~Happy Reading~
"Gue tanya ke lo Ga, Jawab!! Kenapa Cewe itu bisa disini?!!"
Rahang Juna mengeras, laki laki itu berdiri sendiri didepan pintu dengan tangan yang masih menggenggam erat knop pintu. Dia sangat terkejut saat melihat Jihan yang tiba tiba ada diruang rawat Rani. Semua berawal saat ia melupakan kunci mobil yang ia tinggalkan di sofa, mau tidak mau ia kembali ke dalam rumah sakit dan menyuruh Titan agar menunggu nya diparkiran.
Yoga masih mencari kalimat tepat untuk menjawab pertanyaan Juna, ia hanya diam dengan raut bingung. Yoga tidak ingin salah berbicara, Juna dan Titan tidak berbeda jauh dalam melampiaskan emosi. Bukan karena ia ingin melindungi diri nya dari kemarahan Juna, yang menjadi ketakutan nya yaitu gadis yang tengah berdiri di samping ranjang Rani dengan wajah pucat. Jihan pasti ketakutan sekarang, Yoga harus segera mencari cara agar Juna tidak dikuasai oleh emosi.
"Lo kenapa udah balik? Titan mana?" Tanya Yoga mengalihkan.
"Gausah balik nanya Ga! Lo jawab pertanyaan gue dulu, kenapa cewek itu bisa ada disini?!" Nada suara Juna meninggi, bahkan dia lupa jika diruangan itu ada seorang wanita paruh baya yang tengah berbaring butuh ketenangan.
Yoga menghampiri Juna, dengan sesekali melihat ke arah Jihan yang berdiri dibelakang dirinya. "Tenang dulu Jun. Jihan kesini cuma mau jenguk tante Rani, apa salah?"
"Jelas salah!! Lo tau kan gimana akhirnya, kalau Titan sampe tau hal ini?!"
Jihan tertegun, matanya melotot kaget ke arah Juna. Gadis itu menggelengkan kepalanya cepat kemudian berjalan ke arah Juna dan memegang tangan lelaki itu dengan tatapan memohon.
"Gak Jun, Jangan sampai Titan tau soal ini, Gue mohon..."
'Dugh'
Tangan Jihan dihempas kasar oleh Juna hingga membentur pintu disamping nya. Gadis itu meringis, menahan sakit, Sudah dua kali Juna membuat tangannya terluka, jika tidak dalam keadaan seperti sekarang, mungkin Jihan berniat membalas laki laki arrogant ini.
Suasana yang semakin tidak terkendali membuat Yoga memutuskan untuk kembali membuka suara. Dia membawa Jihan ke belakang tubuhnya, waspada jika Juna kembali bertindak kasar.
"Gausah kasar sama dia. Tante Rani juga bakal terganggu sama suara lo, kita bisa bicarain ini baik baik kan?"
Bukannya menjawab pertanyaan Yoga, Juna malah menyingkirkan laki laki itu kasar, lalu menarik pergelangan tangan Jihan untuk mengikuti nya keluar ruangan. Melihat hal itu Yoga bergegas mengikuti keduanya.
"APA LAGI RENCANA LICIK DARI LO, UNTUK NGEHANCURIN TITAN?!JAWAB!!"
Bentakan Juna memenuhi lorong sepi rumah sakit. Jico yang tadinya masih tertidur pun kini membuka matanya perlahan, merasa terganggu dengan suara sahabatnya. Laki laki itu mengedipkan matanya berulang kali, mencoba untuk memastikan bahwa yang ia lihat bukan lah mimpi. Jihan, Juna, dan Yoga? Ada apa ini, pikirnya.
"Juna tenangin diri lo, ini rumah sakit!!" Peringat Yoga yang kini mulai ikut emosi.
Juna menatap marah pada Yoga dengan tatapan penuh emosi, "Diem lo!! Entah itu lo yang terlalu baik, atau memang cewek ini yang terlalu licik? Bisa bisanya lo bawa dia buat ketemu tante Rani!!"
Jico terkejut, apa dia tidak salah dengar kalau Yoga yang membawa Jihan ke sini? Jika memang iya apa yang membuat sahabatnya senekat itu membawa cewek itu untuk bertemu Rani.
KAMU SEDANG MEMBACA
STORY WITH MANTAN {END}
Fanfiction"Perpisahan kita menyakitkan Han, Ketika cerita belum usai tapi lo uda nutup kisahnya." ~Titan "Gue sama lo hanya perlu jeda untuk gak lagi merasakan luka tan." ~Jihan
