Angin berhembus dengan kencang, Lea duduk di balkon kamarnya dan menatap kamar Agasta yang berada tepat di depan kamarnya. Seperti biasanya, cahaya hanya terlihat remang-remang saja dari dalam sana. Sementara Lea tidak tahu dimana Agasta berada, sungguh ia takut jika Agasta benar-benar bunuh diri karena penyakitnya itu. Lea bukan anak kedokteran, tapi ia tahu sedikit mengenai penyakit itu.
"Masalah mereka berdua emang sulit." Lea bergumam hingga akhirnya sebuah teriakan terdengar dari rumah Agasta dan Rensa.
"ARGHHHHHSSSS!" Suara yang terdengar jelas sekali dari kamar Agasta.
Lea pun merinding mendengar suara Agasta yang begitu keras. Kedua orangtuanya belum pulang, sepertinya besok pagi akan pulang. Ia ingin ke rumah Agasta dan Rensa, tapi ia terlalu takut. Ia takut jika ia datang ke sana yang ada malah membuat kekacauan saja.
"Gue kesana nggak ya? Kasian juga ngeliat dia teriak-teriak gitu, tapi kalo gue kesana--"
"Kesana deh." Lea memutuskan untuk berlari keluar dari rumahnya, lampu ia nyalakan semua agar tidak takut lalu dengan ragu ia menginjakkan kaki di halaman rumah Agasta. "Kalo gue ketuk dari depan, Kak Agasta nggak akan mungkin bisa bukain, Rensa juga kayaknya ogah banget. Jadi, gue manjat nih?" monolognya sembari menatap pohon mangga yang setinggi kamar Agasta. Tanpa pikir panjang lagi, Lea segera naik ke dahan pohon yang untungnya mudah untuk ia gapai, ketika Lea sudah sampai di atas, ia dapat melihat dengan jelas bagaimana keadaan balkon kamar Agasta. Lampu remang-remang dari dalam sana sangat sendu, teriakan Agasta pun sudah menghilang dan di gantikan oleh lenguhan kecil dari Agasta. Sebenarnya Lea bukannya ingin ikut mencampuri urusan Agasta, hanya saja ia khawatir.
Dengan satu kali lompatan, Lea sampai di balkon kamar Agasta. Namun saat sudah sampai di sini, Lea malah ragu untuk masuk. "Gimana kalo Kak Agasta ngamuk terus gue yang di cobak-cabik? Aduh Le, dia bukan serigala please deh." Tanpa pikir panjang lagi, Lea meletakkan punggung jarinya di pintu kayu itu.
Tok... Tok... Tok...
Lea mengetuk jendela kamar itu, namun setelah menunggu beberapa saat ia tak kunjung mendapatkan balasan. Lea malah mendengar suara seseorang yang tengah menangis tersedu-sedu, tangisan yang mendalam. Tangisan yang menyimpan banyak kisah kelam.
Lea mengernyit, ia melirik dari sela-sela jendela yang gordennya sedikit terbuka. Ia menatap Agasta yang tengah duduk di atas ranjang dengan memeluk lutut. Lea juga dapat melihat getaran tubuh Agasta, laki-laki itu sedang tidak baik-baik saja. Tanpa pikir panjang, Serena membuka jendela yang kebetulan tidak terkunci itu. Ia menutup lagi jendela ketika sudah sampai di dalam, ia berdiri di dekat gorden dengan menatap Agasta yang saat ini masih belum menyadari keberadaannya. Saat melihat tubuh lemah Agasta, Lea tidak sanggup.
Dengan langkah kecil, Lea datang ke arah Agasta. Sampai akhirnya netra keduanya bertemu, saling tatap dalam.
"Kak..."
Tidak menjawab, Agasta memalingkan wajahnya. Ia merasa malu ketika Lea datang dan memergokinya tengah berteriak layaknya orang gila. "Lo udah liat semuanya. Sekarang, terserah lo mau nyebar kelemahan gue juga."
Lea tertegun, ia meraba kasur milik Agasta untuk ia duduki. Menatap wajah Agasta dari samping, Lea merasa salah karena telah masuk tanpa izin ke dalam kamar Agasta. "Gue, lo, Dinda, Rensa, Kak Wendy, bahkan kita semua pasti punya kelemahan, Kak. Jadi buat apa gue nyebar kelemahan lo di saat gue sendiri punya kelemahan? Gue bukan Tuhan yang maha sempurna, Kak. Lagian, kelemahan seseorang itu bukan lelucon."
Tubuh Agasta bergetar hebat, apalagi di saat mendengar Lea mengatakan itu. Rasanya, ia salah menganggap Lea bermulut ember bocor. Jika saja di sampingnya sekarang adalah anak-anak BEM, pasti mereka sudah menyebarluaskan kelemahannya. Terkecuali, Jeffrey, Yuda yang memang sahabat sejatinya yang bahkan kedua sahabatnya itu sudah mengetahui seluk-beluk kehidupan Agasta. "Pergi."

KAMU SEDANG MEMBACA
Reason
Fiksi Remaja"Jadi, selama ini Kakak menggunakan aku sebagai alasan untuk menjauh dari Kak Wendy?" "Justru itu, gue kemakan omongan gue sendiri, Le. Sekarang, gue malah cinta beneran sama lo. Bener kata orang, cinta itu beralasan." *28/08/2020*