Chapter 10

2.3K 293 12
                                        

~Happy Reading~

Saat di mobil, Jihan masih syok dengan kehadiran papanya yang sangat tiba tiba disekolah. Bagaimana tidak? Dalam Sejarah, papanya itu tidak pernah hadir ke sekolah sekedar menjemput seperti sekarang atau bahkan mengambil rapot anak anaknya. Kalau bukan mamahnya, pasti di wakilkan oleh mbak nya.

"Kamu gak kaget papa jemput kesekolah? Bahkan papa Sampai bela belain ke kelas kamu loh"

Sungguh. Perubahan papanya yang menjadi begitu lembut, membuat Jihan merasa ada sesuatu yang disembunyikan. Tidak ingin berfikir negatif tentang sikap papanya, Ia memilih untuk mencari tau lebih dulu.

"Papa kenapa tumben jemput Jihan? Biasanya juga kan, Jihan pulang bareng Jayden"

Bramantyo menatap ke arah jalanan lalu bergantian dengan melihat ke arah Jihan dengan senyuman yang sedari tadi tidak pernah luntur diwajahnya.

"Papa tadi kebetulan lewat sekolah kamu, dan hari ini Jayden latihan basket kan? Jadi papa punya inisiatif buat jemput dan sekalian ngajak kamu makan malam diluar. Sudah lama kita gak menghabiskan waktu bersama"

Apa maksud kata kata papanya? Jihan benar benar tidak faham mengapa sikap Bramantyo tiba tiba berubah sehangat ini padanya.

"Jihan mau makan malam dirumah aja pah. Kasian mbak Iren, pasti uda masak banyak buat kita" Ucap Jihan menolak halus permintaan papanya.

"Gak usah khawatir, papa udah suruh Iren buat gak masak di rumah. Makan malam ini makan malam keluarga, Jadi dia, Nathan, dan juga Jayden akan ikut bersama kita. Mereka akan menyusul nanti"

Lagi lagi Bramantyo membuat Jihan kaget dengan perkataannya, "Se mendadak ini?"

Sang papa menganggukan kepalanya membenarkan ucapan Jihan, "Iya, papa ingin memanfaatkan waktu sebaik mungkin dengan kalian"

"Termasuk mamah kan pah?"

'CITTT.....'

Rem mendadak yang dilakukan sang papa hampir membuat Jihan terbentur dashboard di depannya.

Bramantyo mengarahkan pandangannya pada sang putri, Lalu berucap penuh penekanan,"Hanya ada papa, kamu, Nathan, Irena dan juga Jayden!! Apa itu masih kurang jelas?!"

"Mama juga bagian dari keluarga kita pah..."

"Kamu mulai membantah papa? Lagi pula mamah mu itu sibuk dengan pekerjaan nya. Dia gak pernah ada waktu untuk orang rumah, jadi selama papa bisa melakukannya untuk kalian. Tidak perlu berkomentar!!"

Ucapan papanya tidak benar, tapi tidak juga salah. Yang Jihan inginkan hanya satu, Orangtuanya saling terbuka dan memahami satu sama lain. Apa begitu Susah untuk sekedar memahami?
Jika papanya bilang mamanya terlalu sibuk dengan pekerjaan, bagaimana dengan sang papa? Bahkan mereka tidak jauh berbeda.

Dalam diam Jihan meneteskan air mata, mengarahkan pandangan pada jendela mobil disamping nya. Bukan keluarga seperti ini yang ia inginkan, Apa salah kalau dia mengharapkan keluarga yang lengkap dan harmonis?

STORY WITH MANTAN {END}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang