28 - Bad Side

4 1 0
                                    

Sore di kota Yogyakarta, Lea duduk sembari membaca-baca materi dari Bu Novri. Presentasi nya gagal dan harus di ulang kembali. Lea sama sekali tidak tahu apa yang Bu Novri mau sampai-sampai ia harus mengulang semua mata kuliahnya. Padahal, Lea sudah melakukannya dengan sangat baik.

Lea menggaruk kepalanya, "Bu Novri ada masalah apa sih sama gue? Apa jangan-jangan Bu Novri juga kesel karena gue deket sama Kak Agasta? Oh! Atau jangan-jangan Bu Novri ngangkat Kak Agasta jadi asistennya karena suka sama Kak Agasta dan pengen jadiin Kak Agasta sebagai suami keduanya?" Monolog Lea. Gadis itu tertawa dengan pikirannya sendiri. "Emang ganteng sih, tapi nggak sampe bucin 24/7 gitu juga kali. Posesif banget tau nggak."

Menghela nafas, "Kalo bener begitu, yang ada gue sampe 7 tahun kuliah. Dan semua masalah ini berasal dari Kak Agasta, kenapa gue harus di pertemukan sama Kak Agasta sih? Kenapa nggak sama Chimon Wachirawit aja gitu?"

Sedang sibuk dengan pikirannya, tiba-tiba saja fokus Lea teralih karena Rensa yang keluar dari rumahnya. Laki-laki itu mengenakan kaos putih dan kemeja hitam yang tidak di kancing kan, dan as always, rambut yang selalu berantakan.

"Ren! Lo mau kemana?" Lea berdiri dengan berpegangan pada besi penyangga, ia menatap laki-laki yang juga menatapnya itu.

"Bukan urusan lo." Rensa melajukan motornya tanpa menghiraukan Lea, namun tak sengaja ia menjatuhkan sesuatu dari saku celananya.

Lea yang melihat sebuah kertas jatuh dari saku celana Rensa langsung masuk ke kamarnya dan turun dengan cepat. Lea mengambil kertas yang tak sengaja jatuh dari saku celana Rensa, namun saat Lea hendak memanggil Rensa untuk memberitahunya kalau sesuatu milik laki-laki itu jatuh, Rensa malah sudah tidak ada. "Cepet banget dah hilangnya."

"Kalo gue buka, dia bakalan marah nggak ya? Tapi kalo nggak gue buka, gue penasaran."

Berpikir berkali-kali, Lea memutuskan untuk membuka kertas itu. Kertas tipis yang sepertinya print foto, namun Lea juga tidak tahu gambar apa. Saat menatap foto itu, bibirnya membulat sempurna. "J-jadi Rensa?"

"Oh my God! Kenapa Rensa bisa ngelakuin ini?" Lea benar-benar terkejut saat menatap kertas itu, tak sengaja ia menjatuhkannya kembali. "Rensa booking wanita malam?"

***

Sebisa mungkin Lea akan menjauhkan diri dari Rensa. Bukan karena apa, Lea hanya takut dengan laki-laki itu. Rensa pernah membooking wanita malam, itu berarti Rensa adalah laki-laki berbahaya. Bagaimana kalau nanti Lea yang malah menjadi mangsanya? Tidak, tidak akan pernah terjadi. Saat Rensa memanggil Lea pun, Lea makin mempercepat langkahnya untuk segera menjauh dari Rensa. Namun gagal, tangannya sudah lebih dulu di cekal oleh Rensa.

"Lo kenapa lari sih, emang gue kayak setan apa?"

Lea memejamkan matanya takut, tangannya sudah gemetar dan keringat dingin juga mulai mengalir di pelipisnya. "Lepasin."

Saat Lea hendak menarik tangannya dari cekalan Rensa, Rensa malah makin menarik tangan Lea dan mendorongnya sampai dinding. Rensa menatap wajah Lea dengan jarak dekat, membuat gadis itu semakin memejamkan matanya takut. "Lo... Takut sama gue?"

Lea menelan salivanya dengan payah, "Gue-- menjauh lo!" Lea mendorong tubuh Rensa sampai menjauh. Jujur saja, bukan hanya rasa takut yang Lea rasakan, namun jantungnya juga berdetak lebih cepat dari biasanya.

"Gue cuma mau ngasih ini, notebook lo tadi ketinggalan di atas motor." Rensa menyerahkan sebuah notebook bergambar pentol ke arah Lea.

Lea mengambil notebook nya paksa, "M-makasih btw." Sungguh, Lea merasa sangat takut ketika mengetahui bahwa Rensa pernah memesan wanita malam, apalagi setelah melihat secara jelas Rensa yang tengah menatapnya seperti tadi, itu sangat menyeramkan.

Tapi, bagaimana cara Lea untuk mengecek handphone Rensa kalau begini caranya? Yang ada, ia tidak akan pernah mengetahui siapa orang di balik anonymous account itu. "Gue duluan ya, ada kelas nih."

