"ARGHHHHHSSSS!!"
"AGASTAAAAAAAAA! BENER-BENER YA LO SETAN!"
Lea melempar bantalnya ke lantai, lalu memukuli kasur dengan sekuat tenaga. Padahal Lea tahu, kasurnya tidak akan berubah sedikitpun. Kasurnya tidak akan berteriak sakit, meminta ampunan dan meringis, sama sekali tidak. Tapi, laki-laki bernama Agasta Hansel Bimasatya memang sudah membuat jantungnya nyaris copot.
Suara berat milik Agasta terus saja berputar layaknya playlist di Spotify. Lea muak, dan sedikit merinding.
Agastahanss
| Kan udah gue bilang.
| Kalo ada yang ngancem lo.
| Bilang gue.
| Lo bego banget.Lea hampir saja melempar handphonenya jika saja ia tidak sayang dengan handphonenya. Mengapa Agasta terus saja mengganggu hidupnya? Apakah dia tidak ada urusan lain selain mengganggunya? Apakah mengganggunya akan membuat dia hidup kekal abadi?
Paansi. |
| Lo di ancem Wendy kan.
| Bilang gue, bego!
| Sumpah, lo bego banget.
| You're stupid!Kak, plis lah ya masalah lo sama gue tuh apa?! |
Belum cukup lo bikin hidup gue ga tenang?! || Hei hei hei!
| Tuh congor enak banget kalo ngebacot
| Lo duluan yang masuk ke hidup gue.
| Dan seenaknya lo nyalahin gue?
| Bagus banget akting loGue capek, pgn tidur. |
| Kalo lain kali gue tau lo di ancem Wendy, gue bakalan sebar kalo kita beneran pacaran.
Agastahanss blocked you.
"ANJIM!"
"KENAPA LO HARUS HADIR DI HIDUP GUE, BAJINGAN?!"
"ARGHSS!"
Lea kalap, ia melempar handphonenya sampai menggelinding ke lantai. Lantas, gadis berambut cokelat itu bangkit dan memungut kembali handphonenya dan merabanya siapa tau ada yang rusak. "Untung ngga pecah, ini semua gara-gara Agasta! Fix gue kudu pindah."
***
Hari minggu yang membosankan, Lea disuruh oleh sang Mama untuk membeli ayam goreng kesukaan Mamanya yang berada di depan gang rumahnya. Kalau saja toko ayam goreng itu menghubungkan ke gofood, Lea lebih baik memesan lewat gofood saja daripada harus berjalan kaki seperti ini. Namun saat berjalan beberapa langkah dari rumahnya, Lea terkejut saat mendapati Agasta dengan motor sportnya yang tiba-tiba saja ada di gang kompleks rumahnya. Lantas, gadis itu berlari ke balik pohon besar untuk bersembunyi.
"Tuh tukang marah ngapain di gang rumah gue? Apa dia mau ke rumah gue? Tapi, kayaknya gak mungkin! Eh kok dia berhenti di rumah kosong depan rumah gue?!" Lea mengintip Agasta yang memarkirkan motornya di rumah kosong yang sudah lama tak berpenghuni. Karena pemiliknya yang berada di luar kota, maka dari itulah rumah itu dibiarkan kosong. Padahal, kalau saja rumah itu di kontrakan, pasti ada yang mau.
"Lah? Masuk?" Lea berjalan mengendap, menatap rumah itu dengan ragu. Ia juga bingung, mengapa Agasta masuk ke sana. "Jangan-jangan dia pengen ngadi-ngadi di dalem sana?"
Lea berdiri di dekat motor Agasta, mengusap jok motor yang pernah ia duduki beberapa waktu lalu. Kalau menurut cerita yang beredar, Agasta tidak pernah mengizinkan siapapun untuk duduk dimotornya bahkan saat berpacaran dengan Wendy saja, Wendy diboncengi Agasta bisa dihitung dengan jari saja.

KAMU SEDANG MEMBACA
Reason
Tienerfictie"Jadi, selama ini Kakak menggunakan aku sebagai alasan untuk menjauh dari Kak Wendy?" "Justru itu, gue kemakan omongan gue sendiri, Le. Sekarang, gue malah cinta beneran sama lo. Bener kata orang, cinta itu beralasan." *28/08/2020*