Pada sarapan senin pagi ini, Ghana, Erlangga dan juga Lea sudah duduk manis di meja makan. Mereka menikmati makanannya dengan sangat lahap, tak terkecuali Lea yang sudah menambah di piring kedua.
"Ma, Papa denger rumah yang di depan itu ada yang nempatin ya? Katanya juga, bujang ganteng."
Lea berdecih, ia melahap sandwich nya dengan cepat. Lea meminum susunya dan segera mengambil tasnya yang tergantung di atas kursi. "Aku berangkat, Ma, Pa, takut telat."
"Bilang aja gamau ketemu Agasta, makannya berangkat lagi banget." Sindir Ghana dengan cengiran. Kemarin sore Agasta cerita banyak tentang bagaimana ia bisa kenal dengan Lea, entah apa saja hanya Agasta, Ghana dan Tuhan yang tahu.
Erlangga mengernyit, "Agasta, siapa?"
"Ituloh, Pa. Orang yang sekarang nempatin rumahnya Bu Rani, yang di depan itu. Dia tinggal sama adiknya, namanya Rensa. Terus ya si Rensa ini satu angkatan sama Lea sementara Agasta seniornya Lea."
Lea tidak peduli, lagipula apa yang dikatakan oleh Mamanya memang benar. Ia memang ingin menjauh dari Agasta, dengan alasan apapun. Lea juga yakin, kedua orangtuanya pasti akan menggunjingkannya yang berusaha menjauh dari Agasta. Entah tau darimana.
Lea mengeluarkan motor maticnya, memanaskannya sebentar, lalu melaju membelah kota Yogyakarta pada pagi yang cerah ini dengan tenang. Menghirup udara pagi yang masih asri walaupun tidak seasri di desa namun masih terasa segar.
Ketika Lea sampai di kampusnya, tepat sekali dengan Dinda yang juga baru sampai. Gadis itu mendekati Lea dengan wajah yang panik, banyak sekali pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada Lea.
"Lele!"
Okay, Lele akan menjadi panggilan sayang dari Dinda untuk Lea. Lea membencinya, namun gadis bernama Dinda itu pasti akan terus memanggil Lea dengan sebutan Lele.
Lea meletakkan helm di kaca spion lalu merapihkan tasnya. "Ada apa sist?"
"Parah! Ini gila, sangat gila!"
"Kalem dikit bisa nggak lo? Sebel banget gue liatnya." Lea memakai tasnya lalu berjalan dengan santai. Padahal, ia belum tahu saja kalau ada ribuan jalanan terjal yang akan memacu adrenalin didepan sana.
Dinda hanya terkekeh, ia menunjukkan layar handphonenya pada Lea. "Foto lo yang di gendong sama Rensa udah kesebar, seantero kampus udah tau!"
Lea merebut handphone itu, menatap foto yang menunjukan dimana ia digendong oleh Rensa tepat di halaman rumahnya. Siapa yang mengambil foto ini? Agasta? Tapi, saat itu Agasta sedang tidak memegang handphone. Lagipula, tempat foto ini diambil tepat di gerbang rumah Lea bagian kanan. Gang kompleks rumah Lea pun tergolong sepi karena memang jarang anak kecil ataupun ibu-ibu yang bergosip di pinggir jalan. Lalu, siapa yang telah mengambil foto itu?
"Kok?" Lea sudah tidak bisa berkata-kata lagi, jadi siapa yang sudah memotret dan menyebarkannya? Masa satelit GPS, nggak mungkin.
"Dari tadi pagi banget udah rame aja bahkan pas gue lagi mandi aja hape gue udah rame banget sama notif di grup gibahin lo sama Rensa, yang nyebar akunnya juga anonymous sih. Tapi yang jelas, cewek-cewek pada marah banget sama lo. Secara, Rensa kan udah jadi pangeran kampus juga." Dinda menjelaskan. Dan memang benar, semenjak Rensa membela Lea saat diserang Wendy dan juga karena mereka semua sudah mengetahui kalau Rensa adalah adiknya Agasta, semua mahasiswi jadi menyukai Rensa. Bahkan Rensa masuk trending topik di Instagram official kampus Pelita Bangsa.
Perihal tentang siapa yang telah menyebarkan foto itu terus menjadi pikiran Lea, padahal Lea yakin sekali saat itu tidak ada siapapun selain dirinya, Mamanya yang pada saat itu sedang didalam rumah, Agasta dan Rensa.

KAMU SEDANG MEMBACA
Reason
Fiksi Remaja"Jadi, selama ini Kakak menggunakan aku sebagai alasan untuk menjauh dari Kak Wendy?" "Justru itu, gue kemakan omongan gue sendiri, Le. Sekarang, gue malah cinta beneran sama lo. Bener kata orang, cinta itu beralasan." *28/08/2020*