Setelah jauh dari Rensa, barulah Lea bernafas lega. Lea kembali menatap kertas yang kemarin ia temukan, bagaimana jika Lea menanyakan hal ini saja pada Rensa? Tapi, takutnya Rensa bakalan mengira ia mengetahui semuanya, tapi kalau tidak di berikan, ia juga mati penasaran apakah Rensa benar-benar sudah pernah menyewa wanita malam atau belum.

"Ah, sabodo deh! Mending gue ke kelas sebelum Bu Novri ngomel."

Lea duduk dengan menompang sikunya, menatap Bu Novri yang tengah mengomel di depan kelas. Lagi dan lagi ia harus mengulang di minggu depan, kalau seperti ini jadinya Lea menjadi semakin yakin kalo Bu Novri kesal karena Lea dekat dengan Agasta. Tapi anehnya, mengapa Bu Novri malah menyuruhnya untuk bimbingan dengan Agasta?

"Minggu depan UTS ya, soalnya pilihan ganda." Bu Novri membereskan buku-bukunya dan keluar dari kelas ketika jam kelasnya sudah habis.

Mahasiswa-mahasiswi pun bernafas lega ketika Bu Novri keluar, siapa yang tidak takut dengan dosen killer dan suka memberi nilai E itu? Tidak ada, kecuali pada Agasta. Bu Novri akan bersikap manis dan rendah hati jika berbicara dengan Agasta. Menyebalkan.

"Le, lo kudu pake outfit warna ijo kali, Le. Soalnya nih ya, pas gue, Desi, Bagas, ah semuanya deh ya pas presentasi pake baju ijo. Menurut informasi yang gue denger, Bu Novri tuh suka sama warna ijo pas Kak Agasta presentasi pake baju ijo. Jadi... Bu Novri bakalan ngulang terus mahasiswa yang kalo presentasi nggak pake baju selain warna ijo." Dinda menjelaskan dengan sangat detail, ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya bingung dengan kelakuan dosennya ini.

"Hah? Jadi Bu Novri suka sama Kak Agasta?" tanya Lea memastikan, kalau iya, dugaannya memang benar. Padahal, Bu Novri sudah memiliki suami dan tiga anak yang juga sudah menjadi mahasiswa, tapi bisa-bisanya dosennya itu menyukai mahasiswa yang sekarang menjabat sebagai asistennya.

"Of course, gue denger-denger sih begitu." Dinda menyesap minuman isotonik nya, ia pun memasukkan botolnya ke dalam tas. "Gue pulang duluan ya, selamat mengulang Leya!" Dinda menepuk bahu Lea beberapa kali sembari tertawa lalu keluar dari kelas.

Sementara Lea, gadis itu masih tak menyangka. "Udah bau tanah, masih aja suka berondong. Ups."

Lea berjalan dengan memeluk notebook nya, Papanya tidak menjemput, jadi Lea memutuskan untuk berjalan kaki saja, lagipula masih jam 3 sore karena berjalan kaki di sore hari sangatlah menyenangkan, masih banyak waktu untuk sampai rumah sebelum malam tiba. Saat sudah lumayan jauh dari kampus, Lea menatap Rensa yang tengah duduk di outdoor kafe bersama Laura.

"Wait! Itu si Laura di bawa sama Rensa?" Monolog Lea sembari mengendap ke trotoar dan bersembunyi di balik pohon besar, ia menatap keduanya dengan tatapan ingin tahu.

Di sana, Rensa dan Laura yang tengah menikmati coffee nya, namun anehnya wajah Rensa terlihat datar, ah tidak, wajah Rensa memang selalu datar dimanapun, kapanpun dan dengan siapapun.

"Gue kira Rensa tuh tipe cowok yang cool, keren dengan segala pesonanya. Tapi ternyata enggak, setelah gue tau bukti kalo Rensa udah pernah booking cewek malam, gue jadi gamau lagi berteman sama dia, demi apapun itu serem banget sih padahal dia masih mahasiswa." Lea mengendap-endap agar tidak terlihat oleh Laura apalagi Rensa. Namun tidak dengan ekspektasi, Rensa malah memanggilnya untuk mendekat.

"Lea! Sini!"

Mampus gue. Batin Lea

Lea terlihat gugup dan langkahnya pun terhenti, ia memejamkan matanya sembari perlahan menoleh ke arah Rensa. Namun bukannya Rensa, Lea malah melihat wajah Agasta yang juga menatapnya dengan sedikit memiringkan kepalanya. "Astaga!"

"Lo pikir gue setan?"

"Ng, anu, nggak Kak." Lea gugup sendiri ketika menatap Agasta, di belakangnya sejauh 50 meter di sana ada Rensa yang berdiri menatap Lea. Lea sedikit menundukkan kepalanya agar Rensa tidak melihatnya, "Kak, nebeng ya?"

***

ReasonTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang