"Jadi, selama ini Kakak menggunakan aku sebagai alasan untuk menjauh dari Kak Wendy?"
"Justru itu, gue kemakan omongan gue sendiri, Le. Sekarang, gue malah cinta beneran sama lo. Bener kata orang, cinta itu beralasan."
*28/08/2020*
Lea meluruskan kakinya dan sedikit melakukan peregangan. Karena berdiri kurang lebih dua jam, kakinya pegal dan kram. Ia tak pernah berpikir kalau ospek seberat ini, kali begini lebih baik ia tidak kuliah saja.
Belum saja dia duduk 5 menit, seluruh Maba sudah dipanggil lagi untuk berbaris. Dan sialnya, siang ini matahari semakin menampakkan sinarnya yang begitu membuat kulit terbakar.
Dan Lea lupa membawa sunscreen.
"Sekarang udah waktunya kalian makan, semuanya bawa makanan, kan?!" Tanya Jeffrey dari atas mimbar.
"Bawa!" Sorak seluruh Maba, tak terkecuali Lea yang menjawab dengan malas dan lesu. Mengapa lama sekali?! Dia sudah sangat lapar.
"Keluarkan makanannya! Sebelum saya suruh buka, jangan dibuka!" Suruh Jeffrey sembari menatap seluruh Maba yang tengah duduk.
"Ngapain pegang sendok? Ada perang dunia?" Tanya Wendy sembari menatap Lea yang memang sedari tadi memegangi sendok. Dia begitu lapar dan haus.
Dengan cepat, Lea melempar sendoknya di atas Tupperware makanan yang dia bawa, "enggak kok, Kak."
"Nggak baca peraturan yang minggu kemarin udah senior kirim? Males baca? Lo pikir ini kampus nenek moyang lo yang dengan seenak jidat lo, hah?!" Sembur Wendy dengan menatap Lea tak suka.
Lea menghela nafas gusar, apa karena dia memegang sendok itu menjadi masalah? Masalahnya dimana!
"Tapi kak--"
"Dis! Keluar dari barisan!" Bentak Wendy sembari mengangkat tangannya. Bentakannya itu lumayan keras, membuat Maba lain mengalihkan perhatian padanya.
"Ngapain ngeliatin? Ada topeng monyet, iya?!" Tanya Wendy sembari menatap semua Maba yang juga menatapnya, membuat satu persatu Maba kembali menghadap depan karena takut.
"Sendok doang di permasalahin, gimana perasaannya yang nggak berbalas?" Celetuk salah satu mahasiswa di barisan paling belakang, membuat semuanya menoleh, termasuk Wendy.
"Siapa yang ngomong barusan?!" Teriak Wendy dengan intonasi tinggi.
"Udah sih, Wen. Cuma megang sendok doang juga," bisik Gita karena merasa tidak enak. Pasalnya ia sangat tahu kalau tidak ada peraturan tidak boleh memegang sendok, kalau ada pun, siapa orang aneh yang sudah membuat peraturan itu?