13

1.7K 138 3
                                        

Doa dulu...

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Sakura sedang duduk di bar bersama dengan Yena, lalu mengernyit.

"Menurutmu apakah bos kita itu sudah main hati?"

Yena menyesap minumannya, "Apa maksudmu?"

"Gadis kecil itu, Minju"

Hening sejenak dan Yena menyesap minumannya lagi.

"Menurutku Yujin sudah gila", gumamnya dengan nada tidak setuju.

"Dia sudah bertindak di luar kehati-hatiannya yang biasa menyangkut gadis itu."

Sakura menolehkan kepalanya ke Yena dengan penuh rasa ingin tahu.

"Sebenarnya aku sangat penasaran dengan hubungan mereka, menurutku Yujin menyimpan perasaan yang dalam...."

"Ralat, nafsu yang dalam", sela Yena.

"Yujin sudah merasakan nafsu yang dalam ketika melihat gadis itu pertama kalinya dan menginginkannya. Dan gadis itu, Minju, dia memanfaatkan itu dengan menjual dirinya kepada Yujin", gumamnya jijik.

Sakura mengernyit lagi, "Minju tidak kelihatan seperti gadis yang sengaja menjual dirinya"

"Dia menjual dirinya seharga tiga ratus juta. Aku sendiri yang membuatkan kontrak perjanjian jual beli yang konyol itu, setelah itu Yujin masih membelikan apartemen untuk tempat dia tinggal, dan bahkan berencana melunasi hutang gadis itu yang hampir 40 juta di perusahaan, aku sudah menasehatinya kalau dia mulai berlebihan, tapi Yujin tidak peduli", gumam  Yena frustasi.

Sakura merenung dengan serius.

Tiga ratus juta?

Itu uang yang tidak sedikit untuk perempuan seumuran Minju. Dan gadis itu juga berhutang 40 juta di perusahaan, sungguh pengeluaran fantastis untuk gadis dengan penampilan sederhana seperti Minju.

"Menurutmu untuk apa uang itu? Kalau untuk bermewah-mewah sepertinya tidak mungkin, gadis itu tinggal di tempat kost sederhana, pakaian dan barang-barangnya tidak ada yang bermerk, dia juga selalu naik kendaraan umum ke kantor", gumam Sakura pelan.

Yena menoleh dan mengangkat alisnya, "Untuk seorang dokter perusahaan, tampaknya kau tahu banyak"

Sakura tertawa pelan, "Tentu saja, aku banyak berhubungan dengan karyawan kau tahu. Yena, tampaknya kau tidak boleh terlalu berprasangka dulu pada Minju", Sakura berubah serius.

"Yujin bukan orang bodoh, dia tidak akan membiarkan dirinya dimanfaatkan, kecuali dia melakukannya dengan sukarela"

"Dia mabuk kepayang, lelaki yang mabuk kepayang tidak akan menggunakan akal sehatnya, dan kalau hal itu mulai keterlaluan, aku sendiri yang akan memperingatkan Minju", gumam Yena dengan penuh tekat.

Sakura diam saja, memahami betapa dalamnya rasa persahabatan antara Yena dan Yujin, dan betapa Yena sangat ingin menjaga sahabatnya itu.

Tetapi ada sesuatu yang mengganggu pikirannya, sesuatu tentang Minju, gadis itu terasa familiar tetapi Sakura tidak bisa mengingatnya, kapan? Dimana?

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Minju mulai sembuh, meskipun dia belum bekerja, Yujin tidak mengijinkannya.

Laki-laki itu bersikeras bahwa Minju belum boleh bekerja, dan dia memerintahkan dokter Sakura menghubungi langsung atasan Minju sehingga tidak masuknya Minju selama empat hari ini tidak akan menjadi masalah.

Romantic Story About JinjooCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang