19 - Debat di Balkon

11 1 0
                                    

Lea menghela nafas berkali-kali, malam sudah menunjukan pukul 22:30, namun ia masih belum bisa tertidur. Padahal besok ada kuis, dan Lea masih terjaga sampai saat ini. Dengan itu, Lea memutuskan ke balkon lagi untuk melihat langit malam yang indah. Lea menyukai langit malam yang gelap, yang mana ada bulan dan bintang yang menerangi.

Lea berpegangan pada besi penyangga, mengangkat kepalanya dan menatap langit malam. Ratusan bintang berada cantik di atas sana, juga dengan bulan yang malam ini tengah menunjukkan pesona indahnya.

Lea menghela nafas, "Gue kangen lo, Gas." Sekali lagi, Lea merindukan Bagaskara, sahabatnya yang kini entah dimana. Sejak lulus SMA, ia dan Bagaskara memang sudah lost contact. Jangankan bertemu, saling mengabari lewat media sosial saja tidak.

Sebenarnya, sejak mengenal Bagaskara, Lea sudah mulai menyukai laki-laki itu. Satu-satunya orang yang mau bersahabat dengan Lea, sementara yang lain sama sekali tidak mau. Banyak waktu yang Lea habiskan bersama Bagaskara, hingga lama-kelamaan Lea mulai menaruh hatinya pada Bagaskara. Namun, ia masih tidak berani mengatakannya kala itu. Lea terlalu gengsi untuk mengungkapkan perasaannya, mengingat bahwa ia adalah seorang perempuan.

Namun sebelum ia menyatakan perasaannya, ia dan Bagaskara sudah lebih dulu dipisahkan oleh jarak.

Lea menatap foto kecil yang sudah usang, foto dirinya dengan Bagaskara saat SMA dulu. Lea menatap keadaan sekitar, sangat sepi. Dan juga ini sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Jadi, mana pastinya semua orang sudah terlelap dan hanyut dalam mimpi.

Lea mengangkat kedua tangannya di sekitar bibirnya"GAS! GUE KANGEN SAMA LO!" Lea berteriak dengan sangat lantang.

Lea menghela nafas, ia turun dari besi penyangga dengan wajah lega. "Semoga aja, lo denger suara gue, Gas." Lea melirih dan berharap padahal ia tahu kalau harapannya itu tidak akan terkabul.

Teriakan Lea barusan membuat Agasta terganggu, ia mengusap kedua telinganya gusar. Agasta menoleh ke arah balkon yang tertutup gorden, "Tuh cewek udah stress apa gimana sih, anjir malem-malem gini malah menggonggong." Agasta memutuskan untuk keluar dan mengecek apa yang telah di lakukan oleh Lea. Saat ia membuka gorden, ia dapat melihat dengan jelas seorang gadis yang tengah berdiri di balkon depan rumahnya. "Bener-bener lo ya cewek aneh."

Agasta keluar, ia berpegangan pada besi penyangga, "Woi, cewek aneh! Ngapain lo neriakin nama gue, hah?!"

Lea menyadari kehadiran Agasta, ia pun mensejajarkan diri dengan posisi Agasta. "Geer banget lo! Emang yang namanya 'Gas' cuma lo doang? Kan ada gas Elpiji, sama kayak lo suka ngegas!"

Agasta terkekeh meremehkan, "Udah tau banget gue modus-modus cewek kayak lo, bilang aja kalo lo minta gue notice kan?!"

Lea duduk di sofa, "Terserah deh, Kak. Gue males berdebat sama lo." Bukannya malas, Lea hanya takut kembali mati kutu saat berdebat dengan Agasta. Tahu sendiri, Agasta adalah ketua UKM DM yang sangat disegani. Lea melanjutkan membaca materinya yang sampai saat ini masih belum ia pahami.

Sementara Agasta terdiam, ia menatap buku yang dipegang Lea dengan mengernyit. "Itu buku himpunan ilmu hukum?"

Lea mengangguk, "Iya." Lea kembali berpikir, bukankah Agasta juga FK hukum? Lalu, bukankah Lea bisa menanyakan hal ini pada Agasta? Tapi tidak, Lea terlalu gengsi untuk melakukan itu.

"Gue sehari jadi mahasiswa juga udah nguasain materi itu, sementara lo? Udah hampir dua minggu jadi mahasiswa masih belum nguasain?" Agasta tertawa terbahak-bahak, meremehkan Lea di hadapannya langsung.

Jujur saja, jika Agasta bukan tetangga yang sangat disegani Mamanya, dan juga bukan ketua BEM dan ketua UKM DM, mungkin kepala Agasta sudah mengeluarkan darah karena timpukan pecahan aquarium dari Lea sekarang. Sikap annoying dan suka meremehkan orang lain yang dimiliki Agasta sangat membuatnya geram.

ReasonTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang