yang sedang membalas chat nya. Sungguh, laki-laki itu memang membuat amarah Lea meninggi. Mungkin memang benar, membuatnya marah dan terganggu akan membuatnya hidup kekal abadi seperti iblis, jangan lupakan iblis berwujud kelinci seperti Agasta.

Agasta tertawa menatap Lea, sebenarnya Agasta memiliki tujuan sendiri mengapa memilih rumah itu menjadi tempat tinggalnya. Dan Agasta sangat menyukai ketika melihat Lea marah, mengamuk, dan berceloteh panjang.

Pergi! |

| Kalo gue gamau, gmn?

Terserah lo deh, capek gue! |

Lea memasukkan handphonenya ke dalam saku, lalu masuk ke kamarnya. Persetan dengan Mamanya yang tengah asyik bersama dua berondong, Lea memilih untuk memakai sheet mask disore hari sembari mendengarkan lagu. Kegiatan yang paling Lea suka, selain memakan marshmellow.

I really like you
I want to confess
But i'm scared to find out the truth
Whether if you like me back or not
I wonder everyday until my mind goes insane
Please tell me how you feel

Baby I like you a lot
I love it when you look at me with that smile on your face
Just thinking of you makes my heart skip a beat
Can't fall asleep 'cause reality is finally better than my dreams

Terdengar suara tepukan tangan, membuat Lea mencari kesana kemari. Dan saat ia menatap ke arah balkon, disana ada Agasta yang tersenyum lebar sembari bertepuk tangan.

***

ReasonTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang