"Ren, berhenti!" Lea menepuk punggung Rensa dengan kuat, ia melihat Mamanya yang tengah berada di luar rumah. "Ada Mama gue, kalo Mama tau gue bau alkohol gini, yang ada dia bakalan marahin gue bahkan bisa digebukin gue." Jelas Lea, mengingat Mamanya ini paling anti sekali dengan minuman beralkohol.
Rensa memutarbalikkan motornya, ia memarkirkan motornya di bawah pohon yang lumayan jauh dari rumah Lea. "Ke rumah gue aja dulu, ntar kalo Tante Ghana udah masuk, baru lo naik ke kamar."
"Naik apa? Lo kira gue Spiderman bisa manjat."
"Tali yang dipakai bang Agasta buat naik ke balkon kamar lo," ujar Rensa dengan memalingkan wajahnya, ia malas harus menyebutkan nama itu, apalagi dengan embel-embel 'bang' itu menjijikkan.
Lea juga tampak berpikir, jadi Rensa melihat ketika ia dengan Agasta sedang berada di balkon kamarnya? Mungkin juga, Rensa yang sudah memberitahukan itu pada Wendy sampai Wendy marah besar padanya? Tapi mana mungkin? Jika dilihat, Rensa tidak mungkin melakukan hal itu. "Lo liat Kak Agasta naik ke kamar gue?"
"Buruan, keburu tetangga tau kalo lo bau alkohol." Rensa menarik tangan Lea untuk ikut dengannya, keduanya mengendap di balik semak-semak menghindar dari Mamanya. Sebenarnya Rensa melihatnya, ia melihat bagaimana Lea dan Agasta yang duduk di sofa dan mengobrol layaknya teman lama dan sesekali bercanda.
"Ren, gue takut ketahuan."
Rensa membawa Lea berjongkok ketika ia melihat Ghana yang tampak curiga pada keadaan sekitar, keduanya saling berhadapan dengan jarak lumayan dekat. Bahkan rasanya, jantung Rensa berdetak lebih cepat dari biasanya. Saat menatap mata bulat kecoklatan milik Lea, rambut indah yang berjatuhan di dahinya. Itu semua mengingatkannya pada anak gadis kecil yang pernah ia tolong sewaktu SD dulu.
Lea juga merasa canggung, gadis itu menepis tangan Rensa dari tangannya lalu menatap ke arah lain. Jantungnya juga berdebar sekarang, entahlah mengapa.
Rensa kembali menilai situasi, ia melihat Ghana yang masuk ke rumahnya. "Tante Ghana udah masuk, ayo." Rensa kembali menggenggam dan menautkan jari-jari tangan Lea untuk ikut dengannya, gadis itu pun hanya bisa pasrah ikut apa yang dilakukan Rensa. Lea menatap tangannya yang di genggam Rensa, begitu hangat.
Keduanya masuk ke rumah melewati pintu belakang, meskipun harus melewati semak-semak belukar yang lebih ranting tajam, akhirnya mereka bisa masuk ke rumah Rensa. Rensa meletakkan tasnya di atas sofa, ia pun ikut duduk di sana.
Sementara Lea, gadis itu menganga ketika menatap seluruh isi rumah dua laki-laki itu. Dinding yang bernuansa putih, banyak sekali lukisan dan foto keluarga. "Ren, di foto ini kok lo nggak senyum?" Lea juga sedikit bingung ketika mendapati sebuah foto keluarga dimana ada kedua orangtuanya, Agasta dan Rensa yang berdiri tegap tanpa senyum sedikitpun. Rensa seperti tidak bahagia hidup di keluarga itu.
"Mendingan lo ganti baju dulu sana, lo kayak orang abis mabuk berat." Rensa bersuara, ia sangat membenci pertanyaan Lea. Itu sama saja seperti penghinaan bagi Rensa, mengungkit masa lalu yang sama sekali tidak Rensa inginkan. Bahkan kalau bisa, Rensa hendak membuang semua memori di masa lalu yang begitu kelam.
"Ya gimana, gue nggak bawa baju lagi. Kalo gue pulang, yang ada Mama tau kalo gue bolos dan bakalan diomelin. Gimana dong?" Lea malah bertanya balik, biasanya di jam-jam seperti ini Ghana akan ke kamarnya untuk sekedar membersihkan kamar Lea dan melihat tugas-tugas Lea yang berceceran di lantai. Jadi, tidak mungkin bagi Lea untuk pulang sekarang. "Kalo gue pake baju lo kan... Gamau gue, nggak."
"Terus, lo mau basah bau alkohol begitu sampe kapan? Sampe Tante Ghana pergi dari rumah? Gila." Komentar Rensa, gadis bernama Lea itu memang sudah gila.
"Mungkin iya, gue nggak mau pake baju lo apalagi baju abang lo, ogah." Pakai kaos milik Rensa mungkin bukan hal buruk, tapi tetap saja Lea malu untuk memakainya. Apalagi untuk hal memalukan seperti ini, dibully huh, memalukan.

KAMU SEDANG MEMBACA
Reason
Teen Fiction"Jadi, selama ini Kakak menggunakan aku sebagai alasan untuk menjauh dari Kak Wendy?" "Justru itu, gue kemakan omongan gue sendiri, Le. Sekarang, gue malah cinta beneran sama lo. Bener kata orang, cinta itu beralasan." *28/08/2020*