Chapter 27

2.4K 294 179
                                        

~Happy Reading~


Angin malam berhembus perlahan membuat sebagian helaian rambut Jihan menutupi wajahnya. Dimana mata gadis itu masih tetap terfokus melihat banyak orang yang tengah berlalu lalang sambil bercanda dan tertawa bersama keluarga, kekasih atau mungkin sahabat mereka.

Senyum tipis karena merasa miris terlukis menghiasi wajah gadis berambut panjang hitam itu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Senyum tipis karena merasa miris terlukis menghiasi wajah gadis berambut panjang hitam itu. Jihan akui rasa iri melihat kebahagiaan mereka tidak bisa ia elak sekarang ini, dan bodohnya dia masih saja tetap mau menatap ke arah hal menyakitkan didepannya.

Dalam hati Jihan bertanya-tanya. Kapan dia bisa merasakan apa yang sekarang orang-orang itu tengah rasakan? Niat hati ingin menenangkan diri di taman ini, malah berakhir menambah sakit di hati. Pergerakan kursi taman yang Jihan duduki membuat dia melirik kesamping.

"Orang yang dateng ke taman ini tuh rata-rata sama pacar, keluarga, dan sahabatnya. Lo gak malu dateng sendiri?" Tanya Titan yang Jihan artikan sebagai sebuah sindiran.

Lelaki itu bertanya dengan pandangan lurus kedepan, tanpa mau menatap Jihan si lawan bicara yang kini memilih ikut kembali menolehkan pandangannya menatap orang-orang di depannya.

"Siapa bilang gue sendiri. Sekarang kan ada lo, pacar pura-pura gue" Jawab Jihan di ikuti dengan kekehan kecil."Ngomong-ngomong kenapa lo bisa disini? Ngikutin gue ya?" Ucapnya balik bertanya.

"Jangan kepedean! Gue tadi lewat sini buat cari minuman dan gak sengaja liat lo" Tekan Titan.

Jihan mencebikan bibirnya kesal. "Alesan, memangnya lo kira nih taman luasnya ukuran satu kali dua sampe lo bisa liat gue ada disini"

Malas berdebat, Titan lebih memilih diam tidak membalas ucapan Jihan yang dia tahu bahwa gadis itu sedang kesal dengannya.

"Mamah minta lo kerumah. Gue udah coba nelfon lo tadi, tapi nggak diangkat"

Jihan menoleh ke arah Titan lalu mulai mengecek saku sweater yang ia kenakan coba mencari ponselnya. Jihan menepuk jidatnya pelan saat mengingat sesuatu. Dia melupakan ponselnya yang tadi ia letakan di atas nakas kamar sebelum pergi mandi. "Ponsel gue dirumah."

Titan bangkit dari duduknya, membuat Jihan mendongak."Yaudah kalau gitu ikut gue sekarang. Kita nemuin mamah di rumah"

Gadis itu mengangguk kemudian ikut  bangkit dari duduknya dan berjalan dengan malas mengikuti Titan menuju mobil lelaki itu. Jihan mulai merasa lelah dengan Titan yang masih seperti biasa, bersikap dingin jika dengan dirinya. Badan merasa lelah dan meminta untuk mundur saja, tapi hatinya bersih keras untuk tetap berjuang. Jihan benci jika hati dan fisiknya sudah tidak sejalan seperti ini.

STORY WITH MANTAN {END}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang